Into the Light: Komunitas Orang Muda Pencegah Bunuh Diri

Oleh:

dr. Talitha Najmillah Sabtiari

Marsa Harisa Daniswara, S.Ked


Narasumber:

Benny Prawira Siauw, S.Psi., M.Sc.

Head Coordinator, Into The Light Indonesia


Sumber: www.intothelightid.org

Depresi, atau yang sering disebut sebagai Gangguan Depresi Mayor dalam dunia klinis, adalah sebuah gangguan mood yang meliputi perasaan sedih yang diikuti dengan perubahan fisik dan pola pikir yang dapat mempengaruhi kemampuan seseorang untuk menjalankan fungsinya. Untuk lebih lanjut mengenai depresi dan perbedaannya dengan perasaan sedih yang sering kita alami bisa dilihat di sini.


Depresi menjadi sangat berbahaya apabila penderita mulai mengalami gejala perilaku bunuh diri. Perilaku bunuh diri ini meliputi pemikiran akan kematian dan bunuh diri, perencanaan bunuh diri, percobaan bunuh diri, dan pada akhirnya pelaksanaan bunuh diri. Sebanyak 10-18% orang dewasa pada populasi umum di seluruh dunia pernah memiliki pemikiran akan kematian dan bunuh diri, dan 3-5% pernah melakukan setidaknya satu kali percobaan bunuh diri di masa hidupnya. Sekitar 20% dari orang yang pernah melakukan percobaan bunuh diri akan mati dengan bunuh diri.


World Health Organization menekankan pentingnya layanan kesehatan mental berbasis komunitas pada Global Forum for Community Mental Health yang diadakan di Geneva tahun 2007. Layanan kesehatan yang berbasis komunitas lebih terjangkau oleh masyarakat dan lebih efektif dalam memenuhi kebutuhan orang dengan gangguan jiwa. Mereka yang memiliki kontak langsung dengan populasi yang rentan akan bunuh diri dapat mengenali dan mengarahkan penderita depresi untuk mendapatkan penanganan yang lebih lanjut jika dibutuhkan.


Salah satu organisasi yang memiliki fokus pencegahan bunuh diri di Indonesia adalah Into The Light Indonesia Suicide Prevention Community for Advocacy, Research, and Education (SP-CARE). Into The Light didirikan oleh Benny Prawira pada Mei 2013, bermula dari kepanitiaan untuk mengadakan seminar pada Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia yang mendapatkan respon yang positif sehingga dibuatlah organisasi tersebut.


"Sebanyak 10-18% orang dewasa pada populasi umum di seluruh dunia pernah memiliki pemikiran akan kematian dan bunuh diri, dan 3-5% pernah melakukan setidaknya satu kali percobaan bunuh diri di masa hidupnya."

Apa visi komunitas Into the Light?


Into the Light memiliki visi untuk menumbuhkan kepedulian masyarakat, khususnya remaja, dalam isu kesehatan jiwa dan pencegahan bunuh diri di Indonesia. Fokus program-program Into the Light terletak pada diskusi publik, pelatihan, kampanye dan hasil penelitian. Program dimulai dari suicide primary prevention. Ini berwujud pemberian edukasi ke publik yang telah disesuaikan dengan kultur masing-masing. Contohnya, pemberian edukasi mengenai tanda bahaya bunuh diri dan bagaimana cara mengatasinya sebagai orang terdekat. Selain itu, juga terdapat suicide crisis intervention yaitu pemberdayaan individu di populasi yang rentan bunuh diri. Yang terakhir adalah suicide postvention, yang ditujukan kepada para penyintas kehilangan bunuh diri.


Apa saja program Into the Light?


Into the Light sering mengadakan grup diskusi di universitas-universitas ke penyintas bunuh diri. Selain itu, mereka juga bekerja sama dengan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pers dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta mengenai etika pemberitaan bunuh diri. Ini karena media dapat berperan sebagai sarana edukasi jika diarahkan dengan baik, atau justru dapat memicu perilaku bunuh diri apabila tidak diarahkan. Dalam pemberitaan bunuh diri, sebaiknya tidak menggunakan bahasa yang membuat bunuh diri seakan-akan seperti sesuatu yang sensasional, mengurangi penggunaan foto dan deskripsi dari metode yang dilakukan untuk bunuh diri, serta selalu mencantumkan informasi untuk meminta pertolongan.


Selain itu, Into the Light juga pernah melaksanakan program Pendampingan Sebaya Lightbringers, di mana sukarelawannya melakukan pendampingan terhadap orang-orang yang memiliki perilaku bunuh diri dan merekomendasikan mereka untuk mencari pertolongan ke profesional. Namun, program ini ditutup pada tahun 2018 karena banyaknya hambatan yang muncul, baik secara sosial, finansial, dan geografis, serta stigma yang muncul di masyarakat.


"...media dapat berperan sebagai sarana edukasi jika diarahkan dengan baik, atau justru dapat memicu perilaku bunuh diri apabila tidak diarahkan."


Bagaimana pandangan Into the Light terhadap pencegahan bunuh diri?


