Kerja Ginjal dan Kebutuhan Cairan

Diperbarui: 12 Mar 2019

Yuk, Bantu Kerja Ginjalmu dengan Mengenali Bagaimana Tubuh Membutuhkan Cairan.

Lintang Sagoro, S.Ked



Untuk menjaga kesehatan ginjal, kita harus memerhatikan kecukupan kebutuhan cairan harian kita antara cairan yang masuk dengan cairan yang keluar, karena ginjal dapat berfungsi secara baik dan optimal bila cairan dalam tubuh kita cukup. Kebutuhan cairan setiap individu berbeda-beda, secara rata-rata laki-laki membutuhkan cairan sebanyak 3.7 liter (15 gelas belimbing) setiap harinya, dan perempuan membutuhkan cairan sebesar 2.7 liter (11 gelas belimbing) setiap harinya. kebutuhan cairan harian kita bisa kita dapatkan dari berbagai sumber, yaitu dari minuman dan makanan yang kita konsumsi sehari-hari.



Kenapa sih kita butuh cairan untuk kesehatan ginjal?


Tubuh manusia sendiri terdiri dari 75% oleh air, air banyak digunakan oleh organ tubuh manusia untuk menjalankan fungsinya sehari-hari, salah satunya adalah ginjal. Ginjal bekerja secara optimal jika tubuh tidak dalam keadaan kekurangan air oleh karena itu penting bagi kita untuk memerhatikan kebutuhan cairan kita agar tidak dehidrasi dan menganggu kerja dari ginjal.


Saat tubuh kita kekurangan cairan, otak memerintahkan tubuh untuk minum dengan membuat sensasi rasa haus, dan mengontrol kerja ginjal agar produksi urin bisa lebih sedikit dan pekat. Lain halnya jika tubuh dalam keadaan kelebihan cairan, maka proses diatas akan terbalik dengan membuat sensasi rasa tidak haus, dan memerintahkan ginjal untuk mengeluarkan cairan yang berlebih melalui produksi urin.


Saat tubuh kita kekurangan cairan, otak memerintahkan tubuh untuk minum dengan membuat sensasi rasa haus, dan mengontrol kerja ginjal agar produksi urin bisa lebih sedikit dan pekat.


Ginjal memiliki peran penting untuk untuk menyeimbangkan cairan melalui produksi urin yang banyak jika tubuh dalam keadaan memiliki cukup cairan, dan produksi urin yang oekat jika tubuh kekurangan cairan. Ginjal juga berperan membuang sampah hasil metabolisme tubuh yang larut dalam darah melalui proses penyaringan dan dibuang melalui urin. Jika cairan dalam tubuh tidak cukup, maka beban kerja ginjal untuk menjalankan perannya dalam mengatur keseimbangan cairan dan membuang sampah metabolit akan menjadi berat.


Ginjal akan bekerja lebih berat untuk memekatkan urin jika kita kekurangan cairan, dan keadaan urin yang pekat dalam waktu yang berulang dan lama akan meningkatkan risiko terbentuknya batu pada saluran kemih yang kemudian menganggu kerja ginjal lebih lanjut karena aliran urin yang menjadi terhambat. Kerja sel ginjal yang berat dalam waktu yang lama akan merusak sel-sel ginjal lebih cepat, sehingga ginjal tidak bisa menjalankan fungsinya dengan baik.


Urin yang pekat dalam waktu yang berulang dan lama akan meningkatkan risiko terbentuknya batu pada saluran kemih yang kemudian menganggu kerja ginjal lebih lanjut karena aliran urin yang menjadi terhambat.



Bagaimana kita bisa menjaga keseimbangan cairan dalam sehari-hari?


