Disinfeksi Tubuh Manusia Dalam Menghadapi COVID-19: Efektif Atau Berbahaya?

Diperbarui: Apr 18

Oleh Destantry Jasmin Lieben Sau, S.Ked.



Beberapa waktu terakhir ini, dunia sangat dihebohkan dengan pandemi COVID-19 yang terjadi di beberapa negara, termasuk di Indonesia. Dari hari ke hari, kasus positif COVID-19 semakin bertambah di berbagai belahan dunia. Kondisi tersebut pun menyebabkan semakin banyak orang yang menjadi panik dan berusaha untuk melindungi diri dari infeksi virus SARS-CoV2 ini. Berbagai cara telah dilakukan oleh warga Indonesia untuk mencegah infeksi virus ini, salah satunya dengan menyemprotkan disinfektan seperti alkohol atau klorin secara langsung ke tubuh masyarakat di berbagai titik keramaian tertentu, seperti stasiun kereta api, mall, hingga area gang untuk memasuki RT/RW tertentu. Aksi ini telah banyak dilakukan oleh warga tanah air. Lalu, bagaimana dengan efektivitas serta efek samping yang disebabkan oleh aksi ini?



Mengapa menyemprotkan disinfektan secara langsung ke tubuh itu berbahaya?


Menurut pemaparan Dr. Endang Lukitaningsih, S.Sc., M.Sc., Apt., seorang peneliti Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada, disinfektan merupakan bahan kimia yang digunakan untuk menghambat atau membunuh mikroorganisme seperti bakteri, virus, dan jamur, kecuali spora bakteri pada permukaan benda mati, seperti lantai, perabotan, dan ruangan. Beliau juga mengatakan bahwa disinfektan tidak untuk digunakan pada kulit atau membran mukosa karena memiliki risiko mengiritasi kulit dan memicu kanker.


Terdapat berbagai jenis zat kimia yang dapat digunakan sebagai disinfektan seperti alkohol, klorin, lisol, hipoklorit, hidrogen peroksida, dan sebagainya. Meskipun memiliki fungsi sebagai disinfektan, bahan-bahan kimia tersebut dapat berbahaya jika tidak digunakan secara tepat.


Menurut WHO, menyemprotkan alkohol atau klorin secara langsung ke tubuh tidak akan membunuh virus yang sudah masuk ke dalam tubuh. Justru menyemprotkan bahan-bahan tersebut dapat merusak pakaian; berbahaya terhadap membran mukosa, seperti mata, hidung, mulut, kulit; serta dapat menyebabkan iritasi. Penggunaan alkohol dan klorin ini memang perlu diperhatikan dengan baik sesuai rekomendasi. Keduanya digunakan untuk desinfeksi permukaan benda, tetapi Tidak untuk permukaan tubuh manusia karena tidak efektif dan malah berisiko membahayakan kesehatan manusia, oleh karena efeknya yang dapat mengiritasi mukosa tadi serta menyebabkan gangguan pernapasan bila terhirup hingga masuk ke paru. Selain itu, menurut WHO dalam laporan Exposure to Artificial UV Radiation and Skin Cancer, dikatakan bahwa paparan sinar ultraviolet buatan dapat menyebabkan kanker kulit terutama jika terpapar terus-menerus dan sering terjadi pada orang berkulit putih. Dalam hal ini, bilik disinfektan yang dikombinasikan dengan sinar UV dapat meningkatkan risiko seseorang terkena kanker kulit.


Menurut buku Environmental Health Criteria for Disinfectants and Disinfectant by-Products, klorin telah diketahui sebagai agen yang dapat mengiritasi paru-paru bila terhirup. Sebagian besar studi menunjukkan bahwa orang yang menghirup klorin dapat mengalami gangguan pernapasan, bronkitis, emfisema, dan berbagai penyakit pernapasan akut. Selain itu, paparan terhadap klorin juga dapat menyebabkan keracunan, jika tidak sengaja terminum.


Berikut ini merupakan rangkuman beberapa bahaya paparan disinfektan terhadap tubuh manusia


  1. Gangguan sistem pernapasan. Hal ini terjadi karena bahan kimia dalam disinfektan dapat mengiritasi saluran pernapasan jika terhirup. Kondisi tersebut dapat menyebabkan sesak napas, batuk, bahkan dapat menyebabkan kekambuhan asma pada penderita asma. Dalam sebuah penelitian di Amerika Serikat terhadap penderita asma yang terpapar disinfektan (klorin, hipoklorit, hidrogen peroksida) yang terhirup, didapatkan hasil bahwa sering terjadi kekambuhan asma walaupun mekanismenya belum diketahui secara pasti. Hal ini diperkirakan karena bahan kimia yang terkandung di dalam disinfektan dapat mencetus peradangan pada saluran pernapasan.

