Kacang, Tersangka Utama Jerawat?

Oleh: dr. Anindita Kartika Wiraputri



BERITA:

Sering memakan kacang bisa menyebabkan tumbuhnya jerawat!


Kesimpulan: Belum Terbukti



Sobat sehat semua pasti tidak jarang mendengar anjuran untuk tidak sering-sering makan kacang supaya tidak jerawatan. Apa sih yang pertama kali terlintas di dalam benak sobat sehat saat mendengar anjuran seperti itu? Jadi takut makan kacang, kah? Atau mungkin justru menghiraukan anjuran tersebut? Atau jangan-jangan malah ragu karena ada teman yang hobinya makan kacang tapi tidak jerawatan? Yuk, kita cek faktanya bersama-sama!


Apakah kacang bisa bikin jerawatan?

Dari hasil penelitian para ahli sejauh ini, ternyata kacang nggak bikin jerawatan, lho! Pada penelitian yang dilakukan Anderson pada 27 subjek, jerawat tidak muncul meskipun para subjek diminta untuk mengonsumsi kacang dalam 1 minggu berturut-turut. Ada juga penelitian lain yang membandingkan orang-orang pribumi di Paraguay dengan orang modern jaman sekarang yang menunjukkan meskipun mereka sangat sering mengonsumsi kacang yang tidak diproses terlebih dahulu, ternyata jerawat dianggap sebagai penyakit yang asing di komunitas mereka. 


Kelompok makanan yang terbukti secara ilmiah dapat menyebabkan jerawat adalah makanan dengan indeks glikemik tinggi dan berlemak jenuh. Tingginya indeks glikemik pada makanan menggambarkan bahwa makanan tersebut dapat meningkatkan kadar gula darah dengan cepat. Rutin memakan kelompok makanan tersebut akan memicu peningkatan kadar hormon insulin yang akan diikuti dengan peningkatan hormon androgen, padahal keduanya sangat berperan dalam meningkatkan produksi minyak berlebih. Hal ini dapat menyumbat pori-pori yang ada di wajah. Tingginya hormon androgen juga dapat memicu radang dan berkumpulnya bakteri penyebab jerawat pada folikel rambut sehingga terbentuklah jerawat. Nah, menurut American Academy of Dermatology Association, kacang termasuk makanan dengan indeks glikemik yang rendah gengs, jadi justru bisa mengurangi pertumbuhan jerawat. Kacang yang baik untuk dikonsumsi adalah kacang yang belum diproses, direbus atau dipanggang. Kacang goreng dan selai kacang mengandung lemak jenuh sehingga menyebabkan timbulnya jerawat.


Apa sih, kandungan dari kacang?

Kacang memiliki nutrisi yang berbeda-beda menurut jenisnya. Kacang pohon seperti kacang almond, hazel, brazil, makadamia, kenari dan mete memiliki kadar lemak tak jenuh yang tinggi dibanding lemak jenuh, terutama pada kacang hazel yang bisa sampai 10:1. Kandungan lemak tak jenuh yang tinggi dapat menurunkan risiko penyakit jantung. Selain itu, kacang tanah memiliki kadar protein dan serat yang lebih tinggi dibanding kacang pohon. Kandungan bermanfaat lainnya yang dimiliki kacang secara umum adalah vitamin B1, B9, E, K; fenol yang bekerja sebagai antioksidan; mineral seperti magnesium, tembaga, kalium, selenium yang membantu kerja antioksidan; dan fitosterol yang dapat menurunkan kadar kolesterol darah dan substansi lainnya seperti zantofil dan karotenoid.


Bagaimana diet yang benar untuk mencegah jerawatan?

