Jangan Salah Paham tentang Herd Immunity!

Oleh dr. Frederica Vania Agustina

Beberapa minggu ini, Sobat Sehat dimanapun kalian berada, pasti pernah mendengar tentang “New Normal” setidaknya sekali dalam sehari atau ada pula diantara sobat sehat yang sudah menerapkan new normal ini? Sebenarnya banyak orang yang belum siap menghadapinya, tetapi tidak sedikit juga yang sudah tidak sabar untuk menyambut kehidupan ‘normal’ setelah berbulan-bulan karantina. Konsep new normal juga seringkali dikaitkan dengan istilah lain yang juga sudah sering kita dengar: herd immunity. Namun karena konsepnya yang sangat kompleks, mungkin sebagian dari kita belum memahami apa itu herd immunity sepenuhnya. Di artikel ini, kami akan menjelaskan tentang herd immunity dengan sesederhana mungkin, agar tidak ada lagi kesalahpahaman dalam menanggapinya. Sebelumnya, apakah menurut sobat sehat herd immunity merupakan solusi yang baik untuk mengakhiri pandemi ini? Mari cermati artikel berikut ini, and see if your answer changes.


Pengertian Herd Immunity


Sebelum kita mempelajari tentang herd immunity, kita harus memahami dulu konsep imunitas seorang individu. Imunitas manusia terdiri dari imunitas bawaan dan imunitas adaptif. Imunitas bawaan merupakan imunitas yang sudah ada di tubuh kita ‘dari sananya’, seperti sel darah putih, dan zat-zat khusus yang dikeluarkan oleh tubuh kita sebagai respon dari adanya virus/kuman penyakit. Sedangkan imunitas adaptif, seperti namanya, merupakan imunitas yang muncul dari hasil adaptasi tubuh kita terhadap serangan penyakit. Ada dua cara memperoleh imunitas adaptif, yaitu dengan sembuh dari sebuah penyakit dan melalui vaksinasi. (Ingat sobat sehat, konsep vaksinasi adalah memasukkan patogen yang sudah dilemahkan atau sudah mati kedalam tubuh kita, sebagai sarana tubuh kita ‘latihan’ jika nanti menghadapi patogen yang sesungguhnya).


Apabila jumlah individu dalam sebuah populasi yang sembuh dari penyakit sudah mencukupi, maka akan terbentuklah suatu perlindungan tidak langsung untuk individu lain yang belum pernah terinfeksi penyakit tersebut. Hal inilah yang disebut sebagai herd immunity.


Jika sebagian besar penduduk dalam suatu wilayah pernah sembuh atau sudah pernah menerima vaksin dari suatu penyakit, maka mereka punya imunitas adaptif terhadap penyakit tersebut. Sehingga apabila suatu saat ada 1 warga yang terinfeksi penyakit tersebut, laju penularannya akan rendah, karena warga lain sudah ‘kebal’. Hal ini sudah terjadi pada penyakit polio, cacar air dan campak, yang dulu banyak sekali menginfeksi anak-anak di seluruh dunia tapi sekarang sudah sangat jarang, karena sudah ditemukan vaksinnya. Kita semua pun pasti sudah pernah mendapatkan imunisasi ketiga penyakit tersebut waktu kecil.


Berapa banyak yang harus terinfeksi untuk mencapai herd immunity?


Terdapat dua cara untuk mencapai herd immunity, yaitu banyak orang terkena suatu penyakit (dan kemudian sembuh), atau dengan vaksinasi. Berdasarkan penelitian sebelumnya, setidaknya 70-90% orang dalam suatu populasi harus sembuh dari infeksi suatu penyakit untuk mencapai herd immunity. Angka ini tentu saja tidak saklek, karena tergantung dari derajat infeksius dari penyakit tersebut.


Pada COVID-19 yang sedang menjadi pandemi beberapa bulan terakhir ini, diperkirakan dibutuhkan setidaknya 70% orang terinfeksi dari total populasi. Angka 70% ini pun tidak sama di semua daerah, karena sangat bergantung pada pola penularan, dinamika populasi, serta daya tahan tubuh atau resiko kerentanan penduduk di masing-masing daerah.


Herd immunity pada COVID-19


Apakah berarti semakin banyak orang yang terinfeksi COVID-19 akan semakin baik? Kan akan semakin banyak orang yang kebal?


Perlu diingat bahwa efektivitas herd immunity sangat bergantung pada kekuatan dan durasi imunitas yang diperoleh setelah sembuh dari penyakit tersebut. Untuk penyakit-penyakit yang memberikan kekebalan seumur hidup (contohnya penyakit/vaksinasi campak), herd immunity sangatlah efektif dan dapat mencegah penyebaran penyakit tersebut dalam sebuah populasi. Namun situasi ini sangat jarang terjadi, imunitas terhadap kebanyakan penyakit biasanya akan menurun seiring berjalannya waktu karena itu ada yang namanya booster imunisasi untuk meningkatkan efektivitasnya. Pada kondisi ini, herd immunity tidak akan efektif, karena masih dapat terjadi outbreak baru. Selain itu, jika herd immunity tidak merata pada semua populasi, outbreak masih tetap bisa terjadi karena masih adanya populasi yang belum kebal.


