Saya Belajar Tentang Depresi dan Saya Mengalaminya: Cerita Seorang Mahasiswa Kedokteran

Oleh:

Dr. Rio Restu Priambodo

Marsa Harisa D, S.Ked.





Dimas adalah Mahasiswa Kedokteran. Ia Cukup Tahu tentang Depresi.


Ia belajar tentang depresi di bangku kuliah.

Ia pernah bertemu dan memeriksa pasien depresi.

Ia mengalaminya.


Beberapa waktu yang lalu kami berkesempatan untuk mewawancarai Dimas (nama disamarkan). Ia adalah penyintas depresi mayor yang juga merupakan mahasiswa kedokteran yang sedikit banyak belajar tentang kesehatan mental. Ia adalah bukti bahwa depresi dapat dialami oleh siapa saja.


Awal Cerita Dimas: Jalan Hidup yang Tak Diinginkan


Menurut Dimas, masalah utamanya adalah ia tidak ingin menjadi dokter. Ketika pertama kali tahu bahwa ia diterima di fakultas kedokteran, ia menangis. Ia mendeskripsikan hal yang ia alami sebagai kesedihan yang berlarut-larut, ketakutan akan masa depan yang suram, perasaan tidak berguna, dan keinginan untuk mengakhiri hidup. Selang beberapa tahun, gejala yang ia alami malah semakin parah. Dimas merasa semakin tidak nyaman di lingkungan kuliahnya. Pikiran-pikiran untuk mengakhiri hidup semakin sering berkelebat di kepalanya. Sampai suatu hari ia benar-benar berencana untuk melakukannya. Setelah berpikir selama satu hari penuh dan tekadnya telah bulat, tiba-tiba salah satu teman datang ke kamarnya. “Padahal temanku datang untuk meminjam uang, tapi itulah yang menyelamatkanku”, ia berusaha mengingat-ingat lagi. Ternyata di dunia yang selama ini ia pandang gelap masih ada orang yang membutuhkannya. Ia mengurungkan niatnya. Ia sadar bunuh diri bukan sebuah solusi.


Setelah kejadian tersebut, ia merasa semakin membutuhkan bantuan dokter jiwa. Tapi ia belum siap. “Kalau aku ke psikiater nanti kayak orang gila.” Pikiran itu mencegahnya untuk mencari bantuan yang sebenarnya memang ia butuhkan. Baru setelah menjalani tiga tahun dengan beberapa episode depresi yang berulang hingga ia benar-benar ke psikiater. Inilah kali pertama ia didiagnosis depresi mayor. Dimas menjalani pengobatan dan keadaannya berangsur-angsur membaik. Ia mulai bisa menjalani hari-harinya dengan pikiran yang lebih positif walaupun ide bunuh diri masih beberapa kali singgah di kepalanya. Ia kembali dapat berkumpul dan berbicara dengan teman-temannya. Tanggung jawab akademik berhasil ia selesaikan. Beberapa bulan berada dalam suasana hati yang lebih baik ia merasa sudah sembuh.


Namun, roda kehidupan Dimas kembali berputar. “Mulai sombong aku. Aku pikir aku sudah tidak butuh obat lagi. Akhirnya aku berhenti minum obat selama 2 minggu. Di situ aku salah.” Dimas mengingat pagi itu ia sedang dalam perjalanan ke rumah sakit untuk keperluan akademik dan ia menangis sejadi-jadinya. Ia mencari bantuan. Psikiater yang ia hubungi langsung sadar bahwa Dimas menghentikan obat tanpa berkonsultasi dengannya. Paham bahwa masalah kuliah masih terlalu berat untuk dihadapi olehnya saat itu, ia menyarankan Dimas untuk melanjutkan pengobatan dan mengambil cuti. Dimas kembali ke kampung halamannya, berusaha menenangkan diri.


“Kalau aku ke psikiater nanti kayak orang gila.” Pikiran itu mencegahnya untuk mencari bantuan yang sebenarnya memang ia butuhkan.

Pengalaman Dimas di Rumah: Mengajar di Sekolah hingga Dirukiah


Dimas kembali ke kota asalnya, sejenak meninggalkan kehidupannya sebagai mahasiswa kedokteran. Ia datang ke SMA tempat ia belajar dulu untuk mengisi waktu agar pikirannya tidak dipenuhi ketakutan-ketakutan dan perasaan tidak berguna. Dimas meminta kepada pihak sekolah agar diizinkan mengajar agar ia dapat berinteraksi dengan orang lain. “Kalau aku, yang penting harus ketemu orang. Setidaknya, kalau aku ketemu orang, aku bisa berpikir bahwa aku nggak boleh melakukan hal yang nggak seharusnya aku lakukan,” ucapnya. Ia merasa lebih tenang daripada ketika ia sendiri dengan pikiran-pikirannya, namun ia perlu waktu untuk benar-benar pulih.


Keluarganya sendiri tak begitu mengerti tentang masalah kesehatan mental yang dialaminya. Merasa anaknya masih belum sembuh walaupun telah ditangani oleh dokter jiwa, orang tuanya memanggil kiayi untuk merukiah Dimas. Dimas beberapa kali dimandikan tengah malam dengan diiringi doa-doa. “Ya, aku bilang kalau aku baikan habis dirukiah, biar orang tuaku senang. Padahal ya nggak ngefek apa-apa. Yang ada besoknya aku masuk angin.” Ia menceritakan pengalamannya sambil tertawa.


