Indonesia vs. Tuberkulosis: Siapa yang Menang?

Diperbarui: 3 Apr 2019

Marsa Harisa D, S.Ked

Riyo Pungki Irawan, S.Ked

dr. Arry Setyowati, Sp.P., M. Kes (Narasumber)

dr. Siswanto, Sp.P. (Narasumber)


Tanggal 24 Maret diperingati sebagai Hari Tuberkulosis Sedunia. Ini adalah hari untuk merenungi saudara-saudara kita yang meninggal akibat penyakit ini dan hari kita untuk menghargai pahlawan-pahlawan yang telah berjasa dalam perang melawan tuberkulosis. Pada hari ini, kita harus meninjau kembali usaha-usaha yang telah kita lakukan dan juga merencanakan langkah kedepannya. Hanya setelah penyakit tuberkulosis diberantas sepenuhnya dapat kita sebut tanggal 24 Maret sebagai hari raya.



Apa itu tuberkulosis?


Kini, kita mengenali tuberkulosis sebagai penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit menular ini merupakan salah satu dari 10 penyebab kematian terbesar di dunia. Sampai dengan tahun 2017, jumlah kasus-kasus baru paling banyak ditemukan di daerah Asia Tenggara dan Pasifik Barat, termasuk Indonesia. Untuk membaca lebih lanjut mengenai sejarah, gejala, dan pengobatan tuberkulosis, klik saja di tautan berikut ini: Memperingati World Tuberculosis Day 2019, Mengenal adalah Cara Kita Melawan.


Gambar 1. Daftar 30 negara dengan kasus tuberkulosis terbanyak. Terlihat bahwa Indonesia mengalami 3 beban sekaligus yaitu tuberkulosis biasa, resistensi obat dan koinfeksi HIV.

Kapan target dunia bebas dari tuberkulosis?


Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization) mencita-citakan dunia yang bebas tuberkulosis pada tahun 2035. Mengingat tantangan pemberantasan tuberkulosis cukup kompleks terkait pendanaan, penularan yang cepat, dan pengobatan yang lama, ini memang merupakan sasaran yang ambisius. Namun ternyata, Menteri Kesehatan Republik Indonesia menetapkan sasaran yang lebih ambisius lagi; mereka menginginkan Indonesia sudah bebas tuberkulosis pada tahun 2030, lima tahun lebih cepat dari target dunia.


"Menteri Kesehatan Republik Indonesia ... menginginkan Indonesia sudah bebas tuberkulosis pada tahun 2030, lima tahun lebih cepat dari target dunia."

Apakah ini memungkinkan?


Menurut dr. Siswanto, Sp. P, kemajuan program pemerintah melawan tuberkulosis sejauh ini termasuk cukup baik. Strategi terbaru Indonesia dalam melawan tuberkulosis dinamakan TOSS, atau Temukan Obati Sampai Sembuh. Inti dari program ini adalah usaha untuk menemukan pasien tuberkulosis secara aktif dan masif, serta mendorong pasien tuberkulosis untuk memeriksakan diri dan menjalani pengobatan sampai tuntas. Ini berbeda dengan pendahulunya yang hanya mendekati pasien secara pasif dengan menunggu pasien datang untuk diperiksa. Bentuk penerapan program ini antara lain melalui program “ketok-pintu”, membagikan selebaran, hingga iklan layanan masyarakat tentang tuberkulosis. Program ini juga fokus memberdayakan keluarga pasien sebagai agen yang dapat membantu pemerintah dalam pencegahan dan pengobatan tuberkulosis.


Teknologi untuk mendiagnosis secara mutakhir juga semakin canggih. Tes Cepat Molekuler (TCM) merupakan teknologi baru yang kini sudah diterapkan dalam pedoman penanganan tuberkulosis terbaru. Tes ini bisa mendeteksi pada sensitivitas sampai dengan 143 bakteri per mililiter dengan waktu yang cepat-- hanya 2 jam. Selain itu, TCM juga langsung bisa mendeteksi ada tidaknya resistensi terhadap rifampisin, yang merupakan salah satu obat utama dalam pengobatan tuberkulosis. Hal tersebut sangat berguna dalam mencegah resistensi bakteri terhadap obat.


Namun, karena pemberantasan tuberkulosis itu masih proses yang berlanjut, tentu saja ada hal-hal yang masih bisa dilakukan untuk terus memperbaiki perjuangan bersama ini.

Menurut data WHO tahun 2017, insidensi tuberkulosis di Indonesia berada pada angka 842.000 kasus dengan laju insidensi 319 kasus per 100.000 penduduk. Angka tersebut masih tinggi mengingat berbagai upaya pencegahan dan penanggulangan tuberkulosis sudah berlangsung puluhan tahun dengan melibatkan semua pihak baik pemerintah, tenaga kesehatan maupun masyarakat itu sendiri akan tetapi kasus tuberkulosis ini masih menjadi beban penyakit di Indonesia.


