Ancaman Gelombang Kedua Wabah COVID-19 Setelah Idul Fitri dan Implementasi New Normal

Oleh Keisha Athiyyawara Lyubiana, S.Ked




Di awal bulan Juni ini, kita sudah memasuki bulan ke-3 sejak COVID-19 pertama kali terkonfirmasi di Indonesia, di mana kita semua harus menjalani kehidupan yang berbeda. Apalagi, Ramadan baru saja lewat, yang biasanya diisi dengan tarawih berjamaah, buka bersama, beli baju Lebaran, sholat Eid, mudik, dan silahturahmi ke sanak keluarga. Sejak sebelum memasuki Ramadan, pemerintah mengeluarkan berbagai himbauan terkait kegiatan-kegiatan Ramadan untuk meminimalisir risiko persebaran COVID-19. Mendekati Idul Fitri, pemerintah pun memberlakukan berbagai pembatasan perjalanan untuk meminimalisir pergerakan massal. Namun, tidak lama setelah itu, muncul wacana bahwa New Normal akan segera diberlakukan. Apa implikasi dari semua ini terhadap wabah COVID-19 di Indonesia?


Gelombang Kedua Wabah COVID-19 Setelah Lebaran


Meski sudah banyak himbaun dan peraturan untuk mencegah perburukan persebaran COVID-19 dengan tradisi Lebaran, kenyataannya cukup berbeda. Di berbagai daerah, masih banyak dilakukan sholat Eid berjamaah. Meski ada yang menerapkan pembatasan fisik, banyak juga jamaah yang tidak menggunakan masker dan masih bersalam-salaman. Tidak hanya itu, lebih dari 465.000 kendaraan meninggalkan Jakarta selama periode Lebaran. Banyak juga keluarga-keluarga besar, termasuk anak-anak, yang terbang dengan alasan bisnis. Ini menunjukkan bahwa ada banyak celah di kebijakan yang disalahgunakan oleh masyarakat.


Melihat hal ini, banyak ahli epidemiologi Indonesia khawatir akan adanya pelonjakan jumlah kasus COVID-19, dan diprediksi bahwa sekitar 200.000 orang akan membutuhkan perawatan rumah sakit karena COVID-19 setelah berbagai aktivitas Lebaran ini. Fenomena ini yang ditakutkan sebagai gelombang kedua (second wave) pandemi.


Fenomena gelombang kedua bukan hal yang asing dalam berbagai epidemi maupun pandemi yang telah melanda dunia. Contohnya, pandemi flu Spanyol pada 1918 memiliki gelombang kedua dengan mutasi virus yang lebih mematikan dibanding gelombang pertama. Gelombang kedua tersebut terjadi setelah berakhirnya Perang Dunia Pertama, di mana terjadi mobilisasi massal prajurit-prajurit, ditambah dengan banyaknya selebrasi yang membuat banyak orang berkumpul bersama dan melakukan kontak fisik.


Skenario ini hampir sama persis dengan Lebaran di Indonesia. Maka, tidak mengherankan jika dikhawatirkan hal yang sama akan terjadi Indonesia. Hal yang semakin mengkhawatiran adalah gambaran wabah COVID-19 di Indonesia yang masih belum jelas dengan masih minimnya tes massal, sehingga susah diperkirakan seberapa parah gelombang kedua yang bisa terjadi. Kemampuan sistem pelayanan kesehatan Indonesia juga masih diragukan jika gelombang kedua ini benar-benar terjadi. Faktanya, lebih dari setengah total kematian karena COVID-19 di Indonesia terjadi pada usia kurang dari 60 tahun, menandakan kurang tersedianya perawatan medis untuk mencegah kematian. Adanya gelombang kedua wabah COVID-19 di Indonesia bisa menjadi bencana besar, tidak hanya untuk kesehatan masyarakat, tetapi juga sosioekonomi.


Apakah Sudah Waktunya untuk New Normal?


Dengan ancaman gelombang kedua yang masih membayangi, persiapan untuk implementasi New Normal sudah dimulai. New Normal didefinisikan sebagai cara hidup di tengah pandemi untuk meningkatkan kembali sosioekonomi, dengan tetap menerapkan protokol kesehatan yang sesuai. Menurut Keputusan Menteri Kesehatan No HK.01.07/MENKES/328/2020, keputusan daerah-daerah yang boleh mengimplementasikan New Normal didasari pada kajian epidemiologis dan politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan, dan keamanan. Hingga saat ini, sudah ada empat provinsi dan 25 kabupaten/kota yang bersiap mengimplementasikan New Normal.


Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), suatu negara harus terbukti mampu mengendalikan penularan COVID-19 sebelum menerapkan New Normal. Korea Selatan merupakan salah satu negara yang menjadi contoh. Sejak tren wabahnya berhasil turun, Korea Selatan pelan-pelan melonggarkan lockdown yang diimbangi dengan pengetesan (testing), pelacakan kontak (tracing), pembatasan (containment), dan respon lokal yang agresif dan sistematis. Tempat kerja, sekolah, tempat hiburan, dan lain-lain juga wajib memiliki protokol kesehatan yang sesuai untuk mencegah persebaran baru. Masyarakatnya juga memiliki kesadaran yang tinggi untuk mempraktikan self-hygiene dan pembatasan fisik yang benar. Bahkan dengan sistem yang sudah sangat baik ini, di awal Mei kemarin Korea Selatan harus kembali memberlakukan lockdown karena adanya peningkatan kasus tiba-tiba yang dicurigai berasal dari suatu distrik hiburan dimana ada banyak orang berkumpul bersama.


Di Indonesia, kurva wabah masih naik dan pengetesannya salah satu terburuk di dunia dengan rasio 967 per 1 juta warga, dibandingkan dengan contohnya Amerika Serikat dengan rasio 46.951 per 1 juta warga. Selain itu, jumlah resmi kematian hanya dihitung dari yang sudah positif COVID-19. Padahal, seharusnya PDP dan ODP yang meninggal juga dihitung. Masih banyak laporan kasus baru dan kematian PDP di daerah-daerah yang belum bisa melakukan tes PCR. Melihat hal ini, sulit untuk mengatakan bahwa New Normal bijak untuk diimplementasikan di Indonesia dalam waktu dekat. Jikapun jadi diimplementasikan, sistem pelayanan kesehatan harus dipastikan mampu menangani peningkatan kasus. Tempat kerja, tempat hiburan, sekolah, dan kita sebagai warga juga harus menaati peraturan-peraturan yang berlaku dan memiliki kesadaran diri yang tinggi untuk melakukan tindakan-tindakan pencegahan persebaran.


Penulis:

Keisha Athiyyawara Lyubiana, S.Ked.


Editor:

dr. Riyo P. Irawan


Referensi


  1. Abbany, Z., 2020. Coronavirus: When Will The Second Wave Of Infections Hit?. [online] DW. Available at: <https://www.dw.com/en/coronavirus-when-will-the-second-wave-of-infections-hit/a-53435135> [Accessed 6 June 2020].

  2. Beech, H. and Suhartono, M., 2020. ‘It’S Too Late’: In Sprawling Indonesia, Coronavirus Surges. [online] The New York Times. Available at: <https://www.nytimes.com/2020/05/28/world/asia/indonesia-coronavirus-surge.html> [Accessed 6 June 2020].

  3. covid19.go.id. 2020. Peta Sebaran. [online] Available at: <https://covid19.go.id/peta-sebaran> [Accessed 6 June 2020].

  4. Cox, D., 2020. The Way South Korea Crushed Its Second Wave Is A Warning To Us All. [online] Wired. Available at: <https://www.wired.co.uk/article/south-korea-coronavirus-response-second-wave> [Accessed 6 June 2020].

  5. Kleczkowski, A., 2020. COVID-19: What A Second Wave Might Look Like. [online] J+ by The Jakarta Post. Available at: <https://www.thejakartapost.com/life/2020/06/03/covid-19-what-a-second-wave-might-look-like.html> [Accessed 6 June 2020].

  6. KOMPAS.com. 2020. Siapkah Indonesia Untuk New Normal?. [online] Available at:<https://www.kompas.com/sains/read/2020/05/28/200400723/siapkah-indonesia-untuk-new-normal-> [Accessed 6 June 2020].

  7. McCurry, J. and Harding, L., 2020. South Korea Re-Imposes Some Coronavirus Restrictions After Spike In New Cases. [online] The Guardian. Available at: <https://www.theguardian.com/world/2020/may/28/south-korea-faces-return-to-coronavirus-restrictions-after-spike-in-new-cases> [Accessed 6 June 2020].

  8. Menteri Kesehatan Republik Indonesia, 2020. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/328/2020. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

  9. Tribunnewsmaker.com. 2020. Deretan Fakta Terkait New Normal Di Indonesia: Definisi, Penerapan, Hingga Kritikan Sejumlah Tokoh - Tribunnewsmaker.Com. [online] Available at: <https://newsmaker.tribunnews.com/2020/05/28/deretan-fakta-terkait-new-normal-di-indonesia-definisi-penerapan-hingga-kritikan-sejumlah-tokoh> [Accessed 6 June 2020].

  10. Widiyani, R., 2020. Tentang New Normal Di Indonesia: Arti, Fakta Dan Kesiapan Daerah. [online] detiknews. Available at: <https://news.detik.com/berita/d-5034719/tentang-new-normal-di-indonesia-arti-fakta-dan-kesiapan-daerah> [Accessed 6 June 2020].


225 tampilan

informasi kesehatan terpercaya

  • White Facebook Icon
  • White Instagram Icon

info@healthierindonesia.org              Healthier Indonesia                healthier.indonesia