Dimas melanjutkan ceritanya. Ia memang dibesarkan di lingkungan pesantren dengan kultur beragama yang kuat. Ketika pertama kali menceritakan masalah yang ia alami, orang-orang sekitarnya mengatakan bahwa mungkin masalah itu terjadi karena Dimas kurang dekat dengan Sang Pencipta. “Paling shalatmu kurang bener,” ia menirukan ucapan orang terdekatnya. Ia tidak membantah hal tersebut. Tapi baginya, ungkapan-ungkapan seperti itu malah dapat menutupi masalah sesungguhnya. Seperti menyapu debu ke bawah permadani. Menurutnya masalah kesehatan mental dapat dialami oleh siapapun, tanpa memandang kadar keimanan seseorang. “Masalah jiwa tidak ada hubungannya sama iman. Seberapa banyak kita sholat, pikiran untuk bunuh diri tetap akan ada. Jadi, itu dua hal yang berbeda. Banyak banget yang bilang aku kurang shalat, kurang iman. Aku ngakunya iya, tapi menurutku depresi tidak ada hubungannya sama itu,” kata Dimas. 


“Masalah jiwa tidak ada hubungannya sama iman ... Banyak banget yang bilang aku kurang shalat, kurang iman. Aku ngakunya iya, tapi menurutku depresi tidak ada hubungannya sama itu,”

Refleksi Dimas tentang Depresi: Apa yang Bisa Diperbaiki?


Dari pengalaman Dimas dengan depresi, banyak yang hal yang bisa direfleksikan. Layanan kesehatan jiwa, baik secara kualitas maupun kuantitas, dirasa masih belum memadai. Medio tahun 2015, ia pergi ke salah satu klinik untuk berkonsultasi dengan salah satu psikolog klinis. Ia membawa harapan besar agar dapat sembuh, atau paling tidak menjadi lebih tenang. Namun ternyata kunjungan tersebut merupakan kunjungan pertama dan terakhirnya ke klinik psikolog tersebut. Dimas merasa tidak didengarkan. “Dikasih motivasi itu nggak salah, tapi jangan dihakimi, seperti ‘Kamu harus gini, kamu harus gini,’” ujarnya. Di pengalaman Dimas yang lain, ia merasa pernah dihakimi oleh dokter umum saat berusaha minta surat rujukan ke rumah sakit. Ketika ia menjelaskan bahwa ia menderita gangguan depresi dan sudah rutin minum obat, dokternya justru bingung dan bertanya-tanya apa masalah Dimas. Dimas memang terlihat baik-baik saja kala itu. Tapi seperti penderita masalah kesehatan mental lainnya, gejala memang tidak selalu muncul ke permukaan dan mudah diamati.


Sebagai mahasiswa kedokteran, Dimas merasa bahwa pendidikan terkait kesehatan jiwa perlu ditambah kembali. Sebaiknya, dokter dibekali dengan pengetahuan yang cukup agar bisa menjadi garda utama dalam melayani kesehatan jiwa. Selain itu, sebaiknya di setiap rumah sakit ada layanan kesehatan mental. “Psikiater jangan hanya terpusat di kota-kota besar. Kota-kota kecil juga membutuhkannya.”


Dimas meninggalkan sebuah pesan akhir.


Untuk calon dokter, dokter, dan praktisi kesehatan lainnya, harus lebih sadar mengenai masalah jiwa. Jika ada pasien dengan masalah jiwa, walau masalahnya terlihat minor, tetap harus diperhatikan.


Untuk yang merasa memiliki masalah kesehatan jiwa, jangan takut datang ke psikolog atau psikiater. Jangan takut mencari bantuan. Jangan melakukan diagnosis sendiri.


Untuk yang sedang menjalani perawatan, jangan sekali-kali lepas obat tanpa izin dari dokter. Insya Allah masih banyak yang peduli dengan teman-teman. Jika di satu tempat tidak merasa terbantu, masih banyak orang di tempat lain yang mau mendengarkan. Teman-teman tidak sendiri.


Dimas kini masih berjuang melawan depresinya. Tidak lagi sendirian. Ia tahu bantuan apa saja yang ia punya.  Ia tahu ia punya harapan untuk menang. Ia tahu ia punya masa depan.




Penulis: dr. Rio Restu Priambodo

riorestup@gmail.com

Dokter Umum


Editor: Marsa Harisa D, S.Ked.

marsa.harisa@gmail.com

Dokter Muda RSUP Dr. Sardjito


Fotografer: Jonathan, S.Ked.

jnathan.2510@gmail.com

Dokter Muda RSUP Dr. Sardjito


Desainer Grafis: Gede Raditya Wisnu, S.Ked.

graditya.wisnu@gmail.com

Dokter Muda RSUP Dr. Sardjito


597 tampilan

informasi kesehatan terpercaya

  • White Facebook Icon
  • White Instagram Icon

info@healthierindonesia.org              Healthier Indonesia                healthier.indonesia