Lalu, apa yang sebenarnya menyebabkan tuberkulosis sulit untuk ditanggulangi? Berikut beberapa alasan menurut dr. Arry Setyowati, Sp.P., M.Kes. mengapa tuberkulosis masih sulit untuk ditaklukan hingga saat ini:


1. Dana yang terbatas


Program pengendalian tuberkulosis merupakan program nasional yang pendanaannya sudah dianggarkan melalui Kementerian Keuangan. Dana yang dibutuhkan pun terbilang fantastis yaitu lebih dari US$ 290 juta atau sekitar Rp 4 triliun. Angka yang sangat besar untuk menanggulangi satu penyakit, bukan? Angka kebutuhan dana yang sangat besar ini dikarenakan pengadaan obat dan juga fasilitas laboratorium harus dapat disediakan di setiap daerah dengan tenaga yang kompeten.

Untungnya, dana tersebut tidak ditanggung pemerintah sepenuhnya akan tetapi gabungan dari pemerintah Indonesia dan dana internasional. Berikut grafik pendanaan penanggulangan tuberkulosis yang dikutip dari WHO:


Gambar 2. Pemetaan Sumber Dana untuk Menanggulangi Tuberkulosis di Indonesia. Terlihat bahwa 49% dari keseluruhan dana yang dibutuhkan masih belum tercukupi.

Menurut dr. Arry, dengan jumlah dana yang ada saat ini, penanggulangan tuberkulosis mulai dari diagnosis hingga terapi masih sangat kurang. Pendanaan yang memadai sangat penting untuk memastikan bahwa setiap kasus sudah tertangani secara tuntas, dibuktikan dengan kepatuhan minum obat dan pemeriksaan penunjang yang dilakukan secara berkala. Oleh karena itu, upaya lebih lanjut diperlukan untuk memobilisasi sumber daya tambahan dari sumber domestik maupun internasional, dengan peningkatan progresif dalam pendanaan domestik.


2. Kurangnya Sumber Daya Manusia di Sektor Kesehatan


Menurut WHO, bahkan dengan pembiayaan yang memadai, defisiensi kritis dalam sumber daya manusia di sektor kesehatan akan menghambat kemajuan di banyak negara berpenghasilan rendah dan menengah. Sumber daya manusia yang dimaksud adalah tenaga medis yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang yang memadai untuk menjalankan strategi terbaru dalam melawan tuberkulosis. Komitmen politik diperlukan untuk mendukung perubahan struktural dan keuangan secara keseluruhan yang diperlukan untuk meningkatkan ketersediaan, distribusi, dan motivasi petugas kesehatan yang kompeten. Upaya khusus, termasuk perencanaan strategis yang baik diperlukan untuk memastikan ketersediaan sumber daya manusia yang memadai dan kompeten untuk perawatan kesehatan secara umum dan perawatan tuberkulosis khususnya.


3. Komitmen Dokter dan Pasien


Tidak dipungkiri bahwa hubungan dokter dan pasien merupakan faktor besar dalam keberhasilan penanggulangan tuberkulosis. Dalam hubungan ini, dokter mempunyai kewajiban untuk memberikan edukasi dan terapi terkait dengan penyakit pasien sedangkan pasien memiliki kewajiban untuk mengindahkan nasihat yang diberikan oleh dokter. Dari bagian dokter, edukasi dan terapi yang diberikan sudah diatur oleh Standar Operasional Prosedur (SOP) atau aturan tata laksananya.


Namun, apakah pasien selalu mengkonsumsi obat dan kontrol secara rutin sesuai dengan nasihat yang diberikan oleh dokter?


Tidak!


Masalah terbesar dari segi pasien dalam proses penanggulangan tuberkulosis adalah kepatuhan minum obat. Masih banyak pasien yang tidak mengkonsumsi obat secara rutin, putus obat di tengah-tengah pengobatan atau bahkan tidak memeriksakan kembali dan pergi ke tempat lain. Hal ini mengakibatkan kuman tuberkulosis tidak tereradikasi dan justru meningkatkan risiko resistensi obat. Menurut data WHO, jumlah kasus tuberkulosis resisten obat mengalami peningkatan. Hal ini menyebabkan waktu yang dibutuhkan untuk pengobatan lebih lama dengan kemungkinan risiko lebih tinggi. Dari analisis biaya dan keuntungan (cost-benefit analysis), hal ini tentu sangat merugikan.


Gambar 3. Gambar Cara Penularan Tuberkulosis. Tuberkulosis adalah penyakit menular yang ditularkan melalui percik udara yang dihirup (droplet).

Hal lain yang menyebabkan penyakit ini sangat susah dieradikasi dari sisi pasien adalah kepercayaan bahwa penyakit ini adalah penyakit turunan. Menurut dr. Arry, masih banyak pasien maupun keluarga pasien yang mempercayai hal tersebut. Tuberkulosis adalah penyakit menular yang ditularkan melalui percik udara yang dihirup sehingga tidak mengenal siapa yang diserang, baik kaum marjinal hingga burjois, semuanya dapat diserang penyakit satu ini.


