Antisipasi Baby Boom

Oleh dr. Vidya Ananda



Pandemi Covid-19 telah membuat kebiasaan dan tata hidup baru seperti quarantine day dan work from home. Hal tersebut membuat kita dan keluarga menjadi lebih dekat. Hubungan antarpasangan menjadi semakin erat. Waktu dan interaksi yang lebih intens bersama pasangan memungkinkan mereka untuk melakukan hubungan seksual yang lebih sering dan berpotensi memunculkan kehamilan. Kehamilan yang terjadi pada banyak pasangan dapat mengakibatkan munculnya baby boom. Apa itu? Baby boom adalah lonjakan angka kelahiran bayi dalam waktu yang berdekatan.


Bila ditilik lebih lanjut, adanya penurunan peserta keluarga berencana (KB) pada Maret 2020 dibanding bulan sebelumnya juga berperan menimbulkan baby boom. Pasangan usia subur atau pengguna KB mungkin khawatir untuk datang ke fasilitas kesehatan. Di sisi lain, masih banyak fasilitas kesehatan yang kekurangan Alat Pelindung Diri sehingga merekomendasikan untuk menunda kontrol atau berobat ke fasilitas kesehatan jika bukan karena keadaan yang bersifat mendesak. Inilah yang bisa menimbulkan risiko putus-pakai pemakaian kontrasepsi yang berdampak pada kehamilan tidak direncanakan.


Menurut UNICEF, secara global, ada sekitar 116 juta bayi yang akan lahir berdekatan dengan pandemi Covid-19 dan hampir seperempatnya atau sekitar 29 juta bayi akan lahir di Asia Selatan. Bayi-bayi ini diproyeksikan dilahirkan hingga 40 minggu setelah pandemi Covid-19. Negara-negara di Asia Selatan dengan perkiraan jumlah kelahiran tertinggi dalam sembilan bulan sejak deklarasi pandemi Covid-19 adalah: India (20 juta), Pakistan (5 juta), Bangladesh (2,4 juta) dan Afghanistan (1 juta). Bagaimana dengan Indonesia? Diperkirakan 13.020 bayi akan lahir pada 2020, menduduki peringkat 5 perkiraan kelahiran terbanyak, belum lagi ditambah keadaan baby boom ini.


Hal ini tentu menjadi salah satu perhatian tenaga medis dan memunculkan kekhawatiran terhadap kesehatan ibu dan bayinya. Bagaimana tidak? UNICEF telah memperingatkan bahwa penanganan pandemi Covid-19 dapat mengganggu layanan kesehatan yang menyelamatkan jiwa seperti tindakan persalinan dan kurangnya tenaga persalinan yang terampil karena petugas kesehatan, termasuk bidan, dipekerjakan untuk merawat pasien Covid-19. Selain itu, pada situasi ini, banyak pembatasan hampir di semua layanan rutin termasuk pelayanan kesehatan ibu dan bayi. Ibu hamil bisa saja menjadi enggan ke puskesmas atau fasilitas pelayanan kesehatan lainnya karena takut tertular.


Di sisi lain, ibu hamil harus mematuhi aturan kapan harus memeriksakan kandungannya ke fasilitas kesehatan seperti pada saat pertama kali periksa kehamilan untuk mencari faktor risiko dan tanda bahaya dan pada trimester ketiga, yaitu satu bulan sebelum hari perkiraan lahir. Adanya anjuran menunda pemeriksaan kehamilan dan kelas ibu hamil, menuntut ibu hamil dan suaminya harus aktif mencari informasi seputar kehamilan dan kelas ibu hamil secara daring. Adanya ketidaksiapan layanan dari segi tenaga dan sarana prasarana termasuk Alat Pelindung Diri membuat ibu hamil dan suaminya harus lebih merencanakan kehamilan dan persalinan yang akan dijalani.


Meskipun ibu hamil tidak begitu terpengaruh oleh Covid-19 daripada populasi rentan yang lain, ibu hamil memiliki risiko yang lebih tinggi ketika terinfeksi virus yang mirip dengan Covid-19 atau virus pernapasan lainnya seperti influenza. Ibu hamil juga memiliki perubahan dalam tubuh mereka yang dapat meningkatkan risiko beberapa infeksi. Penularan Covid-19 dari ibu-ke-bayi selama kehamilan mungkin belum terjadi, namun setelah lahir, bayi dapat terinfeksi setelah kontak dekat dengan orang yang terinfeksi, termasuk ibu bayi atau pengasuhnya.


