Pembahasan Live Instagram JRX dan dr. Tirta: Fakta dan Data mengenai COVID-19

Oleh: dr. Paulin Surya Phillabertha



Salam Sobat Sehat! Pada artikel pertama seputar teori konspirasi ini, kita sudah membahas berbagai alasan seseorang dapat mempercayai teori konspirasi. Kalian dapat membaca artikelnya kembali pada tautan ini: https://www.healthierindonesia.org/post/covid-19-konspirasi-elit-global


Pada edisi kedua ini, mari bersama-sama kita simak dan pahami fakta dan data yang mendukung mengenai kasus COVID-19 serta sekaligus membahas salah satu teori konspirasi yang banyak beredar. Untuk mengetahui kebenaran tentang konspirasi COVID-19, silahkan simak informasi di bawah ini!


BERITA:


    Pada masa pandemi ini muncul berbagai macam teori konspirasi mengenai COVID-19. Dimulai pernyataan bahwa virus ini merupakan senjata biologi yang berasal dari laboratorium di Wuhan, virus ini merupakan buatan Amerika, virus ini dibawa oleh tentara AS ke Wuhan, hingga Bill Gates diberitakan telah membuat virus corona baru beserta vaksin yang dipersiapkan dengan microchip di dalamnya. Beberapa waktu ini muncul tagar #RencanaElitGlobal pada media sosial twitter mengenai teori konspirasi COVID-19. Tagar tersebut dipicu oleh salah satu influencer yang menyebutkan bahwa seseorang yang sakit tidak perlu melakukan tes virus korona karena sakit tersebut bisa disembuhkan dengan cara biasa. Berbagai teori konspirasi yang muncul di masa pandemi Covid-19 telah dipercayai oleh berbagai orang.

    Menurut sang influencer, kematian COVID-19 dilebih-lebihkan oleh tenaga medis. Contohnya, dari 25 dokter yang meninggal, banyak yang sebenarnya memiliki riwayat stroke, penyakit jantung, dan lain-lain namun diberitakan seakan-akan COVID-19 adalah satu-satunya penyebab. Pemicu ketakutan terbesar adalah kematian yang banyak di Italia, padahal menurut data (tidak disebutkan sumber) 99% kematian di Italia adalah pasien yang sudah sepuh atau kritis. Akibat media yang melebih-lebihkan keparahan COVID-19, terjadi kepanikan sehingga orang-orang menjadi jadi dan sesak karena sebab psikosomatis.

Apakah Virus SARS CoV-2 buatan laboratorium?


Kita pernah mendengar suatu berita yang menyatakan bahwa virus penyebab COVID-19 merupakan virus yang berasal dari laboratorium di Wuhan. Menurut studi yang dilakukan oleh Kristian Anderson di jurnal Nature Medicine, ditemukan bahwa struktur genetik SARS-CoV-2 bukan buatan manusia sehingga tidak mungkin berasal dari laboratorium di Wuhan. Secara struktur genetik, virus tersebut mengalami proses mutasi yang terjadi secara alamiah. Proses mutasi tersebut memungkinkan virus untuk masuk ke dalam tubuh manusia, membelah diri, dan membentuk sistem pertahanan virus sendiri terhadap sistem pertahanan tubuh.


Kesimpulan: SALAH



Apakah benar bahwa 99% kasus kematian COVID-19 disertakan penyakit pemberat?

Mari kita lihat terlebih dahulu data kasus COVID-19 di China dan Indonesia.


Dari data di atas, kita sama-sama dapat melihat bahwa lebih banyak penderita berusia lebih dari 30 tahun, berjenis kelamin laki-laki, dan penderita dengan penyakit penyerta memiliki risiko yang lebih tinggi. Terlebih lagi dalam WHO-China Joint Commision Report melaporkan bahwa angka kematian dengan Case Fatality Rate (CFR) pada pasien tanpa penyakit penyerta sebesar 1,4% dan angka tersebut lebih besar pada pasien dengan penyakit penyerta. Pada pasien dengan penyakit penyerta jantung memiliki CFR sebesar 13,2%, 9,2% pada penderita diabetes, 8,4% pada penderita tekanan darah tinggi, 8,0% pada penderita penyakit paru kronik, dan 7,6% pada penderita kanker.


Bagaimana dengan data di Italia?




Menurut data yang dilaporkan pada statista.com per 29 April 2020, ditemukan bahwa 2.4% pasien meninggal tanpa disertai penyakit penyerta. Selain itu, mayoritas penderita COVID-19 di Italia yang meninggal memiliki penyakit penyerta berupa 69,2% hipertensi, 31,8% diabetes melitus, 28,2% Penyakit Jantung Koroner (PJK), 21% gagal ginjal kronik, dan lain-lain.

Memang benar bahwa penderita COVID-19 yang memiliki penyakit penyerta lebih berisiko. Penderita COVID-19 yang memiliki penyakit penyerta mengalami gejala yang lebih berat karena lebih mudah mengalami peradangan dan sistem pertahanan tubuh yang lebih lemah daripada seseorang tanpa penyakit penyerta. Namun, ini tidak berarti bahwa orang tanpa faktor risiko tidak harus waspada terhadap COVID-19.


Kita perlu tetap berhati-hati dan melaksanakan prinsip pencegahan COVID-19 karena dapat menularkan virus ke orang lain yang rentan. Bisa saja kita tidak bergejala namun menularkan kepada kelompok rentan seperti orang tua kita.

