Defisiensi Vitamin D: Bahaya, Faktor Risiko, dan Cara Pencegahannya

Oleh dr. Dhia Clarissa Putri



Hi vitamin D enthusiast! Kembali lagi dengan pembahasan kita seputar vitamin D. Masih ingatkan kemarin kita sudah membahas mengenai paparan sinar matahari dan penggunaan sunblock yang benar. Nah, sekarang kita akan membahas mengenai defisiensi atau kekurangan vitamin D. Selama masa pandemi, kita diharuskan untuk stay at home sehingga jumlah paparan sinar matahari bisa dibilang sedikit. Sinar matahari berperan penting untuk mengaktifkan vitamin D di dalam tubuh kita. Oleh karena itu, selama masa pandemi sangat dianjurkan untuk berjemur sesuai dengan rekomendasi ya! Namun, sebenarnya dari mana saja kita dapat memperoleh vitamin D dan seberapa banyak vitamin D yang kita butuhkan setiap harinya? Faktor-faktor apa saja yang berisiko menyebabkan defisiensi vitamin ini? Apa saja bahaya yang dapat ditimbulkan akibatnya dan bagaimana cara kita melakukan pencegahannya? Yuk, kita cari jawabannya di artikel berikut ini!


Berapa banyak vitamin D yang tubuh kita butuhkan?


Kebutuhan harian vitamin D seseorang berbeda-beda sesuai usianya. Jumlah yang direkomendasikan menurut National Institutes of Health, U.S. adalah 400 IU (International Unit) untuk bayi usia 0-12 bulan, 600 IU untuk anak >1 tahun hingga dewasa, dan 800 IU untuk lansia di atas 70 tahun.


Kebutuhan vitamin D tubuh dicukupi melalui makanan, suplemen, atau paparan kulit terhadap sinar matahari secara langsung. Tubuh kita dapat memproduksi vitamin D secara alami setelah terpapar oleh sinar matahari. Namun, paparan sinar matahari berlebihan juga tidak baik karena dapat menjadi faktor risiko kanker kulit. Oleh karena itu, konsumsi makanan yang mengandung vitamin D juga tak kalah penting.


Jika tubuh tidak mendapatkan asupan vitamin D yang cukup, adanya gangguan penyerapan vitamin D di usus, atau gangguan di liver atau ginjal sehingga vitamin D tidak dapat berubah menjadi bentuk aktifnya, maka tubuh akan mengalami defisiensi vitamin D.


Apa bahayanya jika tubuh kekurangan vitamin D?


Defisiensi vitamin D menyebabkan penurunan kepadatan tulang, yang akan berujung pada osteoporosis dan mudah terjadi fraktur (patah tulang). Kekurangan vitamin D yang sangat berat dapat menyebabkan penyakit Rickets pada anak-anak, dimana tulang menjadi lunak dan mudah bengkok.


Gejala awal kekurangan vitamin D tidak selalu terlihat. Pada anak-anak, yang sering ditemukan adalah terlambat berjalan atau anak lebih memilih untuk duduk dalam waktu yang lama. Saat diamati, kaki anak juga terlihat bengkok seperti huruf O atau X. Sedangkan pada dewasa, gejalanya bisa berupa nyeri berulang atau kelemahan pada tulang.


Siapa saja yang berisiko kekurangan vitamin D?


  • Bayi yang masih dalam tahapan ASI eksklusif. Menurut CDC, ASI saja tidak bisa mencukupi kebutuhan vitamin D bayi karena kandungan vitamin D dalam 100 gram ASI hanya 7 IU. Oleh karena itu, AAP merekomendasikan bayi yang hanya mengkonsumsi ASI harus diberi 400 IU vitamin D per hari melalui suplemen.

  • Lansia, karena kemampuan kulit untuk memproduksi vitamin D dari sinar matahari sudah menurun dan ginjal juga kurang dapat mengubah vitamin D menjadi bentuk aktifnya dalam tubuh.

  • Orang-orang dengan warna kulit gelap.

  • Orang-orang dengan gangguan pada usus sehingga penyerapan vitamin D tidak maksimal.

  • Obesitas, karena lemak tubuh akan berikatan dengan vitamin D sehingga lebih sulit masuk ke peredaran darah.

  • Orang-orang dengan gangguan ginjal dan liver.

  • Orang-orang dengan penyakit hiperparatiroid, dimana terjadi pelepasan kalsium dari tulang secara berlebihan akibat hormon paratiroid yang terlalu banyak.

