Kerokan Dapat Menyembuhkan Masuk Angin?

Oleh Asiah Hatta Umar, S. Ked



BERITA:


“Kalau masuk angin, dikerok aja. Makin merah keroknya, anginnya keluar makin banyak.

Kesimpulan : BELUM TERBUKTI.

Sampai saat ini kerokan secara ilmiah belum terbukti dapat menyembuhkan masuk angin.


Masuk angin dan kerokan adalah dua istilah yang sudah tidak asing bagi kita. Jika Sobat Sehat mengeluhkan “tidak enak badan”, hampir semua orang akan menjawab masuk angin dan menyarankan punggungnya dikerok agar merasa lebih baik. Tapi benar nggak sih kerokan menyembuhkan masuk angin? Sebenarnya masuk angin itu sendiri apa, sih? Mari kita bahas lebih lanjut!


Masuk angin adalah sebutan yang digunakan untuk menggambarkan rasa tidak nyaman pada tubuh (tidak enak badan) dengan gejala: sakit kepala, kembung, panas dingin, otot – otot pegal dan linu, mual, mencret, muntah, tidak nafsu makan, dan lemah/lesu. Ada beberapa cara yang sering dilakukan untuk mengobati masuk angin seperti, minum air hangat atau teh hangat, minum jamu, jarang uyah (air matang dicampur garam), kerokan, dan pijat.


Kerokan merupakan pengobatan tradisional yang banyak dipilih sebagai pengobatan tradisional tahap pertama pada saat masuk angin. Tidak hanya di Indonesia, kerokan juga ada di beberapa negara dengan konsep pengobatan yang hampir sama seperti, China yang dikenal dengan Gua Sha, Vietnam yang dikenal dengan Cau gio, dan di Meksiko dikenal dengan curanderismo.


Kerokan dilakukan dengan uang koin yang diberikan balsam atau minyak dan digosokkan ke punggung hingga merah. Banyak orang berpikir dengan kerokan pori – pori pada kulit akan terbuka dan angin yang ada di dalam tubuh dapat keluar sehingga cepat memulihkan kesehatan tubuh. Kerokan juga pengobatan yang aman karena tidak ada racun yang masuk ke dalam tubuh, bersifat alami, dan murah. Selain itu orang yang masuk angin merasa nikmat dan senang saat dikerok yang mana dapat mengembalikan semangat.


Masuk Angin dan Kerokan Dalam Pandangan Medis


Di dunia medis, masuk angin bukanlah suatu penyakit. Masuk angin adalah istilah yang digunakan masyarakat untuk mewakili sekumpulan gejala yang dirasakan oleh seseorang. Sekumpulan gejala tersebut sering diduga masuk angin seperti gangguan pencernaan, infeksi saluran napas atas, demam berdarah, dan lain – lain. Untuk mengobati masuk angin, dilakukan pengobatan sesuai dengan keluhan. Biasanya cukup dengan istirahat, banyak minum air putih untuk mencegah dehidrasi/kekurangan air dalam tubuh, minum obat penurun panas (jika disertai demam), dan mengonsumsi makanan bergizi seperti buah dan sayur.


Sebenarnya, kerokan tidak menyembuhkan masuk angin melainkan mengurangi keluhan dari masuk angin tersebut. Ada penelitian mengatakan bahwa kerokan dapat meningkatkan kadar hormon beta endorfin yang menimbulkan rasa nyaman dan segar. Selain itu, kerokan juga dapat meningkatkan imunitas tubuh. Namun, penelitian lain juga berpendapat bahwa kerokan menyebabkan terjadinya reaksi peradangan akut pada kulit. Dengan kerokan, pembuluh darah kecil di dekat permukaan kulit juga berisiko pecah dan dapat menyebabkan memar kulit hingga pendarahan ringan yang dapat menghilang dalam beberapa hari.


Jadi, dapat disimpulkan bahwa masuk angin bukanlah suatu penyakit, melainkan kumpulan gejala. Jika terdapat keluhan masuk angin, boleh – boleh saja melakukan kerokan. Asalkan logam untuk kerokan steril, ujungnya tidak tajam, mengerok jangan terlalu keras agar tidak menyebabkan memar, dan jangan mengerok di area luka agar tidak menimbulkan infeksi.

Jika keluhan tidak membaik, disertai keluhan nyeri dada atau penurunan kesadaran, segera diperiksa ke dokter atau rumah sakit terdekat untuk penanganan lebih lanjut.

Bisa jadi keluhan masuk angin yang dirasakan merupakan bagian dari penyakit yang membutuhkan penanganan medis, Sobat Sehat!


Penulis:

Asiah Hatta Umar, S.Ked

ais.hattaumar@gmail.com

Dokter Muda



Editor:

dr. Rio Restu Priambodo

riorestup@gmail.com

Dokter umum



Fotografer:

dr. Francisco Gilbert Timothy

franciscogani@gmail.com

Dokter Umum

sumber gambar: kompasiana.com


REFERENSI :

  1. Triratnawati, Atik. 2010. Pengobatan Tradisional, Upaya Meminimalkan Biaya Kesehatan Masyarakat Desa Di Jawa. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 13, No. 2, hal. 69–73

  2. Xu, Q. Y., Yang, J. S., Zhu, B., et al. NCBI (2012). The effects of scraping therapy on local temperature and blood perfusion volume in healthy subjects. Evidence-based complementary and alternative medicine : eCAM, 2012, 490292.

  3. Nielsen A, Kligler B, Koll BS. Safety protocols for gua sha (press-stroking) and baguan (cupping). Complement Ther Med. 2012 Oct;20(5):340-4

  4. Healthline. 2017. Understanding Gua Sha: Benefits and Side Effects. https://www.healthline.com/health/gua-sha#side-effects. Diakses 17 Juli 2020

  5. Lee M.S, et al. Using Gua Sha To Treat Musculoskeletal Pain : A Systematic Review of Controlled Clinical Trials. Chin Med. 2010; 5(5): 1 – 5.

  6. Tamtomo, D.G. gambaran Histopatologi Kulit Pada Pengobatan Tradisional Kerokan. Cermin Dunia Kedokteran. 2008; 35(1) : 28 – 31

  7. https://hellosehat.com/hidup-sehat/fakta-unik/masuk-angin-sebenarnya-penyakit-apa-sih/. Diakses 17 Juli


22 tampilan

informasi kesehatan terpercaya

  • White Facebook Icon
  • White Instagram Icon

info@healthierindonesia.org              Healthier Indonesia                healthier.indonesia