Benarkah Vaksinasi Menyebabkan Autisme?

Diperbarui: 22 Mar 2019

Talitha Najmillah Sabtiari, S.Ked




Akhir-akhir ini terdapat rumor yang menyatakan bahwa vaksinasi dapat menyebabkan autisme, sehingga tidak sedikit orang tua yang menjadi khawatir akan kabar burung tersebut dan akhirnya mengurungkan diri untuk tidak melakukan vaksinasi terhadap anaknya, bahkan sampai membuat gerakan anti-vaksinasi. Namun sesungguhnya, benarkah vaksinasi dapat menyebabkan autisme?



Sebelum memutuskan untuk mengambil kesimpulan terhadap rumor vaksin ini, ada baiknya orangtua cermat dalam mengenal apa itu vaksinasi dan apa itu autisme, beserta hubungan antar keduanya.



Apa itu Vaksinasi?


Menurut US Centers for Disease Control and Prevention (CDC), vaksin adalah sebuah produk yang dapat merangsang sistem imun seseorang untuk mencapai imunitas terhadap suatu penyakit, dengan kata lain melindunginya dari penyakit tersebut. Vaksin biasanya diberikan kepada seseorang dengan cara disuntik, diteteskan ke mulut, maupun disemprotkan ke hidung; pemberian vaksin ini disebut dengan vaksinasi. Lalu apa bedanya dengan imunisasi? Imunisasi merupakan proses mencapai kekebalan tubuh baik melalui proses alami maupun buatan. Proses alami dapat terjadi saat kita mengalami infeksi lalu sistem imun tubuh memproduksi antibodi sebagai respon untuk mengatasi penyakit tersebut di masa mendatang sedangkan proses buatan dapat dilakukan melalui pemberian vaksin. Vaksin tersebut dapat merangsang pembentukan antibodi terhadap penyakit tertentu dan termasuk dalam proses imunisasi.


Vaksinasi merupakan hal yang sangat efektif dalam mengontrol dan mengeliminasi penyakit-penyakit infeksi yang mematikan, sehingga diperkirakan dapat mencegah 2-3 juta kematian anak setiap tahunnya. Terdapat banyak sekali jenis vaksin yang digunakan, seperti vaksin Hepatitis B, Varicella (cacar air), DPT (Difteri, Pertusis, Tetanus), Polio, Influenza, dan masih banyak lagi termasuk vaksin MMR (Measles—atau Campak, Mumps—atau Gondongan, dan Rubella) yang sekarang sedang hangat-hangatnya dibicarakan karena diduga dapat menyebabkan autisme pada anak.


"Vaksinasi merupakan hal yang sangat efektif dalam mengontrol dan mengeliminasi penyakit-penyakit infeksi yang mematikan"



Apa itu Autisme?


Autisme merupakan bagian dari Autism Spectrum Disorder (ASD), sebuah gangguan biologis pada perkembangan otak yang ditandai dengan gangguan interaksi sosial, komunikasi, dan adanya perilaku atau gerakan yang sifatnya berulang-ulang. Orang tua biasanya mulai mengenali tanda ini ketika anak sulit memulai atau merespon interaksi sosial maupun lingkungan, tidak bisa mempertahankan kontak mata, sulit menunjukkan ekspresi wajah atau bahasa tubuh, tidak tertarik dengan lingkungan sekitar, dan melakukan gerakan berulang-ulang seperti menumpuk mainan dan mengucapkan suatu kata terus-menerus. Biasanya anak dapat didiagnosis dengan autisme pada 3 tahun pertama kehidupan. Penyebab autisme ini sendiri masih dipengaruhi oleh banyak faktor mulai dari faktor genetik (mutasi gen) yang hanya berkontribusi sekitar 7-9% dan faktor lingkungan seperti infeksi, paparan bahan yang beracun untuk sistem saraf, dan sebagainya. Autisme sendiri tidak disebabkan oleh vaksinasi.


"Autisme merupakan ... sebuah gangguan biologis pada perkembangan otak yang ditandai dengan gangguan interaksi sosial, komunikasi, dan adanya perilaku atau gerakan yang sifatnya berulang-ulang."


Lalu, mengapa banyak sekali rumor yang menyatakan bahwa vaksinasi, terutama pada vaksin MMR, menyebabkan autisme pada anak?


Ada tiga dugaan mengapa vaksinasi dapat menyebabkan autisme.