  2. Iritasi pada mata. Iritasi pada mata akibat bahan kimia sering disebabkan oleh sabun, disinfektan, kosmetik serta bahan pemutih (bleaching agent). Agen pemutih mengandung klorin dan hipoklorit yang akan bereaksi dengan jaringan biologis dan menyebabkan iritasi dan kematian sel akibat denaturasi protein karena sifatnya yang basa. Reaksi tersebut bisa terjadi sangat berat pada jaringan yang sensitif, seperti lapisan mukosa pada organ mata.

  3. Kerusakan pada kulit. Paparan bahan kimia yang terkandung dalam disinfektan pada kulit dapat menyebabkan kulit kering, iritasi, kemerahan, perubahan warna kulit permanen, jerawat akibat paparan klorin, luka bakar, bahkan kanker kulit jika terpapar terus-menerus.

  4. Paparan bahan kimia yang terkandung dalam disinfektan juga dapat menyebabkan efek sistemik pada tubuh, bila terpapar terus-menerus. Efek tersebut bisa terjadi pada organ spesifik maupun sistem organ pada tubuh, seperti kerusakan jantung, hati, ginjal, kandung kemih dan beberapa organ lain.


Berdasarkan hal-hal yang sudah disebutkan di atas, sudah dapat kita disimpulkan bahwa penyemprotan disinfektan secara langsung ke tubuh manusia tidak efektif membunuh virus yang sudah masuk ke dalam tubuh manusia. Penyemprotan disinfektan secara langsung ke tubuh manusia ini juga dapat menyebabkan berbagai efek yang membahayakan bagi kesehatan.


Seperti yang sudah disampaikan oleh WHO, disinfektan digunakan untuk permukaan benda mati disekitar kita, bukan tubuh manusia.

Sehingga, sesuai dengan rekomendasi Center for Disease Control and Prevention (CDC) di Amerika lebih baik kita membersihkan dan melakukan desinfeksi pada permukaan benda yang sering disentuh di rumah, seperti meja, kursi, saklar lampu, telepon, toilet, wastafel, dan tidak lupa juga perangkat ponsel pribadi kita, ya, Sobat Sehat. Hal ini agar kita menggunakan disinfektan secara baik, aman, dan sesuai dengan fungsinya.



Penulis:

Destantry Jasmin Lieben Sau, S.Ked.

djasmine98.dj@gmail.com


Editor:

dr. Stephen Valentino

stephenvalentinomd@gmail.com




Referensi:


  1. Affairs, S. (2007). Effects of disinfectants and detergents on skin irritation. (12), 235–241.

  2. Benzoni T, Hatcher JD. Bleach Toxicity. [Updated 2019 Sep 3]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2020 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK441921/

  3. Craun, G. F., Craun, G. F., & Pegram, R. A. (2004). Environmental Health Criteria 216 DISINFECTANTS AND DISINFECTANT BY-PRODUCTS.

  4. Cummings, K. J. (2018). HHS Public Access. 45(10), 1133–1138. https://doi.org/10.1016/j.ajic.2017.04.003.Health

  5. Exposure to Artificial UV Radiation and Skin Cancer. (2006). World Health Organization.

  6. Grellier, J., Rushton, L., Briggs, D. J., & Nieuwenhuijsen, M. J. (2015). Assessing the human health impacts of exposure to disinfection by-products — A critical review of concepts and methods ☆. Environment International, 78, 61–81. https://doi.org/10.1016/j.envint.2015.02.003

  7. Services, H. (n.d.). DEPARTMENT OF HEALTH AND HUMAN SERVICES Centers for Disease Control and Prevention National Institute for Occupational Safety and Health.

  8. https://www.canada.ca/en/health-canada/services/drugs-health-products/disinfectants/covid-19/list.html [diakses pada tanggal 8 April 2020]

  9. https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/prevent-getting-sick/cleaning-disinfection.html [diakses pada tanggal 8 April 2020]

  10. https://www.health.harvard.edu/a_to_z/chemical-injury-to-the-eye-a-to-z [diakses pada tanggal 8 April 2020]

  11. https://www.ugm.ac.id/en/news/19235-ugm-expert-explains-the-proper-use-of-disinfectants-to-prevent-covid-19 [diakses pada tanggal 8 April 2020]

52 tampilan

informasi kesehatan terpercaya

  • White Facebook Icon
  • White Instagram Icon

info@healthierindonesia.org              Healthier Indonesia                healthier.indonesia