Benarkah Diet Mayo dapat Menurunkan Berat Badan dengan Aman dan Efektif?

Oleh Melissa Stephanie Kartjito



Apakah teman-teman pernah mendengar tentang diet mayo? Diet mayo sempat populer di Indonesia belakangan ini karena diklaim dapat menurunkan berat badan secara drastis hingga 7 kg selama siklus 13 hari. Namun, apakah benar diet ini dapat menurunkan berat badan secara efektif dan aman? Mari kita simak!



Kesimpulan: Salah.



Diet mayo awalnya terinspirasi dari Mayo Clinic Diet dari Amerika Serikat. Namun tahukah Anda jika diet mayo yang diterapkan ternyata berbeda prinsipnya? Diet mayo sejatinya adalah jenis diet yang membatasi garam. Dalam pelaksanaannya di Indonesia kini, diet ini juga membatasi nasi. Makanan yang boleh dikonsumsi didominasi sayur-sayuran dan sumber protein yang diolah tanpa garam.


Sejatinya, prinsip dari diet yang bertujuan untuk menurunkan berat badan adalah defisit kalori. Artinya kalori yang masuk (lewat makanan/minuman) harus lebih sedikit daripada kalori yang keluar (metabolisme basal, aktivitas sehari-hari, olahraga, dll). Apabila ada defisit kalori jangka panjang, seseorang akan mengalami penurunan berat badan. Prinsip ini digunakan pada semua jenis diet yang berhasil.


Lalu bagaimana dengan diet mayo? Dengan tidak makan nasi sama sekali, otomatis asupan kalori seseorang berkurang. Sebagai gambaran, satu porsi nasi 100 gram atau sekitar 2 centong nasi rice cooker putih (tergantung ukuran centongnya) mengandung 175 kalori. Di sisi lain, sayur 100 gram atau sekitar 1 gelas atau 2 centong sayur besar mengandung 0-50 kalori saja (tergantung jenis sayurannya). Terbayang kan berapa banyak perbedaan kalori yang diasup antara makan nasi tiga kali sehari dengan sayur tiga kali sehari?


Dalam pelaksanaan program diet ini, jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsi sangat dibatasi selama 13 hari. Pada program yang sangat ketat, asupan kalori harian hanya sekitar 500 kilokalori. Defisit kalori yang sangat besar ini membuat efek penurunan berat badan. Namun, cara ini tidak direkomendasikan untuk dilakukan dalam jangka panjang karena adanya risiko malnutrisi. Lalu mengapa banyak testimoni keberhasilan dari program diet ini? Beberapa testimoni menyebutkan penurunan berat badan 7 kg bahkan lebih. Apakah defisit kalori selama 13 hari dapat membuat perubahan sesignifikan itu? Jawabannya kemungkinan besar tidak.


Kembali lagi ke sejarahnya, diet mayo awalnya dirancang untuk pasien berkebutuhan khusus. Pada pasien dengan tekanan darah tinggi, gagal jantung, atau pasien yang memiliki masalah edema/ascites (bengkak akibat penimbunan cairan terutama pada kaki, tangan, atau di dalam rongga perut), cairan perlu dikeluarkan dari dalam tubuh. Garam yang mengandung natrium dapat menahan cairan dalam tubuh yang pada akhirnya dapat memperparah kondisi tersebut. Untuk itu dianjurkanlah diet rendah garam untuk mengurangi penumpukan cairan.


Penurunan berat badan sebenarnya merupakan efek sekunder dari diet ini. Konsumsi natrium dalam jumlah banyak akan menyebabkan air tertahan dalam tubuh sehingga badan nampak berat. Sebaliknya, diet dengan pembatasan natrium akan menyebabkan air dikeluarkan dari tubuh dalam jumlah besar sehingga berat badan berkurang. Nah, karena air merupakan penyusun tubuh yang diatur dengan sangat dinamis maka efek penurunan berat badan ini juga bersifat sementara. Ketika Anda kembali mengonsumsi garam dalam jumlah normal, maka kembali terjadi penumpukan cairan yang selanjutnya akan meningkatkan berat badan.


Maka apabila teman-teman tidak mengalami masalah-masalah tersebut, cukup memperhatikan asupan garam saja ya, sebab menurut rekomendasi Kemenkes, konsumsi garam dibatasi 1 sendok teh (5 gram garam atau 2000 mg natrium) sehari. Ingat bahwa garam secara umum sudah terkandung dalam makanan sehingga sebisa mungkin tidak perlu diberikan penambahan garam meja, ya! Selain itu, diet yang direkomendasikan adalah perubahan pola makan dalam jangka panjang. Penurunan berat badan dicapai melalui defisit kalori dengan mengonsumsi jenis dan jumlah makanan yang tepat serta diseuaikan dengan kebutuhan tubuh kita. Jika Anda ingin membuat program diet yang tepat, jangan ragu untuk mendatangi ahli gizi, ya! Memiliki badan ideal dapat dicapai dengan cara-cara yang sehat :)



Penulis:

Melissa Stephanie Kartjito

melissa.s.kartjito@gmail.com

Mahasiswa Gizi Kesehatan


Editor:

dr. Rio Restu Priambodo

riorestup@gmail.com

Dokter Umum


Fotografer:

Francisco Gilbert Timothy, S.Ked.

franciscogani@gmail.com

Dokter Muda



Referensi:

  1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2017). Gula Garam Lemak. Diakses dari www.depkes.go.id

  2. Persatuan Ahli Gizi Indonesia & Asosiasi Dietisien Indonesia. (2019). Penuntun Diet dan Terapi Gizi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

74 tampilan

informasi kesehatan terpercaya

  • White Facebook Icon
  • White Instagram Icon

info@healthierindonesia.org              Healthier Indonesia                healthier.indonesia