Mitos atau Fakta: Mandi Malam Menyebabkan Rematik

Oleh dr. Anindita Kartika Wiraputri



BERITA:


Jangan sering mandi di malam hari karena bisa bikin sakit rematik!

Kesimpulan:

Ternyata tidak ada bukti yang dapat mendukung isi berita di atas sehingga berita tersebut adalah tidak benar alias mitos!


Hai, Sobat Sehat! Siapa sih di antara kita yang belum pernah mendengar orang yang bilang tidak boleh mandi malam karena bisa membuat kita terkena penyakit rematik? Apalagi ini kan lagi zamannya untuk #dirumahaja ya, mager banget gak sih buat mandi? Gara-gara mager ujung-ujungnya juga mandi malam, eh terus dimarahin orang tua deh dengan alasan “bikin rematik”.


Sebenarnya, penyakit rematik adalah sebuah kelompok penyakit dengan gejala-gejala yang terdiri dari:

  1. Nyeri atau rasa tidak nyaman pada satu atau lebih dari satu sendi, otot dan tulang, termasuk tulang belakang, bersifat hilang-timbul dan kronis; daerah tubuh yang sakit bisa terasa.

  2. Nyeri jika digerakkan,

  3. Nyeri jika ditekan,

  4. Terasa kaku,

  5. Terasa lebih baik setelah olahraga ringan namun memberat setelah olahraga berat,

  6. Terasa lebih nyeri akibat faktor cuaca dan kelembaban,

  7. Terasa lebih baik setelah daerah yang sakit dihangatkan.


Kumpulan gejala tersebut kemudian dikerucutkan menjadi sebuah diagnosis yang tergantung dari usia, jenis kelamin, dan riwayat penyakit pasien. Misalnya, spondiloartropati (penyakit sendi tulang belakang) pada pria muda, penyakit lupus pada wanita muda, dan rheumatoid arthritis (penyakit rematik sendi) yang mulai banyak dirasakan oleh wanita paruh baya. Ketiga penyakit tersebut disebabkan oleh gangguan autoimun yang menyerang sendi sehingga terjadi radang. Akan tetapi, kata rematik pada konteks berita di atas umumnya merujuk pada penyakit rheumatoid arthritis.


Lalu, kenapa bisa muncul isu kalau mandi malam bisa menyebabkan rematik? Di Indonesia, mandi malam dikaitkan dengan mandi menggunakan air yang suhunya kurang lebih sama dengan suhu udara di luar, jadi biasanya air akan terasa dingin di badan. Ternyata, pada orang yang sudah memiliki penyakit rematik, mandi malam dengan air dingin dapat menyebabkan kumatnya nyeri sendi. Hal ini terjadi karena air dingin dapat membuat kapsul sendi yang mengalami kelainan mengerut sehingga nyeri bertambah. Air dingin juga mengentalkan cairan sendi sehingga kekakuan sendi meningkat. Tapi, bukan berarti air dingin menyebabkan penyakit rematik ya! Sampai sekarang belum ada penelitian yang membuktikan bahwa air dingin dapat menyebabkan rematik.


Bagaimana kalau mandi dengan air hangat? Gejala rematik ternyata dapat berkurang dengan air hangat, lho! Kehangatan dari air hangat dapat meningkatkan aliran pembuluh darah sehingga produk radang yang menyebabkan nyeri dapat dibuang. Berkurangnya nyeri juga disebabkan oleh meningkatnya ambang batas nyeri, meskipun hanya bersifat sementara. Selain itu, rasa hangat juga dapat mengurangi tahanan otot di sekitar sendi serta mengurangi kekakuan sendi sehingga sendi lebih mudah digerakkan. Oleh karena itu, para penderita rematik disarankan untuk mandi dengan air hangat. Akan tetapi, bila proses radang akut sedang berlangsung, mandi air hangat justru dapat memperberat gejala. Proses radang akut biasanya ditandai dengan sendi-sendi yang terasa hangat, kemerahan, dan membengkak.


Walaupun cara kerja penyakit rematik sudah diketahui, namun penyebab pastinya masih diteliti hingga sekarang. Beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan risiko terkena rematik adalah usia, jenis kelamin, genetik, perilaku merokok, paparan rokok/polutan lain sejak kecil, dan obesitas. Hal-hal yang dapat kita lakukan untuk menghindari rematik adalah berhenti merokok, menjaga anak-anak agar terhindar dari asap rokok, mengurangi paparan dengan polutan (misalnya dengan menggunakan masker saat berkendara dengan motor), serta memperbanyak aktivitas fisik dan mengatur pola makan yang sehat agar tidak obesitas.


Oleh karena itu, Sobat Sehat, mari kita lakukan pola hidup sehat agar terhindar dari penyakit, serta selektif dan kritis dalam menerima berbagai informasi kesehatan!

Penulis:

dr. Anindita Kartika Wiraputri

akwiraputri@gmail.com

Dokter umum

Editor:

dr. Rio Restu Priambodo

riorestup@gmail.com

Dokter umum



Fotografer:

dr. Francisco Gilbert Timothy

franciscogani@gmail.com

Dokter Umum

Sumber: shutterstock.com


Referensi:


  1. Center for Disease Control and Prevention. 2019. Rheumatoid Arthritis (RA). Diakses 26 Mei 2020. https://www.cdc.gov/arthritis/basics/rheumatoid-arthritis.html

  2. Hayes, K.W., 1993. Heat and Cold in Management of Rheumatoid Arthritis. Arthritis Care and Research 6(3): 156-166. Diakses 26 Mei 2020. https://onlinelibrary.wiley.com/doi/pdf/10.1002/art.1790060308

  3. Walker, H.K., Hall, W.D., Hurst, J.W. 1990. Clinical Methods: The History, Physical, and Laboratory Examinations. 3rd edition. Boston: Butterworths. Diakses 23 Mei 2020. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK267/

  4. Zein, U., Newi, L.L. 2019. Buku Ajar Ilmu Kesehatan (Memahami Gejala, Tanda dan Mitos). Yogyakarta: Penerbit Deepublish. Diakses 26 Mei 2020. https://books.google.co.id/books?id=iVnHDwAAQBAJ&printsec=frontcover#v=onepage&q&f=false








52 tampilan

informasi kesehatan terpercaya

  • White Facebook Icon
  • White Instagram Icon

info@healthierindonesia.org              Healthier Indonesia                healthier.indonesia