Terkadang orang yang hendak bunuh diri juga dapat menunjukkaan tanda seperti menarik diri dari teman dan keluarga, secara tiba-tiba menulis surat wasiat, menggunggah konten-konten yang mengkhawatirkan di sosial media, menuntaskan segala urusan yang dimiliki, memberikan benda-benda berharga yang dimiliki, serta menyimpan alat-alat yang dapat digunakan untuk bunuh diri. Pengawasan dari orang terdekat penting untuk dilakukan. Menurut Benny Prawira, lebih baik untuk menganggap sedikitpun tanda yang muncul sebagai sesuatu yang serius daripada mengabaikannya.


Bagaimana pandangan Into the Light mengenai stigma negatif terhadap orang dengan perilaku bunuh diri?


Menurut Benny Prawira, stigma negatif terhadap orang-orang dengan depresi dan perilaku bunuh diri akan terus ada setiap saat. Masih banyak dari masyarakat kita yang membicarakan kasus bunuh diri dengan asumsi pribadi yang menghakimi atau bahkan menjadikannya sebagai bahan lelucon. Maka dari itu, lebih baik fokus kepada hal-hal positif untuk mengembangkan diri dan tidak menghabiskan energi untuk mengkhawatirkan hal-hal yang kurang signifikan. Sebagai organisasi yang pernah melaksanakan pendampingan sebaya dan berkecimpung di topik bunuh diri, Into The Light seringkali berhadapan dengan orang-orang yang masih memberikan stigma seperti itu.


Masyarakat umum memiliki peranan penting dalam meningkatkan kesadaran kesehatan mental, termasuk di Indonesia. Edukasi kepada masyarakat belum cukup dan pengetahuan seringkali tidak berhubungan dengan stigma. Terkadang ada landasan moral yang berbeda-beda dari tiap lapisan masyarakat, dan ada juga yang masih menganggap bunuh diri sebagai sesuatu yang tabu untuk dibicarakan. Melakukan perbincangan mengenai kematian dan bunuh diri dapat menjadi langkah sederhana untuk mengurangi stigma terhadap bunuh diri. Menurut Benny Prawira, hal itu bisa dimulai dengan menanyakan kabar teman dan mengobrol mengenai kehidupan mereka. Hidup ada periode naik dan turunnya, dan sangat wajar apabila seseorang merasa tidak baik.


"Melakukan perbincangan mengenai kematian dan bunuh diri dapat menjadi langkah sederhana untuk mengurangi stigma terhadap bunuh diri."

Depresi dan bunuh diri adalah hal yang kerap terjadi di masyarakat umum namun sering menjadi bahan yang tabu untuk diperbincangkan. Pemerintah, organisasi non kepemerintahan, dan masyarakat umum termasuk keluarga dan teman terdekat memiliki peran penting dalam pencegahan bunuh diri. Dibutuhkan niat dan kerja keras yang cukup dalam melawan stigma dan membantu mereka yang membutuhkan pertolongan.




Penulis: dr. Talitha Najmillah Sabtiari

najmillahsbtr@gmail.com

Dokter Umum


Editor: Marsa Harisa D, S.Ked.

marsa.harisa@gmail.com@gmail.com

Dokter Muda RSUP Dr. Sardjito


Desainer Grafis: Gede Raditya Wisnu, S.Ked.

graditya.wisnu@gmail.com

Dokter Muda RSUP Dr. Sardjito




Referensi:

  1. American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and statistical manual of mental disorders (5th ed.). Arlington, VA: Author.

  2. Mann, J. J., Apter, A., Bertolote, J., Beautrais, A., Currier, D., Haas, A., ... & Mehlum, L. (2005). Suicide prevention strategies: a systematic review. Jama294(16), 2064-2074.

  3. Sadock, B. J., Sadock, V. A., & Ruiz, P. (2015). Kaplan & Sadock's synopsis of psychiatry: Behavioral sciences/clinical psychiatry (Eleventh edition.). Philadelphia: Wolters Kluwer.

  4. World Health Organization. (2017). Depression and other common mental disorders: global health estimates. Diakses pada https://apps.who.int/iris/bitstream/handle/10665/254610/WHO-MSD-MER-2017.2-eng.pdf 16 Juli 2019

  5. World Health Organization. (2012). DEPRESSION: A Global Public Health Concern. World Health Organization. Diakses pada http://www.who.int/mental_health/management/depression/who_paper_depression_wfmh_2012.pdf 16 Juli 2019

  6. World Health Organization. (2012). Public health action for the prevention of suicide: a framework. Diakses pada https://apps.who.int/iris/bitstream/10665/75166/1/9789241503570_eng.pdf 16 Juli 2019

  7. World Health Organization. (2007). Community Mental Health Services will Lessen Social Exclusion, says WHO. Diakses pada https://www.who.int/mediacentre/news/notes/2007/np25/en/ 16 Juli 2019



92 tampilan

informasi kesehatan terpercaya

  • White Facebook Icon
  • White Instagram Icon

info@healthierindonesia.org              Healthier Indonesia                healthier.indonesia