Masa Seusai Pandemi COVID 19: “New Normal” dan Kesiapan Kita Secara Mental

Oleh dr. Lily Chandra

Halo Sobat Sehat semuanya, kali ini kita akan membahas tentang COVID-19 lagi nih. Mungkin ada beberapa Sobat Sehat yang sudah bosan banget sama topik ini. Beberapa malah ada yang merasa stres ya karena terlalu sering membaca atau mendengar mengenai COVID-19 atau bahkan ada yang sudah masa bodoh dengan pandemi. Healthier Indonesia ingin mengingatkan kembali bahwa infeksi COVID-19 ini adalah kejadian nyata. Mungkin banyak yang masih mempercayai bahwa COVID-19 merupakan sebuah konspirasi, akan tetapi terlepas dari itu kita harus melihat kenyataan. Peningkatan kasus positif, banyaknya korban jiwa berjatuhan, dan peningkatan morbiditas pasien diakibatkan oleh infeksi virus ini. Oleh karena itu harus tetap dilakukan tindakan – tindakan pencegahan penularan infeksi COVID-19. Pemerintah sudah mencoba beberapa upaya pengendalian penyebaran infeksi virus diantaranya seperti penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di beberapa kota red zone, adanya larangan mudik dan larangan terbang untuk maskapai penerbangan komersil, lockdown di beberapa daerah, dan seterusnya. Namun, penambahan kasus terus terjadi di hampir seluruh wilayah Indonesia. Ya, setelahnya kondisi memang membaik dan mulailah dicetuskan adanya “new normal”, tetapi apakah Indonesia sudah siap? Walaupun Indonesia sudah menjalani “new normal” tetapi masih terjadi peningkatan kasus positif setiap harinya. Kita boleh saja beraktivitas seperti biasa, akan tetapi kita tidak bisa kembali ke kebiasaan sebelum masa pandemi. Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah memperingati untuk tetap menjalani protokol pencegahan seperti selalu menggunakan masker dan menerapkan physical distancing, tetapi masih banyak masyarakat yang tidak mengindahkan hal ini. Alhasil, dengan penerapan “new normal” ini kasus positif baru semakin bertambah banyak dan korban jiwa pun semakin berjatuhan. Namun, apakah peningkatan korban jiwa merupakan dampak satu-satunya dari infeksi COVID-19 ini? Tentu tidak, dengan mengikuti progress penyakit ini kita tahu bahwa masih banyak kerugian akibat pandemi, baik itu untuk pasien COVID-19 yang sembuh dan bahkan masyarakat yang tidak terinfeksi.


Kesehatan mental bukanlah lagi hal yang tabu. Kondisi mental seseorang akan sangat mempengaruhi kondisi kesehatan fisiknya. Kondisi pandemi COVID-19 ternyata memiliki dampak yang sangat luas dan kompleks bagi kehidupan manusia. Pandemi tidak hanya mempengaruhi sektor kesehatan dan ekonomi, tetapi juga sektor sosial budaya (psikososial) masyarakat. Hal tersebut diilustrasikan secara baik pada gambar berikut :



Dalam menghadapi suatu bencana alam (termasuk di dalam nya kondisi pandemi global), reaksi stres yang berat sangat mungkin terjadi, baik saat menghadapi kondisi pandemi global ataupun sesudahnya. Adanya peningkatan rasa cemas, perasaan tidak berdaya, bingung, dan sendirian (loneliness) merupakan beberapa masalah kejiwaan yang sering muncul. Stressor psikososial yang melebihi kapasitas suatu populasi dalam menghadapi kondisi pandemik global kelak akan berdampak pada kesehatan mental populasi tersebut. Banyaknya korban jiwa, kerugian dari segi ekonomi, serta ketidakpastian akan masa setelah pandemi juga berperan di dalamnya.


Pandemi Global dan Kesehatan Mental


Kondisi public health emergency dapat berdampak pada kesehatan dan kesejahteraan individu (gangguan cemas, perasaan terisolasi secara emosional, perasaan bingung, stigma) dan komunitas (kerugian secara ekonomi, keterbatasan dalam mendapatkan pelayanan kesehatan dan kebutuhan sehari-hari). Pandemi global memberikan dampak psikologi yang berbeda dari bencana alam lainnya. Kondisi psikologi yang tidak seimbang kemudian berprogres sama hal nya dengan penyakit secara fisik. Adanya misinformasi, ketidakpastian selama masa pandemi, dan rasa takut yang terus menerus akan ‘berinkubasi’ dalam sistem limbik (sistem di otak yang bertanggung jawab dalam pengaturan emosi) dimana, apabila tubuh sudah tidak dapat menahan stressor, akan bermanifestasi menjadi rasa panik, kesedihan, atau masalah kejiwaan lainnya. Para pekerja yang kontak langsung dengan pasien terkonfirmasi (termasuk tenaga medis), penyandang disabilitas, orang dengan penyakit kronik, orang dengan status sosioekonomi rendah, imigran/kelompok minoritas, kelompok usia lansia, ibu hamil, dan anak-anak, serta populasi dengan riwayat bencana alam berulang, merupakan kelompok rentan (vulnerable group).