Diet yang dianjurkan untuk mencegah jerawat adalah mencari makanan dengan indeks glikemik yang rendah dan menghindari makanan dengan indeks glikemik yang tinggi. Contoh makanan dengan indeks glikemik rendah antara lain sayur hijau segar, buah segar seperti jeruk, apel, anggur, dan alpukat, nasi merah, oat, roti gandum utuh, dan kacang-kacangan. Contoh makanan dengan indeks glikemik tinggi seperti makanan cepat saji, roti, singkong, sereal, keripik kentang, kentang goreng, donat, kue kering, es krim, minuman manis seperti minuman berkarbonasi, milkshake, minuman boba dan minuman kekinian lainnya. Susu sapi juga sebaiknya dihindari karena beberapa penelitian menunjukkan bahwa susu sapi dapat mengakibatkan jerawat meskipun termasuk minuman dengan indeks glikemik rendah. Sementara, untuk produk turunan susu seperti yogurt dan keju sampai sekarang belum diteliti lebih lanjut.

Kita juga harus sering memperhatikan kapan jerawat muncul dan apakah ada makanan tertentu yang memicu jerawat, karena hal ini berbeda-beda pada setiap orang.

Jika ada makanan yang kita curigai, makanan tersebut patut kita hindari selama mingguan bahkan bulanan sambil kita pantau perubahan pada jerawat. Selain menerapkan diet yang benar, kita juga perlu merawat kulit kita dengan:

  1. Mencuci muka 2x sehari atau setelah berkeringat.

  2. Mencuci muka dengan lembut dan hati-hati agar tidak iritasi.

  3. Menggunakan produk perawatan muka yang bebas alkohol. 

  4. Hindari juga produk perawatan seperti toner dan eksfoliator karena kulit yang merah dan kering dapat memperparah jerawat.

  5. Mencuci muka dengan air yang tidak terlalu hangat dan tidak terlalu dingin.

  6. Biarkan luka pada wajah sembuh sendiri dengan tidak menekan dan memecahkan jerawat.

  7. Hindari memegang wajah.

  8. Selalu menggunakan tabir surya.

  9. Konsultasi ke dokter kulit jika jerawat membuat tidak percaya diri dalam beraktivitas, produk perawatan yang digunakan tidak berhasil, atau jerawat meninggalkan bekas luka atau membuat kulit gelap.

Nah, sobat sehat, mari kita lakukan pola hidup sehat agar terhindar dari penyakit, serta selektif dan kritis dalam menerima berbagai informasi kesehatan!



Penulis:

dr. Anindita Kartika Wiraputri

akwiraputri@gmail.com

Dokter umum


Editor:

dr. Marsa Harisa Daniswara

marsa.harisa@gmail.com

Dokter Umum


Fotografer:

Mia Anisaúl Yuhdiah

miaanisaul19@gmail.com

Mahasiswi Ilmu Keperawatan

Referensi:

  1. American Academy of Dermatology Association. Can the right diet get rid of acne? Diakses 11 Juli 2020. https://www.aad.org/public/diseases/acne/causes/diet

  2. American Academy of Dermatology Association. Acne: tips for managing. Diakses 11 Juli 2020. https://www.aad.org/public/diseases/acne/skin-care/tips

  3. Anderson PC. Foods as the cause of acne. Am Fam Physician. 1971 Mar;3(3):102–103. Diakses 11 Juli 2020. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/4251510/

  4. Bowe WP, Joshi SS, & Shalita AR. Diet and Acne. J Am Acad Dermatol. 2020;63(1),124–141. Diakses 11 Juli 2020. https://doi.org/10.1016/j.jaad.2009.07.043

  5. Cordain L, Lindeberg S, Hurtado M, Hill K, Eaton SB, Brand-Miller J. Acne Vulgaris: A Disease of Western Civilization. Arch Dermatol. 2002;138(12):1584–1590. Diakses 11 Juli 2020. https://doi.org/10.1001/archderm.138.12.1584

  6. De Souza RGM, Schincaglia RM, Pimentel GD, Mota JF. Nuts and Human Health Outcomes: A Systematic Review. Nutrients. 2017;9(12):1311. Diakses 11 Juli 2020. https://doi.org/10.3390/nu9121311

  7. Pappas A. The relationship of diet and acne: A review. Dermatoendocrinol. 2009;1(5):262-267. Diakses 11 Juli 2020. http://doi.org/10.4161/derm.1.5.10192

18 tampilan

informasi kesehatan terpercaya

  • White Facebook Icon
  • White Instagram Icon

info@healthierindonesia.org              Healthier Indonesia                healthier.indonesia