Sesat Pikir Konspirasi Covid-19: Mengapa Seseorang Mempercayai Teori Konspirasi?

Oleh: dr. Paulin Surya Phillabertha



Berita:


Pada masa pandemi ini muncul berbagai macam teori konspirasi mengenai Covid-19. Dimulai pernyataan bahwa virus ini merupakan senjata biologi berasal dari laboratorium di Wuhan, virus ini merupakan buatan Amerika, virus ini dibawa oleh tentara AS ke Wuhan, hingga Bill Gates diberitakan telah membuat virus corona baru beserta vaksin yang dipersiapkan dengan microchip di dalamnya. Beberapa waktu ini muncul tagar #RencanaElitGlobal pada media sosial twitter mengenai teori konspirasi Covid-19. Tagar tersebut dipicu oleh salah satu influencer yang menyebutkan bahwa seseorang yang sakit tidak perlu melakukan tes virus korona karena sakit tersebut bisa disembuhkan dengan cara biasa. 

Kesimpulan: belum terjawab



Menurut Cambridge Dictionary, konspirasi adalah kegiatan perencanaan secara diam-diam dengan orang lain untuk melakukan sesuatu yang ilegal atau buruk. Teori konspirasi merupakan penjelasan mengenai kejadian-kejadian penting yang melibatkan alur rahasia. Kejadian-kejadian ini biasanya direncanakan oleh kelompok jahat dan berkuasa. Teori konspirasi telah ada sejak zaman dahulu dan muncul sebagai penjelasan alternatif dari peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah.


Orang yang mempercayai teori konspirasi biasanya menolak penjelasan ilmiah mainstream dari suatu kejadian. Terlepas dari benar tidaknya teori konspirasi, sebenarnya terdapat penjelasan psikologis mengenai alasan seseorang melakukan ini.


Pertama, adanya keinginan untuk mencari pemahaman dan kepastian. Keinginan ini mendorong seseorang untuk mencari tahu alasan dan hubungan sebab akibat mengapa kejadian tersebut bisa terjadi. Keinginan tersebut wajar dimiliki manusia namun menjadi berbahaya jika membuat seseorang menyusun jawaban berupa kemungkinan yang belum pasti kebenarannya.


Kedua, teori konspirasi memberikan perasaan aman dan kesan otonomi diri. Sebagai contoh, ketika diminta pemerintah untuk melakukan physical distancing dan mengurangi interaksi sosial, kita kehilangan sebagian dari otonomi diri. Himbauan dan larangan tersebut menimbulkan pertanyaan dalam diri: “mengapa kita tidak bisa mengontrol kondisi ini?”, “mengapa kita tidak bisa keluar rumah dan berkumpul bersama?”, dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Di sisi lain, jika seseorang yang berpengaruh mengatakan bahwa Covid-19 ini tidak berbahaya dan kita mempercayainya, kita tidak usah bersusah payah untuk melakukan physical distancing dan dapat menjalankan hidup dengan normal. Padahal hal ini hanya pembenaran belaka. Menurut Douglass dan Sutton dalam The Psychology of Conspiracy, ketika mempercayai teori pro-konspirasi seseorang secara tidak sadar diyakinkan dan mengira bahwa penjelasan tersebut sesuai dengan kepercayaan yang telah ia anut selama ini.


Ketiga, keinginan untuk mempertahankan citra positif pada diri seseorang dan/atau kelompok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seseorang atau kelompok yang berada dalam posisi sebagai korban, dirugikan, terpinggirkan, dan terancam cenderung mempercayai teori konspirasi sebagai bentuk mekanisme pertahanan. Mekanisme pertahanan ini membebaskan diri dari rasa bersalah dari suatu keadaan yang kurang mengenakkan. Bagi orang yang mempercayai teori konspirasi, mereka menemukan landasan yang dapat digunakan untuk meletakkan kesalahan dan membangun kepercayaan serta citra diri mereka.


Dari berbagai penjelasan di atas, motivasi manakah yang berperan besar dan digunakan oleh kebanyakan orang yang mempercayai teori konspirasi Covid-19?


Perlu kita ingat kembali bahwa ciri dari teori konspirasi yaitu bersifat menghebohkan, mengandung klaim yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, dan tidak memenuhi kaidah ilmiah.

Mempercayai teori konspirasi sama saja dengan memberikan kita perasaan terasingkan, resah, dan merasa kurang akan pemahaman terhadap situasi sosial yang terjadi. Dengan demikian apakah kita masih ingin mempercayai teori konspirasi? Apakah terdapat keinginan tertentu di dalam diri kita sehingga kita mempercayai teori konspirasi? Seberapapun kerasnya kita mempercayai teori konspirasi dan menyangkal Covid-19, kita tetap berada dalam kondisi nyata menghadapi pandemi Covid-19. Mari bersama-sama lakukan usaha yang terbaik untuk mencegah penyebaran Covid-19 dengan melakukan physical distancing, memakai masker, dan menjaga kebersihan tangan. Selain itu, penting juga untuk tetap mengkritisi pernyataan-pernyataan yang dilemparkan influencer ke sosial media.


Jadi, bagaimana fakta dan data sebenarnya mengenai teori-teori konspirasi COVID-19 yang beredar? Tunggu artikel selanjutnya ya!


Salam Sobat (Akal) Sehat!


Penulis:

dr. Paulin Surya Phillabertha

paulinephillabertha@gmail.com

Dokter umum

Editor:

dr. Rio Restu Priambodo

riorestup@gmail.com

Dokter umum

Fotografer:

dr. Francisco Gilbert Timothy

franciscogani@gmail.com

Dokter Umum

Sumber: gettyimages.com



Referensi:

  1. https://www.liputan6.com/global/read/4241720/deretan-teori-konspirasi-virus-corona-covid-19-dan-fakta-di-baliknya#. Diakses 5 Mei 2020

  2. https://today.line.me/ID/article/BlNRrQ?utm_source=washare. Diakses 5 Mei 2020

  3. Douglas, K.M., R. M. Sutton, dan A. Cichocka. 2017. The Psychology of Conspiracy. Current Directions in Psychological Science 26(6): 538-542. DOI: 10.1177/093721417718261.

  4. Ludden, David. 2018. Why Do People Believe in Conspiracy Theories? https://www.psychologytoday.com/intl/blog/talking-apes/201801/why-do-people-believe-in-conspiracy-theories. Diakses 5 Mei 2020.

  5. https://dictionary.cambridge.org/dictionary/english/conspiracy. Diakses 6 Mei 2020.

83 tampilan

informasi kesehatan terpercaya

  • White Facebook Icon
  • White Instagram Icon

info@healthierindonesia.org              Healthier Indonesia                healthier.indonesia