  • Orang-orang yang mengonsumsi obat yang berpengaruh terhadap metabolisme vitamin D, seperti obat kolesterol, obat-obatan anti kejang, glukokortikoid, anti jamur, dan obat-obatan HIV/AIDS.

Pada orang yang berisiko tinggi terkena defisiensi vitamin D, jumlah yang dibutuhkan dapat melebihi standar harian di atas. Jika Anda atau keluarga Anda termasuk dalam kelompok yang berisiko, maka konsultasikan kebutuhan vitamin D harian Anda dengan dokter.


Apa saja cara yang dapat dilakukan untuk memenuhi kebutuhan vitamin D harian?


Seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa vitamin D cukup banyak ditemukan dalam makanan dan vitamin-vitamin yang dijual bebas. Berikut adalah beberapa makanan dan vitamin yang sering kita temui sehari-hari dan kandungan vitamin D-nya.

  1. minyak ikan, sardine (100g) 332 IU

  2. telur (100g) 32 IU

  3. Keju

  4. Kraft cheddar (100g) 24 IU

  5. Mozzarella (100g) 16 IU

  6. Mentega (100g) 60 IU

  7. Susu

  8. susu whole milk (100g) 51 IU

  9. susu nonfat (100g) 0

  10. Zevit Grow 100 IU

  11. CDR 300 IU

  12. Scott Emulsion (15mL) 85 IU

  13. Blackmores Vitamin D3 1000 IU

  • Konsumsi makanan yang kaya vitamin D: minyak ikan salmon, tuna, dan tenggiri, hati sapi, keju, jamur, dan kuning telur.

  • Sereal, susu, minuman kedelai, dan produk susu lainnya seperti yogurt juga dapat menjadi sumber vitamin D. Kandungan vitamin D dari produk-produk ini dapat dilihat pada informasi gizi di label kemasan makanan/minuman.

  • Multivitamin yang mengandung vitamin D, tersedia untuk dewasa dan bayi.

  • Paparan sinar matahari yang efektif, yaitu jam 09.00 secara bertahap selama 5-15 menit sebanyak 2-3 kali dalam seminggu (rekomendasi PERDOSKI).


Konsumsi multivitamin untuk mengatasi defisiensi vitamin D harus disesuaikan dengan kebutuhan ya, teman-teman!

Overdosis vitamin D berbahaya karena menyebabkan mual, muntah, konstipasi, dan peningkatan kadar kalsium darah yang dapat berujung pada disorientasi dan kelainan irama jantung. Oleh karena itu, konsultasikan pada dokter terkait dosis, frekuensi, dan durasinya jika teman-teman ingin mengonsumsi suplemen vitamin D. Lebih baik lagi jika teman-teman memperbanyak asupan vitamin D dari bahan makanan alami dan paparan sinar matahari yang sesuai anjuran.


Penulis:

dr. Dhia Clarissa Putri

dhiaclarissa@gmail.com

Dokter Umum


Editor:

dr. Ade Saputri

adesaptr@gmail.com

Dokter Umum


Desainer Grafis:

Ninda Feranggita Pradani, S.Gz.

nferanggita@gmail.com

Dietisien Muda



Referensi:


  1. Forrest KY, Stuhldreher WL. Prevalence and correlates of vitamin D deficiency in US adults. Nutr Res. 2011;31(1):48. doi: 10.1016/j.nutres.2010.12.001.

  2. Institute of Medicine. Report at a Glance, Report Brief: Dietary reference intakes for calcium and vitamin D, released 11/30/2010. http://www.iom.edu/Reports/2010/Dietary-Reference-Intakes-for-Calcium-and-Vitamin-D/Report-Brief.aspx [Accessed on 14 Mar. 2020].

  3. KEMKES (2018). Cukup vitamin D dan sinar matahari agar mencapai kepadatan tulang yang optimal. [online] Direktorat P2PTM. Available at: http://p2ptm.kemkes.go.id/infographic-p2ptm/penyakit-gangguan-metabolik/cukup-vitamin-d-dan-sinar-matahari-agar-mencapai-kepadatan-tulang-yang-optimal [Accessed 14 Mar. 2020].



24 tampilan

informasi kesehatan terpercaya

  • White Facebook Icon
  • White Instagram Icon

info@healthierindonesia.org              Healthier Indonesia                healthier.indonesia