"Masih banyak pasien yang tidak mengkonsumsi obat secara rutin, putus obat di tengah-tengah pengobatan atau bahkan tidak memeriksakan kembali dan pergi ke tempat lain."

4. Perlawanan Kuman Tuberkulosis


Kuman tuberkulosis sendiri adalah kuman yang sangat sulit untuk dibunuh. Kemampuan bertahan hidupnya sangatlah kuat dan “ngeyel”. Bagaimana bisa demikian? Kuman tuberkulosis dilapisi oleh suatu lapisan lilin yang tebal di bagian luarnya sehingga proses pembelahan diri yang dilakukan pun memakan waktu yang sangat lama dibandingkan kuman yang lain yaitu 15-20 jam (E. coli hanya membutuhkan waktu 20 menit). Kuman ini juga kuat melawan desinfektan lemah, dan dapat bertahan hidup di keadaan kering selama berminggu-minggu. Dinding sel nya yang tebal dan kaya akan asam mikolat membuatnya bertahan dari keadaan kering.



Lalu, bagaimana kita bisa membantu dalam perang melawan tuberkulosis ini?



A. Pemerintah


Masalah terpenting dalam urusan pemerintahan adalah menjaga kestabilan politik dan ekonomi. Kestabilan politik secara tidak langsung juga akan menciptakan iklim ekonomi yang positif sehingga pendapatan negara pun juga akan meningkat. Harapannya dengan pendapatan yang lebih besar, alokasi dana untuk penanggulangan tuberkulosis pun juga naik. Banyaknya kepentingan politik sering mengaburkan kepentingan umum sehingga banyak masalah yang belum teratasi seperti penanggulangan tuberkulosis ini. Perlu digaris bawahi juga bahwa masalah ini tidak hanya milik pemerintah tetapi seluruh rakyat Indonesia.

B. Masyarakat

Untuk masyarakat sendiri, hal yang dapat dilakukan antara lain mengenali dan meluruskan mitos yang beredar mengenai penyakit ini. Tuberkulosis bukanlah penyakit keturunan ataupun guna-guna namun penyakit yang ditularkan melalui percik udara sehingga bisa mengenai siapapun dari kalangan manapun. Kepatuhan minum obat dan kontrol rutin menjadi kunci kesuksesan pemberantasan tuberkulosis dan merupakan tugas pasien dan keluarga, maupun masyarakat di sekitar pasien untuk terus menyemangati dan mendukungnya bukan malah mengucilkan dan menghardik penderita tuberkulosis. Penting juga untuk melindungi diri dengan mendapatkan vaksin tuberkulosis, atau juga dikenal sebagai vaksin BCG. Vaksin ini wajib diberikan pada bayi berusia 1 sampai 2 bulan, dan pada dewasa yang belum vaksinasi semasa kecil. Untuk pasien yang didiagnosis tuberkulosis, harap selalu menggunakan masker untuk melindungi diri dari kuman yang lain dan juga melindungi lingkungan sekitar.


Dengan demikian, sangat mungkin Indonesia menang dalam pertempuran melawan penyakit tuberkulosis, tapi usaha ini membutuhkan komitmen dan usaha yang cukup besar. Ayo kita selalu menjaga diri, keluarga, dan lingkungan sekitar untuk memusnahkan kuman ini dengan mematuhi bimbingan dokter. Bersama dengan sektor pemerintah dan badan kesehatan internasional, kita bisa memperkuat pertahanan dan perlawanan kita.


" ...sangat mungkin Indonesia menang dalam pertempuran melawan penyakit tuberkulosis, tapi usaha ini membutuhkan komitmen dan usaha yang cukup besar."


Penulis: Marsa Harisa D, S.Ked.

marsa.harisa@gmail.com

Dokter Muda RSUP Dr. Sardjito


Penulis: Riyo Pungki Irawan, S.Ked.

riorestup@gmail.com

Dokter Muda RSUP Dr. Sardjito


Desainer Grafis: M. C. Tito Hudoyo, S.Kep.

Ners Muda RSUP Dr. Sardjito



Referensi:

  1. Murray PR, Rosenthal KS, Pfaller MA.2005. Medical Microbiology. Elsevier Mosby.

  2. Center for Disease Control. 2016. How TB Spreads. [Daring] https://www.cdc.gov/tb/topic/basics/howtbspreads.htm. Diakses pada 27 Maret 2019.

  3. World Health Organization. 2019. Global tuberculosis report 2018. WHO.

  4. World Health Organization. 2002. Training for better TB control: human resource development for TB control. WHO.

  5. dr. Arry Setyowati, Sp.P., M.Kes. 2019. Wawancara Pribadi.

  6. dr. Siswanto, Sp. P. 2019. Wawancara Pribadi.




informasi kesehatan terpercaya

  • White Facebook Icon
  • White Instagram Icon

info@healthierindonesia.org              Healthier Indonesia                healthier.indonesia