Benarkah itu: Corona Tidak Tahan Panas?

Oleh Melissa Stephanie Kartjito



BERITA:

Beberapa waktu lalu, beredar info bahwa Indonesia aman dari penyebaran COVID-19 karena cuacanya panas. COVID-19 dikatakan  tidak tahan panas dan akan mati pada suhu 26-27ºC. 

Kesimpulan: Salah



Melalui sebuah segmen pada websitenya, Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization, WHO) telah terang-terangan membantah hal ini. COVID-19 dapat ditularkan di semua area, termasuk area yang panas dan lembab seperti di Indonesia. Nah, ada yang menarik tentang hal ini. Sebuah studi yang dipublikasikan mahasiswa Massachusetts Institute of Technology (MIT) dan diterbitkan pada 19 Maret 2020 menganalisis pola persebaran COVID-19 berdasarkan zona iklim negara terdampak. Mereka menemukan bahwa rendahnya angka kasus di negara-negara tropis kemungkinan disebabkan karena kondisi hangat dan lembab dapat memperlambat penyebaran.


Studi tersebut menemukan bahwa 90% kasus COVID-19 terjadi di negara subtropis/temperat dengan suhu 3-17 ºC dan kelembaban absolut 4-9 g/m3. Sementara itu, negara tropis yang rata-rata memiliki suhu di atas 18 ºC dan kelembaban absolut lebih dari 9 g/m3 hanya menyumbang kurang dari 10% dari total kasus. Namun, tren yang teramati dalam 10 hari terakhir menunjukkan peningkatan signifikan angka kasus pada daerah yang memiliki suhu tinggi tapi memiliki kelembaban absolut rendah sementara daerah dengan kelembaban tinggi memiliki angka peningkatan kasus yang lebih lambat.


Kelembaban absolut diukur tanpa mempertimbangkan suhu dan dinyatakan dalam gram per meter kubik udara (g/m3), sementara kelembaban relatif diukur dengan mempertimbangkan suhu dan memiliki satuan persentase (%). Sebagai contoh, rata-rata kelembaban relatif di Jakarta adalah 80% dan di Yogyakarta adalah 74%. Dalam setahun, kelembaban relatif di Jawa paling tinggi adalah di bulan Januari dan terus menurun hingga September sebelum naik lagi di bulan-bulan selanjutnya.


Jadi, tingginya kelembaban absolut diduga lebih berperan dibanding tingginya suhu dalam memperlambat penyebaran virus. Implikasinya bagi kita penduduk Indonesia, kita harus bersyukur karena memiliki kelembaban yang tinggi, yaitu >21 g/m3 (absolut) dan 70% (relatif) di semua bulan dan di seluruh daerah di Indonesia. Namun perlu diingat bahwa kelembaban hanya salah satu faktor.


Selambat-lambatnya penyebaran virus karena tingginya kelembaban di Indonesia, penyebaran virus tetap dapat terjadi dengan sangat cepat jika kita tidak menerapkan langkah pencegahan yang tepat.

Oleh karena itu, studi yang sama merekomendasikan implementasi jarak fisik (seperti karantina) untuk mencegah penyebaran lebih luas. Selain itu, cara terbaik untuk melindungi diri adalah mencuci tangan dengan cara yang tepat, menerapkan etika batuk, serta menaati himbauan petugas kesehatan.


Kita bisa memerangi virus ini bersama-sama!



Penulis:

Melissa Stephanie Kartjito

melissa.s.kartjito@gmail.com

Mahasiswa Gizi Kesehatan


Editor:

dr. Rio Restu Priambodo

riorestup@gmail.com

Dokter Umum


Fotografer:

Francisco Gilbert Timothy, S.Ked.

franciscogani@gmail.com

Dokter Muda


Referensi:

  1. Bukhari, Q., Jameel, Y. (2020). Will Coronavirus Pandemic Diminish by Summer?. Diakses 25 Maret 2020. https://papers.ssrn.com/sol3/papers.cfm?abstract_id=3556998

  2. World Data Info. (2020). The Climate in Indonesia. Diakses 25 Maret 2020. https://www.worlddata.info/asia/indonesia/climate.php

  3. World Health Organization. (2020). Coronavirus disease (COVID-19) advice for the public: Myth busters. Diakses 25 Maret 2020. https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/advice-for-public/myth-busters.

129 tampilan

informasi kesehatan terpercaya

  • White Facebook Icon
  • White Instagram Icon

info@healthierindonesia.org              Healthier Indonesia                healthier.indonesia