Dampak Perubahan Iklim Pada Kesehatan

Diperbarui: Mar 21

Oleh dr. Dhia Clarissa Putri



Dalam 3 dekade terakhir, bumi menjadi semakin panas dan perubahan iklim juga semakin terasa. Suhu yang makin ekstrim, naiknya ketinggian laut, melelehnya gletser, dan bencana alam akibat cuaca yang sulit ditebak semakin sering terjadi. Namun, sebenarnya apa yang dimaksud dengan perubahan iklim ini?


Perubahan iklim berkaitan dengan perubahan sistem cuaca di bumi sepanjang dekade demi dekade, yang sebagian besar diakibatkan oleh aktivitas manusia. Perubahan iklim ini secara langsung berdampak pada peningkatan suhu udara dan laut, perubahan pola hujan, dan peningkatan frekuensi bencana alam akibat cuaca ekstrim. Bencana alam yang disebabkan oleh kondisi cuaca ekstrim dan berubah-ubah ini tentu saja akan mempengaruhi ketersediaan sumber air bersih, udara, makanan, tempat tinggal, dan penularan penyakit, yang pada akhirnya berdampak pada kondisi kesehatan fisik dan mental dari masyarakat.


Beberapa masalah kesehatan yang dapat muncul akibat perubahan iklim ini, seperti :

  • Pada suhu tinggi yang berlebihan, kondisi hipertermia dan penyakit saluran napas umum terjadi, terutama pada lansia. Suhu tinggi akan meningkatkan kadar alergen udara yang dapat memicu kambuhnya asma pada sebagian besar orang.

  • Kondisi kemarau panjang disertai peningkatan suhu bumi juga dapat menyebabkan kebakaran hutan yang menghasilkan asap dan berkontribusi terhadap peningkatan angka kejadian infeksi saluran pernapasan.

  • Pola hujan yang berubah-ubah menyebabkan angin kencang dan banjir, dapat menghancurkan tempat tinggal, fasilitas kesehatan, dan memaksa penduduk untuk mengungsi. Hal ini turut meningkatkan risiko penyebaran penyakit menular dan gangguan psikologis.

  • Banjir akibat peningkatan pola hujan juga mempengaruhi ketersediaan air bersih dan meningkatkan risiko penyakit diare, terutama pada anak-anak. Kondisi banjir akan membuat lingkungan menjadi kotor dan cocok untuk kelangsungan hidup virus atau bakteri penyebab penyakit, seperti demam berdarah, malaria, leptospirosis, dan lain sebagainya.

  • Kesulitan mendapat air bersih dan bahan makanan akibat kondisi ekstrim yang terus-menerus ini berdampak pula pada peningkatan kasus malnutrisi anak, gangguan tumbuh kembang dan bahkan kematian.

Perubahan iklim yang tidak menentu ini tidak lepas dari kontribusi manusia dan aktivitasnya. Tanpa intervensi yang tepat, dampak yang ditimbulkan akan semakin global. Menurut perkiraan WHO, perubahan iklim akan menyebabkan kurang lebih 250.000 kematian per tahun pada tahun 2030 hingga 2050; diantaranya 38.000 akibat hipertermia pada lansia, 48.000 akibat diare, 60.000 akibat malaria, dan 95.000 akibat malnutrisi pada anak.


Lantas, apa yang bisa kita lakukan untuk menurunkan angka kesakitan atau bahkan kematian akibat perubahan iklim ini?

  • Pada suhu panas yang sangat tinggi, penting untuk mencegah dehidrasi dengan minum air yang banyak dan tidak menghabiskan waktu lama di luar ruangan.

  • Pada daerah tropis dengan musim kemarau panjang atau saat terjadi banjir, perlu proteksi dari gigitan nyamuk dengan menggunakan lotion anti-nyamuk, mengenakan pakaian yang tidak terlalu longgar saat di luar ruangan, memastikan tidak ada jentik nyamuk bersarang di penampungan air, dan fogging rutin.

  • Hindari berenang pada genangan air saat banjir, pastikan air minum berasal dari sumber air bersih, begitu pula dengan makanan, dan jaga kebersihan tubuh.

  • Menggunakan masker saat terjadi kebakaran atau polusi tinggi. Hindari aktivitas di luar ruangan yang berlebihan. Jika memiliki riwayat asma, pastikan persediaan inhaler atau obat rutin lainnya mencukupi.

  • Jangan lupa juga untuk menjaga kondisi mental tetap sehat, terutama pada kondisi bencana yang memungkinkan terjadinya trauma, kehilangan anggota keluarga atau harta benda, dan gangguan aktivitas sosial.

  • Mengurangi penggunaan energi yang merupakan akar permasalahan dari perubahan iklim yang ekstrim ini, seperti mengganti ke sistem bahan bakar ramah lingkungan, mengurangi penggunaan listrik dan air, dan minimalisir penggunaan pendingin ruangan atau pemanas.

  • Mengurangi sampah plastik, terutama jika tidak ada fasilitas daur ulang untuk mengolah sampah tersebut. Membawa tempat makan dan alat makan dari rumah dapat mencegah penggunaan plastik sekali pakai yang baru akan terurai ribuan tahun lamanya.


Kewajiban untuk menyelamatkan bumi dari dampak perubahan iklim ekstrim ini tak lepas dari tanggung jawab manusia yang menempatinya.

Melakukan hal yang dapat mencegah kerusakan lebih lanjut pada bumi tidak hanya penting bagi kelangsungan hidup manusia, tetapi juga untuk kelestarian lingkungan dan makhluk hidup lain di sekitarnya. Kesehatan sangat bergantung pada lingkungan yang ditinggali, oleh karena itu mari lakukan perubahan mulai dari diri kita sendiri!


Penulis:

dr. Dhia Clarissa Putri

dhiaclarissa@gmail.com

Dokter Umum RSUP Dr. Sardjito


Editor:

Ade Saputri, S.Ked.

adesaptr@gmail.com

Dokter Muda



Referensi:

  1. Betterhealth.vic.gov.au. (2020). Climate change and health. [online] Available at: https://www.betterhealth.vic.gov.au/health/healthyliving/climate-change-and-health [Accessed 22 Jan. 2020].

  2. User, S. (2020). Knowledge Centre Perubahan Iklim - Dampak Perubahan Iklim Terhadap Kesehatan Manusia. [online] Ditjenppi.menlhk.go.id. Available at: http://ditjenppi.menlhk.go.id/kcpi/index.php/info-iklim/dampak-fenomena-perubahan-iklim/dampak/355-dampak-perubahan-iklim-terhadap-kesehatan-manusia [Accessed 22 Jan. 2020].

  3. Who.int. (2020). Climate change and health. [online] Available at: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/climate-change-and-health [Accessed 22 Jan. 2020].

41 tampilan

informasi kesehatan terpercaya

  • White Facebook Icon
  • White Instagram Icon

info@healthierindonesia.org              Healthier Indonesia                healthier.indonesia