Benarkah itu: Bawang Merah Atasi Gigitan Ular?

Oleh Ade Saputri, S.Ked.




"Mengatasi Gigitan Ular Berbisa Berdasarkan Pengalaman Pribadi

Berhubung di Jakarta sedang booming ular cobra, maka saya akan berbagi penangkalan apabila tergigit ular atau binatang apa saja yang mempunyai bisa. Caranya adalah apabila tergigit ular berbisa Anda secepatnya lari ke rumah terdekat, minta bawang merah, gak usah dikupas langsung dikunyah sampe lembut, terus tempelkan ke bagian yang tergigit insyaAllah sembuh seketika."


Sumber : Whatsapp



Benarkah Bawang Merah Atasi Gigitan Ular?


Kesimpulan: Salah



Ular merupakan hewan yang ditakuti kebanyakan orang. Walaupun tidak memiliki anggota gerak, tetapi karnivora ini dapat memangsa dengan lilitan kuat atau gigitan berbisa yang mematikan. Beberapa bulan terakhir telah ramai berita mengenai gigitan ular, hal ini diikuti dengan beredarnya informasi – informasi yang belum diketahui kebenarannya. Salah satu berita yang viral adalah penggunaan bawang merah untuk mengatasi gigitan ular. Benarkah bumbu dapur ini mampu mengatasi gigitan ular?


Gigitan ular merupakan kondisi yang harus ditangani dengan cepat. Bisa ular merupakan salah satu zat biologis unik yang kandungannya masih terus diteliti oleh ilmuwan di berbagai negara. Bisa ular merupakan campuran kompleks antara protein, rantai lemak, dan memiliki sekitar 25 enzim. Beberapa efek yang dapat disebabkan bisa ular yaitu penghancuran sel – sel otot, kerusakan jaringan tempat gigitan, kelumpuhan, perdarahan, gangguan jantung, gagal ginjal, bahkan sampai kematian. Menurut beberapa sumber, disebutkan bahwa rata – rata gigitan ular berbisa dapat menyebabkan kematian dalam waktu 30 menit sampai 1 jam. Ada pula beberapa jenis bisa ular yang sangat mematikan, yakni hanya butuh waktu 5 – 10 menit. Faktor – faktor tertentu seperti jenis ular, jumlah bisa, dan ukuran tubuh korban turut mempengaruhi kecepatan kematian.


Sampai saat ini tatalaksana utama pada gigitan ular adalah pemberian Anti Bisa Ular (ABU). Namun, masih banyak masyarakat yang belum mengetahui tentang hal ini. Buktinya adalah seperti berita diatas, yang membahas mengenai penggunaan herbal sebagai pertolongan pertama. Faktanya, kebanyakan informasi yang beredar tentang pertolongan pertama pada gigitan ular tidak memiliki bukti ilmiah yang jelas. Penggunaan pisau lipat, alat sedot (venom extraction), turniket, bubuk mesiu, vitamin C, pembekuan, pembakaran, dan elektrokauter (pembakaran dengan listrik) telah menjadi pilihan pertolongan pertama gigitan ular selama bertahun – tahun, tetapi tindakan tersebut mayoritas justru meningkatan risiko perburukan kondisi korban.


Bukti ilmiah untuk penggunaan herbal sebagai pertolongan pertama juga masih sedikit. Menurut penelitian memang beberapa herbal dapat mengatasi gigitan ular secara efektif. Namun, pengobatan herbal ini ditujukan untuk mempercepat proses penyembuhan dan hanya dapat dilakukan setelah penanganan medis telah dilakukan. Pengobatan herbal ini diberikan setelah pasien diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Beberapa herbal yang disebutkan dalam penelitian tersebut adalah echinaceae (bunga krisan), liliaceae (bawang putih, bawang merah),dan amaranthaceae (amaranth). Herbal – herbal ini dimanfaatkan untuk menguatkan sistem imun dan mengurangi gejala tambahan seperti mual sampai sakit kepala.


Jadi, dapat disimpulkan bahwa penggunaan bawang merah untuk mengatasi gigitan ular adalah TIDAK BENAR. Bagi anda yang mengalami atau menjumpai korban gigitan ular harap segera mencari pertolongan medis untuk akses ABU. Pertolongan pertama yang dapat dilakukan sementara waktu adalah melepas perhiasan atau jam yang dapat melukai kulit jika terjadi pembengkakan, merendahkan area bekas gigitan sampai dibawah jantung untuk melambatkan persebaran racun, tidak banyak bergerak, dan menutup area gigitan dengan perban atau kain longgar yang bersih dan kering.


Pertolongan yang cepat dan tepat mungkin bisa menyelamatkan banyak nyawa. Sebaliknya, pertolongan yang salah dapat memperparah kondisi korban. Hati-hati terhadap hoax, ya!



Penulis: Ade Saputri, S.Ked.

adesaptr@gmail.com

Dokter Muda


Editor: dr. Rio Restu Priambodo

riorestup@gmail.com

Dokter Umum


Fotografer: Francisco Gilbert Timothy, S.Ked.

franciscogani@gmail.com

Dokter Muda




Referensi:

  1. Benjamin, J. and Benjamin, J. (2018). How to survive a snakebite in the wilderness — The Asclepius Snakebite Foundation. [online] The Asclepius Snakebite Foundation. Available at: https://www.snakebitefoundation.org/blog/2018/9/6/how-to-survive-a-snakebite-in-the-wilderness [Accessed 5 Jan. 2020].

  2. Benjamin, J. and Benjamin, J. (2019). The truth about commercial snakebite kits (including the venom extractor) — The Asclepius Snakebite Foundation. [online] The Asclepius Snakebite Foundation. Available at: https://www.snakebitefoundation.org/blog/2019/1/20/the-truth-about-commercial-snakebite-kits-and-venom-extractors [Accessed 5 Jan. 2020].

  3. Upasani, M.S., Upasani, S.V., Beldar, V.G., Beldar, C.G. and Gujarathi, P.P., 2018. Infrequent use of medicinal plants from India in snakebite treatment. Integrative medicine research, 7(1), pp.9-26.

  4. Warrell, D.A., 2010. Snake bite. The Lancet, 375(9708), pp.77-88.




29 tampilan

informasi kesehatan terpercaya

  • White Facebook Icon
  • White Instagram Icon

info@healthierindonesia.org              Healthier Indonesia                healthier.indonesia