MAU NIKAH? VAKSIN DULU!

Keisha A. Lyubiana (Penulis)

Marsa Harisa D. (Penyunting)


Sebelum menikah, banyak persiapan yang harus dilakukan oleh seorang pasangan. Mulai dari persiapan mental, finansial, dan tentunya berbagai persiapan teknis seperti undangan, gedung, dan lain-lain. Namun, tentu tidak boleh dilupakan juga adalah persiapan kesehatan. Justru, persiapan kesehatan ini merupakan salah satu aspek terpenting sebelum melakukan pernikahan karena tidak hanya akan memengaruhi kehidupan pernikahan dan pasangan, tetapi juga memengaruhi keturunan.



Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia sendiri sudah memiliki alur pelayanan kesehatan bagi calon pengantin. Secara garis besar, setelah calon pengantin mengurus pendaftaran dan pencatatan, Kantor Urusan Agama (KUA) atau lembaga agama lain akan memberikan surat rekomendasi yang bisa dibawa calon pengantin ke Puskesmas. Di Puskesmas, calon pengantin akan menjalani beberapa pemeriksaan, seperti anamnesis, pemeriksaan fisik, skrining dan pelayanan vaksinasi, pemeriksaan laboratorium, konseling, pengobatan, dan rujukan bila dirasa perlu.


Gambar 1.1 Alur Pelayanan Kesehatan bagi Catin.

Vaksin Rutin


Salah satu aspek yang sangat penting dari pemeriksaan ini adalah vaksinasi sebelum menikah. Vaksinasi ini bertujuan untuk membuat orang yang mendapatkannya tidak terinfeksi oleh suatu kuman tertentu dan menjadi sakit walaupun orang tersebut terpapar pada kumannya. Sebenarnya, ada beberapa vaksinasi yang dianjurkan sebelum pernikahan, tetapi berdasarkan Buku Saku Kesehatan Reproduksi Calon Pengantin milik Kemenkes, yang termasuk dalam pemeriksaan rutin sebelum menikah hanyalah vaksinasi Tetanus Toxoid (TT) pada calon pengantin wanita. Pertama, pemeriksa akan menentukan status vaksinasi TT calon pengantin. Jika calon pengantin belum menyelesaikan vaksinasi TT lengkap (5x), maka calon pengantin harus melengkapinya terlebih dulu. Hal ini sangat penting karena tidak hanya vaksin TT memberikan kekebalan seumur hidup kepada penerimanya, tetapi juga mencegah anaknya terkena tetanus saat lahir (tetanus neonatorum) yang kasusnya masih banyak di Indonesia dan dapat menyebabkan kematian bayi.


Namun, diluar vaksin yang rutin direkomendasikan oleh Buku Saku Calon Pengantin, terdapat berbagai jenis vaksin lain yang juga penting untuk dipertimbangkan sebelum menikah. Apa saja vaksin-vaksin tersebut?


"... diluar vaksin yang rutin direkomendasikan oleh Buku Saku Calon Pengantin, terdapat berbagai jenis vaksin lain yang juga penting untuk dipertimbangkan sebelum menikah."

Vaksin Infeksi Menular Seksual


Untuk penyakit infeksi lain terutama infeksi menular seksual (IMS) seperti HIV, sifilis, hepatitis, toxoplasmosis, rubella, herpes, dan lain-lain, hanya dilakukan pemeriksaan laboratorium jika ada kondisi tertentu atau atas saran dokter. Padahal, banyak dari penyakit ini yang berbahaya baik bagi penderitanya sendiri maupun bagi anaknya jika sedang hamil dan sebenarnya bisa dicegah dengan vaksinasi. Salah satu yang saat ini sedang banyak dibahas adalah vaksinasi human papilloma virus (HPV).


Di dunia, sekitar 14 juta orang termasuk remaja terinfeksi oleh HPV. HPV adalah virus yang ditularkan lewat cairan tubuh dan penularannya paling banyak lewat hubungan seksual. HPV dapat menyebabkan berbagai penyakit, dari condyloma acuminate (penyakit jengger ayam) hingga kanker serviks. Untungnya, saat ini sudah tersedia vaksin HPV. Vaksin ini direkomendasikan sebelum menikah karena berfungsi untuk mencegah virus yang penyebarannya salah satunya lewat hubungan seksual. Selain itu, vaksin ini juga paling efektif jika diberikan sebelum individu tersebut aktif secara seksual. Sehingga, sebenarnya idealnya vaksin ini diberikan pada usia 11-12 tahun, baik pada perempuan maupun laki-laki, sebanyak dua dosis.


Meski begitu, vaksin ini tergolong baru sehingga banyak masyarakat pada usia menikah (20-30 tahun) yang tidak berkesempatan mendapat vaksin ini saat anak-anak. Maka dari itu, di Indonesia sendiri vaksin HPV ini masih tetap direkomendasikan pada usia lebih dari 10 tahun tapi dengan dosis yang lebih tinggi, yaitu tiga dosis. Dosis kedua diberikan 1-2 bulan setelah dosis pertama dan dosis ketiga diberikan enam bulan setelah dosis pertama. Vaksin ini masih direkomendasikan hingga usia 26 tahun pada perempuan dan usia 21 tahun pada laki-laki tanpa menghiraukan aktivitas seksual (atau 26 tahun pada laki-laki yang berhubungan seksual dengan laki-laki). Vaksin terhadap IMS, jika ada, sangat lah penting karena IMS merupakan salah satu penyakit yang paling banyak diderita dewasa pada usia reproduktif, atau usia dimana kebanyakan orang menikah dan mulai aktif secara seksual. Tidak hanya menimbulkan berbagai penyakit berbahaya, penderita IMS juga berisiko 5-10 kali lebih tinggi untuk tertular human immunodeficiency virus (HIV).