Pandemi COVID-19 merupakan pandemi global pertama setelah Flu Spanyol tahun 1918. Kondisi ini menghadapkan kita pada kurangnya data/penelitian terhadap dampak pandemi global terhadap kesehatan mental individu/komunitas. Wabah SARS di awal tahun 2000 merupakan wabah infeksi SARS Corona virus pertama di abad ke-21. Pada wabah ini peneliti dan pakar kesehatan masyarakat dunia juga mulai melakukan penelitian terhadap dampak wabah terhadap kesehatan mental pre-, durante-, dan post-pandemi. Beberapa penelitian tersebut melaporkan bahwa masalah kejiwaan seperti rasa cemas, stigma di masyarakat, serta stres psikologi cukup banyak ditemukan pada individu yang terinfeksi. Data dari Center for Disease Control tahun 2009 melaporkan 40% dari populasi di komunitas merasakan tingkat stres yang lebih tinggi pada saat kejadian wabah SARS 10 tahun yang lalu. Sebesar 16% di antaranya bahkan menunjukkan tingkat stres hingga traumatik. Selain itu, pada studi tahun 2007 melaporkan sebanyak 93,5% tenaga kesehatan pada masa wabah SARS mengalami peningkatan tingkat stres.


Dilansir dari dokumen Pan American Health Organization/World Health Organization tahun 2009, berikut beberapa masalah kesehatan jiwa yang dapat muncul saat masa pandemi dan saat masa pandemi selesai:


Masalah Kejiwaan yang Dapat Muncul Saat Masa Pandemi Global:

  1. Rasa takut (fear) akan ditinggalkan (abandonment), rasa takut akan terjangkit penyakit, rasa takut akan dilupakan atau melupakan.

  2. Rasa kehilangan (grief), ketidakberdayaan (helplessness). Perasaan sendiri (loneliness) dan terisolasi (isolation from social and other people).

  3. Gangguan cemas (anxiety), rasa sedih yang berlebih (sadness), depresi, gangguan tidur, peningkatan tingkat stress pada individu dan komunitas.

  4. Perburukan kondisi kejiwaan pada orang dengan masalah kejiwaan atau pada orang dengan gangguan kejiwaan.

  5. Peningkatan kadar stres, burnout, dan rasa tidak berdaya pada tenaga kesehatan.

Masalah Kejiwaan yang Dapat Muncul Setelah Masa Pandemi Global Selesai:

  1. Rasa takut akan kondisi pandemi dapat terjadi lagi (fear of recurrence) / fear of new epidemic.

  2. Gangguan adaptif: gangguan adaptasi terhadap kondisi baru setelah masa pandemi.

  3. Peningkatan angka kriminalitas, penyalahgunaan zat dan alkohol (alcohol and substance abuse).

  4. Masalah kejiwaan seperti: post traumatic disorder (PTSD), gangguan cemas (anxiety), rasa sedih yang berlebih (sadness), depresi.


Menjaga Kesehatan Mental selama Kondisi Pandemi Global COVID-19


Nah Sobat Sehat, selanjutnya Healthier Indonesia ingin berbagi beberapa tips yang dapat dilakukan untuk #menjagakesehatanmental selama kondisi pandemi global COVID-19. Yuk simak baik-baik :

  • Tetap memiliki rutinitas harian (daily routine). Tetap berusaha aktif secara fisik (physically active) biarpun di rumah saja.

  • Menjaga komunikasi dengan orang-orang terdekat (pasangan, sahabat, orang tua, dan keluarga).

  • Menghindari dan melimitasi konsumsi berita harian terkait kondisi pandemi COVID-19. Kebanyakan informasi bisa bikin stres juga loh. Cari tahu info COVID-19 sewajarnya aja ya, Sobat Sehat.

  • Apabila Sobat Sehat merasakan rasa takut, cemas, atau sedih yang berlebihan dan terus menerus hingga mengganggu fungsi sehari-hari dan fungsi sosial, jangan ragu untuk mencari pertolongan tenaga profesional (psikolog/psikiater) sesuai dengan kebutuhan ya.

Perlu diingat juga dalam menghadapi masa pandemi global seperti ini, perasaan bingung, cemas, hingga sedih sangat wajar kita hadapi. Namun, jangan takut untuk menghadapi pikiran atau perasaan negatif tersebut agar kita dapat semakin mengerti dan tahu apa yang perlu kita lakukan dalam menghadapi perasaan-perasaan tersebut.

Pastikan Sobat Sehat semua tetap menjaga komunikasi dengan orang-orang terdekat dan apabila diperlukan, jangan ragu untuk meminta pertolongan tenaga profesional baik psikolog maupun psikiater.

Yuk, Sobat Sehat kita saling #menjagakesehatanmental selama masa pandemi ini dan setelahnya.

For precaution : always use your mask! Stay safe and stay healthy!

Penulis

dr. Lily Chandra

Dokter Umum

llychandra@gmail.com


Editor

dr. Ade Saputri

Dokter Umum

adesaptr@gmail.com

Referensi

  1. Centers for Disease Control (2009). Mental Health and Behavioral Guidelines for Response to a Pandemic Flu Outbreak Background on the Mental Health Impact of Natural Disasters, including Epidemics, diakses pada 04 Juni 2020 dari https://www.cstsonline.org/resources/resource-master-list/mental-health-and-behavioral-guidelines-for-response-to-a-pandemic-flu-outbreak

  2. Douglas, P. K., Douglas, D. B., Harrigan, D. C., & Douglas, K. M. (2009). Preparing for pandemic influenza and its aftermath: mental health issues considered. International journal of emergency mental health, 11(3), 137.

  3. Huremović, D. (Ed.). (2019). Psychiatry of Pandemics: A Mental Health Response to Infection Outbreak. Springer.

  4. Pan American Health Organization/World Health Organization (2009). Protecting Mental Health During Epidemics, diakses pada 04 Juni 2020 dari https://www.paho.org/en/documents/protecting-mental-health-during-epidemics

  5. Pfefferbaum, B. and North, C.S., (2020). Mental health and the Covid-19 pandemic. New England Journal of Medicine.

21 tampilan

informasi kesehatan terpercaya

  • White Facebook Icon
  • White Instagram Icon

info@healthierindonesia.org              Healthier Indonesia                healthier.indonesia