Untuk COVID-19 sendiri, efektivitas dari herd immunity belum diketahui, karena penyakit ini merupakan penyakit yang baru dan masih menjadi pandemi, sehingga butuh waktu lebih lama lagi untuk mempelajari karakteristiknya.


Waduh, pusing nih Dok bacanya.


Oke, mari kita tinjau konsep herd immunity pada konsep COVID-19 dari sudut pandang yang aplikatif ya!


Pada paragraf diatas sudah dijelaskan, bahwa untuk mencapai herd immunity COVID-19 diperlukan setidaknya 70% dari total populasi yang terkena COVID-19, lalu sembuh. Angka 70% itu tentu saja bukan jumlah yang sedikit, rakyat Indonesia saja jumlahnya lebih dari 267 juta jiwa. Jika kita lihat dari 70% orang yang terinfeksi tersebut, tidak mungkin semuanya dalam kondisi yang baik dan bisa langsung sembuh secara alamiah. Tentu saja banyak orang-orang lanjut usia, anak-anak, orang dengan komorbid, orang dengan gangguan kekebalan tubuh, bahkan orang muda sehat , yang kondisinya akan sangat buruk jika terinfeksi COVID-19. Kondisi ini akan membuat banyak pasien memerlukan pelayanan medis seperti perawatan di ICU, pemasangan alat bantu nafas, dan lain-lain. Sedangkan, kapasitas pelayanan medis di negara manapun sudah pasti terbatas.


Apabila jumlah orang yang memerlukan pelayanan medis melebihi kapasitas yang tersedia, maka akan terjadi kekacauan. Kondisi ini akan menyebabkan banyak pasien yang sebenarnya memerlukan perawatan atau peralatan medis tertentu, tapi tidak dapat mengaksesnya karena keterbatasan sumber daya. Angka kematian pun pasti akan melonjak.


Hubungannya dengan new normal


Yups, New normal sedang marak dibicarakan akhir-akhir ini. Definisi dari new normal pun masih diperdebatkan. Apakah berarti kita boleh beraktivitas seperti biasa? Ada dua skenario yang bisa diterapkan.


Skenario pertama, masyarakat beraktivitas seperti biasa, seperti waktu sebelum terjadi pandemi COVID-19. Tidak pakai masker, tidak mempraktekan physical distancing, tidak menjaga higienitas. Apa yang akan terjadi? Sudah pasti penularan COVID-19 akan terjadi dengan sangat cepat dan tidak terkendali, kurva pasien terinfeksi pun pasti akan semakin naik.


Skenario kedua, meskipun sudah mulai keluar rumah dan beraktivitas, masyarakat tetap mawas diri dan tetap menjaga jarak, rajin cuci tangan, dan selalu memakai masker. Memang dengan memperbolehkan masyarakat keluar rumah untuk beraktivitas resiko penularan COVID-19 tetap ada, namun setidaknya ada usaha aktif dari masyarakat untuk menekan laju penularan. Harapannya, penularan COVID-19 dapat ditekan atau setidaknya dikendalikan.


Sampai kapan kita harus menjalani new normal yang sebenarnya tidak terlalu normal ini?


Sampai vaksin COVID-19 berhasil ditemukan, lolos uji coba, dan didistribusikan alias hingga batas waktu yang belum dapat ditentukan. Menurut para ahli, vaksin COVID-19 diperkirakan baru ditemukan 12-18 bulan dari sekarang.


Kesimpulannya, herd immunity akan dapat bekerja dengan maksimal jika sudah ditemukan vaksinasi dari suatu penyakit. Apabila belum ditemukan vaksin, apakah herd immunity dapat merupakan metode yang baik untuk mengakhiri pandemi ini? Saya rasa kita semua sudah tahu jawabannya ya, sobat sehat ☺


Life must go on. Memang tidak selamanya kita dapat karantina di rumah. Namun, harus selalu diingat bahwa pencegahan dan pengendalian infeksi merupakan kunci utama yang harus dilakukan.

Meskipun new normal sudah mulai diterapkan, tetaplah berhati-hati, dan jangan beraktivitas seakan-akan semuanya sudah kembali ‘normal’, karena pandemi ini belum selesai.

Jangan lupa juga untuk mengingatkan keluarga, teman-teman, dan orang-orang sekitar untuk selalu menjaga diri dengan baik ditengah-tengah new normal ini, agar kita semua terhindar dari infeksi COVID-19. Stay safe!



Penulis

dr. Frederica Vania Agustina

frederica.vania@gmail.com

Dokter Umum


Editor

dr. Ade Saputri

adesaptr@gmail.com

Dokter Umum


Referensi:

  1. Gypsyamber D’Souza. 2020. “What is Herd Immunity and How Can We Achieve it with COVID-19?”. John Hopkins Bloomberg School of Public Health. Diakses pada https://www.jhsph.edu/covid-19/articles/achieving-herd-immunity-with-covid19.html

  2. Randolph H, Barreiro L. 2020. ”Herd Immunity: Understanding COVID-19”. Diakses pada https://doi.org/10.1016/j.immuni.2020.04.012


22 tampilan

informasi kesehatan terpercaya

  • White Facebook Icon
  • White Instagram Icon

info@healthierindonesia.org              Healthier Indonesia                healthier.indonesia