"Vaksin terhadap IMS, jika ada, sangat lah penting karena IMS merupakan salah satu penyakit yang paling banyak diderita dewasa pada usia reproduktif, atau usia dimana kebanyakan orang menikah dan mulai aktif secara seksual."

Vaksin untuk Kehamilan Sehat


Selain itu, kebanyakan pasangan yang menikah juga merencanakan untuk membangun keluarga, yang artinya pasangan tersebut juga akan merencanakan kehamilan. Dengan banyaknya penyakit genetik maupun infeksi yang bisa diturunkan dari ibu ke anaknya baik saat kehamilan maupun persalinan, perencanaan kehamilan adalah hal yang sangat penting. Salah satu bagian dari perencanaan kehamilan adalah vaksinasi sebelum kehamilan. Pertama adalah vaksin MMR (measles, mumps, rubella) yang diberikan 3-6 bulan sebelum wanita hamil. Vaksin MMR ini dapat mencegah penyakit campak (measles), gondongan (mumps), dan campak Jerman (rubella) sekaligus. Infeksi virus-virus ini selama kehamilan berisiko menyebabkan keguguran, atau kelainan jantung, otak, mata, dan ketulian pada bayi. Selain itu, juga ada beberapa vaksin yang bisa diberikan selama kehamilan, yaitu vaksin Tdap untuk mencegah batuk rejan dan vaksin hepatitis B jika ibu hamil tersebut memang berisiko menderita hepatitis B. Vaksin influenza juga bisa diberikan baik sebelum maupun selama kehamilan jika kehamilan terjadi selama musim flu, bahkan bisa diberikan langsung setelah melahirkan walaupun ibu memberikan ASI anaknya. Beberapa hal yang perlu diperhatikan juga saat kehamilan adalah jika berencana untuk berpergian ke luar negeri atau ke daerah endemis, dimana ibu hamil disarankan untuk berkonsultasi kepada dokter 4-6 minggu sebelum keberangkatan untuk berkonsultasi tentang vaksin-vaksin yang perlu diberikan jika ada, contohnya vaksin meningococcal yang mencegah infeksi selaput otak.


Keputusan untuk menikah, apalagi membangun keluarga dan memiliki anak, adalah keputusan yang sangat besar. Maka dari itu, kedua calon pengantin harus menyiapkan diri sebaik mungkin dari berbagai aspek, termasuk kesehatan. Persiapan kesehatan pun terdiri dari banyak aspek, dan salah satunya yang terpenting adalah vaksinasi. Dengan kedua calon pengantin yang paling tidak siap secara kesehatan fisik, maka banyak masalah-masalah kesehatan di kemudian hari yang bisa dihindari agar tidak merusak pernikahan maupun keluarga.


"Vaksin MMR ini dapat mencegah penyakit campak (measles), gondongan (mumps), dan campak Jerman (rubella) sekaligus. Infeksi virus-virus ini selama kehamilan berisiko menyebabkan keguguran, atau kelainan jantung, otak, mata, dan ketulian pada bayi."


Penulis: Keisha A. Lyubiana

keishalyubiana@gmail.com

Mahasiswa Pendidikan Dokter Universitas Gadjah Mada


Penyunting: Marsa Harisa, S.Ked.

marsa.harisa@gmail.com

Dokter Muda RSUP Dr. Sardjito


Desainer Grafis: M. C. Tito Hudoyo, S.Kep.

mctitohudoyo@gmail.com

Ners Muda RSUP Dr. Sardjito




Referensi:

  1. Center for Disease Control and Prevention. 2016. Maternal Vaccines: Part of a Healthy Pregnancy. https://www.cdc.gov/vaccines/pregnancy/pregnant-women/index.html diakses 19 April 2019.

  2. Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2015. Imunisasi pada Remaja. http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/imunisasi-pada-remaja-2 diakses 19 April 2019.

  3. Kementrian Kesehatan. 2018. Buku Saku Kespro Catin bagi Penyuluh Pernikahan. http://kesga.kemkes.go.id/images/pedoman/BUKU%20SAKU%20KESPRO%20CATIN%20BAGI%20PENYULUH%20PERNIKAHAN%202018.pdf diakses 19 April 2019.

  4. Sarah J White et al. 2012. Measles, mumps, and rubella. Clinical obstetrics and gynecology vol. 55,2: 550-9.

  5. Stacy Simon. 2019. Who should get the HPV Vaccination and Why. https://www.cancer.org/latest-news/who-should-get-the-hpv-vaccination-and-why.html diakses 19 April 2019.

  6. US Department of Health and Human Services. 2018. https://www.hhs.gov/ash/oah/adolescent-development/physical-health-and-nutrition/vaccines/what-vaccines-do-adolescents-need/index.html diakses 19 April 2019.

63 tampilan

informasi kesehatan terpercaya

  • White Facebook Icon
  • White Instagram Icon

info@healthierindonesia.org              Healthier Indonesia                healthier.indonesia