HIV: Dari Fakta hingga Stigma!

dr. Frederica Vania Agustina (Penulis)

Riyo Pungki Irawan, S.Ked. (Editor)


Apa yang pertama kali terlintas di pikiran Anda saat mendengar kata HIV ataupun kata AIDS?

Kebanyakan orang mungkin akan telanjur ketakutan saat membayangkannya. Lalu, apakah Anda bersedia berteman dengan pengidap HIV? Sejauh apakah Anda berani berinteraksi dengan pengidap HIV?


Yuk, kita sama-sama belajar tentang HIV dan AIDS agar tidak ada lagi stigma yang negatif!




Apa itu HIV? Bagaimana penularannya?

HIV (human immunodeficiency virus) adalah virus yang menyerang sel kekebalan tubuh, sehingga pengidap HIV akan lebih rentan terserang infeksi dan penyakit lainnya. HIV ditularkan melalui kontak dengan cairan tubuh pengidap HIV, biasanya melalui hubungan seks yang tidak aman (hubungan seks tanpa kondom atau obat khusus untuk mencegah atau mengendalikan HIV), atau melalui jarum suntik.


Perlu diingat, HIV tidak akan menular melalui kontak fisik seperti bersentuhan, bersalaman, berpelukan, menggunakan peralatan makan yang sama, bahkan berciuman (dengan catatan kulit yang bersentuhan harus utuh, jangan sampai ada luka terbuka atau perdarahan yang memungkinkan adanya pertukaran cairan tubuh).



Apakah HIV sama dengan AIDS?

Apabila tidak ditangani, maka HIV dapat berlanjut menjadi sebuah penyakit yang bernama AIDS (acquired immunodeficiency syndrome). Sesuai namanya, pengidap AIDS akan menunjukkan gejala-gejala atau sindrom daya tahan tubuh yang lemah. Gejalanya pun beragam tergantung stadiumnya, mulai dari demam berbulan-bulan, sariawan yang banyak dan tidak kunjung sembuh, batuk lama, diare berbulan-bulan, dan yang lainnya. Hal ini disebabkan karena tubuh tidak lagi memiliki kekebalan tubuh untuk melawan virus atau bakteri penyebab penyakit yang pada orang sehat dapat dilawan dengan relatif mudah.



Apakah HIV bisa diobati?

Untuk saat ini, belum ditemukan obat yang bisa menyembuhkan HIV. Obat yang tersedia adalah ARV (antiretroviral) yang bekerja dengan cara memperlambat penambahan jumlah virus. Harapannya, keparahan penyakit pun akan melambat. Pengobatan dengan ARV ini dilakukan seumur hidup. Karena penyakit ini sifatnya seumur hidup, maka jalan terbaik adalah untuk mencegahnya.



Lalu, bagaimana cara mencegahnya?

Terdapat berbagai upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah penularan HIV, antara lain:

  • Gunakan kondom yang baru setiap kali berhubungan seks, baik secara vaginal maupun anal

  • Hindari berhubungan seks dengan lebih dari satu pasangan

  • Bersikap jujur pada pasangan apabila mengidap HIV positif (maupun infeksi menular seksual lainnya)

  • Jika menduga baru saja terinfeksi atau tertular virus HIV, segera ke dokter agar mendapatkan obat post-exposure prophylaxis (PEP) untuk mencegah berkembangnya virus HIV pasca terpapar

  • Hindari penggunaan jarum suntik bersama-sama (baik itu untuk penggunaan narkoba, tato, tindik, dsb)


Apa itu stigma dan diskriminasi HIV?

Stigma masyarakat Indonesia terhadap pengidap HIV maupun AIDS memang masih beragam. Padahal, stigma yang salah ini dapat membuat pengidap HIV dan AIDS menjadi patah semangat untuk melanjutkan pengobatan mereka.


Stigma HIV adalah perilaku dan prasangka yang negatif terhadap pengidap HIV. Stigma juga sering kali membuat masyarakat memberikan label pengidap HIV sebagai kelompok yang tidak dapat diterima secara sosial. Berikut adalah contoh stigma:

  • Meyakini bahwa hanya beberapa kelompok tertentu yang dapat terkena HIV

  • Menghakimi orang yang melakukan pencegahan penularan HIV

  • Merasa bahwa seseorang pantas terkena HIV karena gaya hidupnya


Sering kali stigma berujung kepada diskriminasi, yaitu memperlakukan pengidap HIV secara berbeda dengan orang tanpa HIV, seperti menolak untuk berteman atau bahkan mengucilkan pengidap HIV.


Stigma dan diskriminasi terhadap pengidap HIV sangat memengaruhi kesehatan mental dan emosional pengidap HIV. Pengidap HIV akan perlahan-lahan memiliki pandangan yang negatif terhadap diri mereka sendiri. Mereka akan takut “ketahuan” mengidap HIV apabila mereka memeriksakan diri atau mencari pertolongan tenaga kesehatan. Sehingga pada saat ini banyak sekali pengidap HIV yang merahasiakan statusnya karena takut dikucilkan. Padahal tanpa pengobatan yang semestinya, kualitas hidup pengidap HIV pasti akan menurun. Risiko kematian maupun penularan kepada orang lain juga dapat menjadi lebih tinggi.


Setelah mempelajari tentang HIV dan AIDS, cara penularannya, serta cara pencegahannya, marilah kita berhenti memiliki stigma yang buruk terhadap pengidap HIV dan AIDS. Pengidap HIV dan AIDS harus dirangkul, dan dimotivasi agar bersemangat dalam menjalani pengobatannya.


Jangan menjauhi pengidap HIV dan AIDS!
Yang harus kita jauhi adalah stigma dan diskriminasi terhadap pengidap HIV dan AIDS.

dr. Frederica Vania Agustina

frederica.vania@gmail.com

Dokter internship RSUD Bendan Pekalongan

Alumni FK Universitas Diponegoro


Riyo Pungki Irawan, S.Ked

riyopungkiirawan@gmail.com

Dokter Muda RSUP Dr. Sardjito


Referensi:

  1. hiv.gov, 2019. “What are HIV and AIDS?”

  2. CDC.gov, 2018. “HIV Among Pregnant Women, Infants, and Children

  3. siha.depkes.go.id, 2017. “Program Pengendalian HIV dan PIMS di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama”

  4. hiv.gov, 2019. “HIV Stigma

68 tampilan

informasi kesehatan terpercaya

  • White Facebook Icon
  • White Instagram Icon

info@healthierindonesia.org              Healthier Indonesia                healthier.indonesia