Setelah memahami peran dan kerja ginjal tersebut, maka untuk menjaga kesehatan ginjal kita harus menjaga keseimbangan cairan dalam tubuh kita sendiri. keseimbangan cairan bisa diartikan sebagai cairan yang masuk harus sama atau sedikit lebih daripada cairan yang keluar dari tubuh setiap harinya. Cairan tubuh bisa keluar melalui kulit, ginjal, dan saluran pencernaan. Dalam satu harinya, tubuh bisa mengeluarkan cairan sebesar 1.500 sampai 3.100 mililiter untuk individu dewasa setiap harinya atau setara dengan 6 sampai 12 gelas, tentu jumlah ini bervariasi terhadap setiap individu tergantung dari faktor lingkungan (kelembapan, suhu) dan faktor aktivitas fisik. Untuk menghitung kebutuhan cairan harian kita bisa gunakan perhitungan 1500ml + 20ml per kilogram berat badan. Individu dengan berat 60 kilogram berdasarkan perhitungan tersebut membutuhkan cairan sebanyak 2.700 ml atau setara dengan 11 gelas belimbing.


Untuk menghitung kebutuhan cairan harian kita bisa gunakan perhitungan 1500ml + 20ml per kilogram berat badan.


Namun jumlah tersebut hanya berupa estimasi minimal, kebutuhan cairan aktual berbeda-beda pada setiap individu tergantung dari umur, aktivitas fisik, lingkungan, dan keadaan kesehatan. Orang dengan datang bulan, penyakit ginjal, atau jantung tentu memiliki kebutuhan cairan yang berbeda.


Darimana saja kita bisa memenuhi kebutuhan cairan harian?


Asupan cairan harian kita tidak hanya datang dari saat kita minum, namun juga cairan yang kita makan. Wah, cairan bisa dimakan? Makanan sehari-hari ternyata mengandung kadar air yang mampu membantu untuk memenuhi kebutuhan cairan sehari-hari. Buah Pisang, Alpukat, dan Kentang memiliki kadar air sebesar 70% hingga 79% dari berat total. Sedangkan, Buah Apel, Anggur, dan Jeruk memiliki kadar air sebesar 80% hingga 89%. Makanan seperti sup, suki, soto, mie kuah, puding, dan agar-agar tentu juga memiliki kadar cairan yang banyak dan secara tidak sadar kita telah mendapatkan asupan cairan dari makanan sehari-hari.


Makanan sehari-hari ternyata mengandung kadar air yang mampu membantu untuk memenuhi kebutuhan cairan sehari-hari.


Pemenuhan kebutuhan cairan juga bisa terpenuhi disaat kita minum bukan karena sensasi rasa haus, namun sebagai bagian dari komponen kegiatan sehari-hari antara lain adalah bagian dari makanan, dan gaya hidup. Saat ini, gaya hidup juga turut memengaruhi kebiasaan kita dalam konsumsi cairan hairan, kebiasaan untuk konsumsi teh dan kopi saat berinteraksi dengan teman, makan makanan yang mengandung kadar air yang tinggi seperti sup atau suki, atau konsumsi minuman kemasan yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar.


Penulis: Lintang Sagoro, S.Ked.

lintangsagoro@gmail.com

Dokter Muda RSUP dr.Sardjito


Ilustrator: Tegar Ardhi Wardana, S.Ked.

tegar.ardhiwardana@gmail.com

Dokter Muda RSUP dr.Sardjito



Referensi

1. Popkin, B. M., & Rosenberg, I. H. (2011). "Water, Hydration and Health". National Institutes of Health. 68(8): 439–458. doi:10.1111/j.1753-4887.2010.00304.x

2. Riebl, Shaun K., & Davy, B. M. (2013). "The Hydration Equation: Update on Water Balance and Cognitive Performance". National Institutes of Health. 17(6): 21-28. doi:10.1249/FIT.0b013e3182a9570f.

3. Harty, J., (2014). "Prevention and Management of Acute Kidney Injury". UMJ. 83(3): 149-157




59 tampilan

informasi kesehatan terpercaya

  • White Facebook Icon
  • White Instagram Icon

info@healthierindonesia.org              Healthier Indonesia                healthier.indonesia