Negara perlu memastikan mereka masih memiliki akses ke pelayanan kehamilan dan persalinan. Bayi baru lahir yang sakit membutuhkan layanan darurat. Ibu hamil beserta keluarganya perlu pelayanan kesehatan untuk memastikan kesehatan dan kesejahteraan ibu, dukungan menyusui, dan akses obat-obatan. Para orang tua harus harus mencukupi kebutuhan imunisasi pada anak-anaknya agar mereka tetap sehat. Jika hal ini tidak terpenuhi, tentu akan memengaruhi kualitas generasi berikutnya. Keadaan ini bisa berdampak pada aspek kehidupan lainnya, mulai dari kesehatan, pendidikan dan juga ekonomi.


Lalu, bagaimana cara mencegah adanya baby boom ini? Pasangan suami istri yang masih dalam usia subur diharapkan tetap menggunakan alat kontrasepsi. Bagi pengguna alat kontrasepsi berupa suntik atau pil, tetap dianjurkan untuk datang ke fasilitas kesehatan sesuai jadwal yang sudah ditentukan dengan membuat perjanjian sebelumnya. Jika tidak memungkinkan untuk datang, dapat menggunakan kondom, pantang berkala ataupun senggama terputus terlebih dulu. Pengguna alat kontrasepsi implan, AKDR ataupun akseptor MOW atau MOP tidak perlu kontrol rutin, namun tetap memeriksakan diri jika ada keluhan. Bagi calon pengantin, materi bimbingan Komunikasi, Informasi dan Edukasi dapat diperoleh secara daring.


Bagaimana jika hamil di tengah pandemi? Menurut panduan Kemenkes, ibu hamil harus memperhatikan hal-hal berikut ini:

  • Jaga kesehatan dengan makan makanan bergizi seimbang. Lakukan aktivitas fisik yang ringan (seperti yoga atau senam hamil), ibu hamil sehat tetap minum tablet tambah darah. Ibu hamil PDP/terkonfirmasi Covid-19 tidak diberikan tablet tambah darah. Jaga kebersihan diri dan lingkungan. Bersihkan dan berikan disinfektan pada permukaan benda yang sering disentuh.

  • Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir sedikitnya selama 20 detik, setelah bepergian atau keluar rumah, setelah menyentuh barang yang mungkin terkontaminasi Covid-19, setelah berbicara dengan orang lain, setelah BAK & BAB, sebelum dan sesudah menyentuh bayi, sebelum dan sesudah makan

  • Menggunakan masker. Masker medis untuk ibu sakit dan saat persalinan, masker kain untuk ibu sehat dan keluarganya, menutup mulut dan hidung. Hindari menyentuh masker saat digunakan. Lepas masker dari bagian belakang dan buang setelah sekali pemakaian (masker medis) dan cuci (masker kain)

  • Pemeriksaan kehamilan pertama oleh dokter untuk penapisan faktor risiko. Buat janji agar tidak menunggu terlalu lama.

  • Pemeriksaan USG pada ibu dengan PDP / terkonfirmasi Covid-19 ditunda

  • Tunda pemeriksaan kehamilan trisemester 2. Pemeriksaan dapat melalui telekonsultasi, kecuali jika ada tanda bahaya

  • Pastikan gerak janin diawal usia kehamilan 20 minggu dan setelah usia kehamilan 28 minggu hitung gerak janin (minimal 10 gerakan per 2 jam)

  • Tunda kelas ibu hamil atau mengikuti kelas ibu secara daring

  • Pengisian stiker PROGRAM PERENCANAAN PERSALINAN DAN PENCEGAHAN KOMPLIKASI (P4K) dipandu bidan/perawat/dokter melalui media komunikasi

  • Pelajari buku KIA dan terapkan di kehidupan sehari-hari. Pelajari tanda bahaya kehamilan (sudah tertera dalam buku)

  • Periksa ke fasyankes jika ada risiko atau tanda bahaya

  • Pemeriksaan kehamilan trimester 3 harus dilakukan 1 bulan sebelum hari perkiraan lahir


Penulis :

dr. Vidya Ananda


Editor :

dr. Riyo Pungki Irawan



Referensi:

  1. Kemenkes. 2020. Pedoman Bagi Ibu Hamil, Bersalin, Nifas, Dan Bayi Baru Lahir Di Era Pandemi Covid-19 Revisi1.

  2. https://www.unicef.org/rosa/press-releases/millions-pregnant-mothers-and-babies-born-during-covid-19-pandemic-threatened

  3. https://www.unicef.org/indonesia/press-releases/new-years-babies-over-13000-children-will-be-born-indonesia-new-years-day-unicef

  4. https://fk.ugm.ac.id/strategi-cegah-baby-boom-pasca-pandemi-covid-19/

  5. https://news.detik.com/berita/d-5006790/bkkbn-antisipasi-baby-boom-pascapandemi-apa-maksudnya

  6. https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/need-extra-precautions/pregnancy-breastfeeding.html


24 tampilan

informasi kesehatan terpercaya

  • White Facebook Icon
  • White Instagram Icon

info@healthierindonesia.org              Healthier Indonesia                healthier.indonesia