  • Dugaan pertama adalah vaksin MMR dikatakan dapat merusak lapisan usus sehingga protein perusak saraf dapat masuk ke dalamnya. Hal ini diawali dari penemuan Andrew Wakefield, dokter ahli pencernaan dari Inggris, terhadap 8 anak yang menunjukkan gejala autisme yang disertai dengan gejala pencernaan setelah 1 bulan mendapatkan vaksinasi MMR. Penelitian Andrew Wakefield ini tidak dilakukan secara komplit dan sistematis sehingga tidak dapat digunakan sebagai dasar ilmiah yang kuat. Selain itu, terdapat ketidaksesuaian antara penemuan penelitian tersebut dengan fakta yang ada. Penemuan ini tidak sesuai karena biasanya masalah pencernaan bukanlah gejala awal pada autisme. Fakta pertama: Berdasarkan penelitian Hornig et al pada tahun 2008, Vaksin MMR tidak menyebabkan kerusakan lapisan usus dan tidak ditemukan protein perusak saraf yang berpindah dari saluran cerna menuju ke otak. Fakta kedua: Diagnosis autisme dilakukan pada usia 1 sampai 3 tahun, saat yang sama dengan pemberian vaksin MMR. Berdasarkan ketidaksesuaian penemuan terhadap fakta yang ada, dua hal tersebut, meskipun terjadi bersamaan namun tidak berarti saling berhubungan.


  • Dugaan kedua adalah kandungan thimerosal yang merupakan bahan antibakterial vaksin disebut sebagai penyebab autisme pada anak. Faktanya, tidak terdapat thimerosal pada vaksin hidup seperti MMR. Selain itu, thimerosal sendiri merupakan bahan aktif yang mengandung 50% etilmerkuri sedangkan senyawa merkuri yang toksik untuk manusia adalah merkuri murni dan metilmerkuri. Etilmerkuri tergolong senyawa aman dalam dosis yang rendah seperti pada thimerosal. Keracunan merkuri pun memiliki tanda dan gejala yang berbeda dari autisme, baik dari perbedaan perubahan ukuran kepala, gangguan gerakan, gangguan penglihatan, maupun gangguan perkembangan.


  • Dugaan yang terakhir adalah pemberian beberapa vaksin sekaligus dalam satu waktu dapat ‘membingungkan’ dan melemahkan sistem imun sehingga autisme lebih mudah terjadi. Sekali lagi, hal ini tidak benar karena meskipun sistem imun anak kecil masih belum sempurna, sistem imun tersebut masih tetap dapat memberikan respon protektif di tubuh. Autisme juga bukan merupakan penyakit yang dipengaruhi oleh sistem imun.



Jadi, apakah benar vaksinasi dapat menyebabkan autisme?


Terdapat 20 studi di setidaknya 6 negara yang dapat membantah hubungan vaksinasi dengan kejadian autisme, sementara sampai sejauh ini belum ada studi yang membuktikan hubungan kejadian autisme dengan vaksinasi baik hubungan kausatif maupun asosiatif. Berdasarkan dari studi yang ada, dapat disimpulkan bahwa vaksinasi tidak menyebabkan autisme, dan ada baiknya orangtua tetap melakukan vaksinasi terhadap anak mereka karena vaksin memiliki banyak sekali manfaat daripada kekurangannya, termasuk melindungi anak dari bahaya penyakit mematikan.


"... dapat disimpulkan bahwa vaksinasi tidak menyebabkan autisme, ..."



Penulis: Talitha Najmillah Sabtiari, S.Ked

najmillahsbtr@gmail.com

Dokter Muda


Desainer Grafis: Gede Raditya Wisnu W, S.Ked.

graditya.wisnu@gmail.com

Dokter Muda





Referensi:


  1. Landrigan, P. J.2010.What causes autism? Exploring the environmental contribution. Current opinion in pediatrics22(2), 219-225.

  2. American Psychiatric Association.2013.Diagnostic and statistical manual of mental disorders (5th ed.). Washington, DC: Author.

  3. Plotkin, S., Gerber, J. S., & Offit, P. A.2009.Vaccines and autism: a tale of shifting hypotheses. Clinical Infectious Diseases, 48(4), 456-461.

  4. Hornig M, Briese T, Buie T, et al.2008.Lack of association between measles virus vaccine and autism with enteropathy: a case-control study.PLoS ONE , vol. 3 pg. e3140

  5. Centers for Disease Control and Prevention.2010.Vaccines:Vac-Gen/Imz Basics main page [daring].Dapat diakses melalui: https://www.cdc.gov/vaccines/vac-gen/imz-basics.htm. [Diakses pada 10 Maret 2019]

  6. World Health Organization.2010.WHO|Children: reducing mortality.[daring].Dapat diakses melalui: http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs178/en/. [Diakses pada 10 Maret 2019]




61 tampilan

informasi kesehatan terpercaya

  • White Facebook Icon
  • White Instagram Icon

info@healthierindonesia.org              Healthier Indonesia                healthier.indonesia