Kesimpulan: BENAR



Apakah benar kita tidak perlu melakukan tes virus karena bisa sembuh sendiri?

Sempat juga disebutkan bahwa jika kita sakit dengan memiliki gejala dan riwayat ke arah COVID-19 maka kita tidak perlu melakukan tes COVID-19 karena bisa disembuhkan dengan cara biasa. Mari kita pahami fungsi tes tersebut.


Tes cepat diagnostik maupun tes RT-PCR dilakukan sesuai dengan kondisi dan keluhan pasien. Tes ini berfungsi untuk menentukan apakah pasien tersebut benar-benar menderita COVID-19 atau bukan. Namun, perlu diingat bahwa tujuan dari tes ini bukan hanya untuk menentukan terapi yang paling tepat, tapi juga untuk mencegah penularan ke orang lain. Bila hasilnya positif perlu dilakukan isolasi dan penelusuran kontak.


Walaupun orang yang tidak memiliki penyakit penyerta kemungkinan besar dapat sembuh sendiri, kita perlu menjaga orang yang tidak seberuntung kita. Pentingnya melakukan tes ini bukan untuk diri kita saja, tetapi juga untuk kepentingan orang banyak.

Kesimpulan: SALAH



Jadi, apa saja kesimpulan yang dapat kita tarik?

Berdasarkan paparan di atas, ada beberapa hal yang dapat kita simpulkan.

  1. Penyakit COVID-19 itu nyata, bukan merupakan sebuah konspirasi, dan bukti mengarah ke kenyataan bahwa virus ini bukan buatan laboratorium.

  2. Walaupun mayoritas kasus kematian disertai penyakit penyerta, kita tetap harus jaga diri supaya tidak terkena COVID-19 karena dapat menular ke orang lain. Tetap lakukan prinsip utama pencegahan COVID-19 dengan memakai masker, menerapkan etika batuk dan bersin, mencuci tangan 6 langkah, dan menjaga jarak.

  3. Tetap perlu melakukan tes virus COVID-19 sesuai dengan anjuran dokter supaya dapat mencegah dapat mencegah penularan virus ke kelompok orang rentan.


Bila mendapati gejala COVID-19 atau memiliki riwayat kontak dengan pasien COVID-19 jangan lupa untuk menghubungi fasilitas kesehatan terdekat. Tetap sehat dan aman di rumah Sobat!

Penulis:

dr. Paulin Surya Phillabertha

paulinephillabertha@gmail.com

Dokter umum

Editor:

dr. Marsa Harisa Daniswara

marsa.harisa@gmail.com

Dokter Umum

Fotografer:

Mia Anisaúl Yuhdiah

miaanisaul19@gmail.com

Mahasiswi Ilmu Keperawatan

Sumber: www.123rf.com


Referensi:


  1. Natasha Khairunisa Amani. (2020). Deretan Teori Konspirasi Virus Corona COVID-19 dan Fakta di Baliknya. Liputan 6. https://www.liputan6.com/global/read/4241720/deretan-teori-konspirasi-virus-corona-covid-19-dan-fakta-di-baliknya#. Diakses 5 Mei 2020.

  2. Line Today. (2020). Trending #RencanaElitGlobal, Dipicu Postingan Jerinx soal Teori Konspirasi Dunia. Line Today. https://today.line.me/ID/article/BlNRrQ?utm_source=washare. Diakses 5 Mei 2020

  3. World Health Organization. (2020). Report of the WHO-China Joint Mission on Coronavirus Disease 2019 (COVID-19). World Health Organization. Retrieved from https://www.who.int/docs/default-source/coronaviruse/who-china-joint-mission-on-covid-19-final-report.pdf Diakses 13 Mei 2020

  4. Yang, J., Zheng, Y., Gou, X., Pu, K., Chen, Z., & Guo, Q. et al. (2020). Prevalence of comorbidities and its effects in patients infected with SARS-CoV-2: a systematic review and meta-analysis. International Journal Of Infectious Diseases, 94, 91-95. https://doi.org/10.1016/j.ijid.2020.03.017

  5. Satuan Tugas COVID-19 Indonesia. 2020. Peta Sebaran. Covid19.go.id. Diakses 11 Mei 2020

  6. Saey, T. H. 2020. No, the coronavirus wasn’t made in a lab. A genetic analysis shows it’s from nature. https://www.sciencenews.org/article/coronavirus-covid-19-not-human-made-lab-genetic-analysis-nature. Diakses 11 Mei 2020.

  7. Andersen, K., Rambaut, A., Lipkin, W., Holmes, E., & Garry, R. (2020). The proximal origin of SARS-CoV-2. Nature Medicine, 26(4), 450-452. https://doi.org/10.1038/s41591-020-0820-9

  8. 2020. Report of the WHO-China Joint Mission on Coronavirus Disease 2019 (COVID-19). Statista Dossier. https://www.statista.com/statistics/1110949/common-comorbidities-in-covid-19-deceased-patients-in-italy/. Diakses 12 Mei 2020

  9. Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit. 2020. Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease (COVID-19). Kementerian Kesehatan Republik Indonesia

39 tampilan

informasi kesehatan terpercaya

  • White Facebook Icon
  • White Instagram Icon

info@healthierindonesia.org              Healthier Indonesia                healthier.indonesia