Mengapa Eyangti Ogah ke Rumah Sakit?

Diperbarui: 4 Feb 2019

Marsa Harisa Daniswara, S.Ked.





Eyang Suci seorang pensiunan kepala sekolah SD di Jawa Timur. Sejak kecil, ia mengidap penyakit asma, yang merupakan salah satu penyakit radang saluran pernafasan kronis. Saban pagi, Eyang Suci menyiapkan sarapan di dapur, dan setiap tarikan nafasnya menghasilkan bunyi ngik-ngik (mengi) yang terdengar sampai ke kamar cucunya. Beliau telah mencoba berbagai metode untuk mengobati sakitnya, termasuk memercikkan diri dengan “air sakti” seperti yang diajarkan orang pintar di desanya sembari membaca mantra. Beliau juga sudah mencoba berobat ke akupuntur. Sayang sekali keluhannnya tidak kunjung sembuh. Akhirnya, Eyang Suci mencoba berobat ke rumah sakit.


Lalu mengapa Eyang Suci tidak langsung ke rumah sakit sejak awal? Ternyata menjalani pengobatan bukan hal yang mudah untuk seorang lansia. Eyang Suci juga menderita penyakit radang sendi dan asam lambung, sehingga jarak tempuh ke rumah sakit yang jauh menjadi tantangan berat baginya, “Ngantrinya harus tiga kali kalau di rumah sakit—di loket pendaftaran, di ruang dokter, dan di tempat obat. Aku wis tua, pegel,” ujarnya sambil memandangi belasan obat resep yang harus ditelan secara berkala. Tentu ini bukan hal yang mudah bagi seorang lansia yang mulai agak pelupa.


Pengalaman seperti ini dialami oleh sebagian besar penduduk lansia (lanjut usia) di Indonesia. Seiring dengan bertambahnya usia, fungsi tubuh justru akan menurun. Dari pengalaman Eyang Suci, bisa dilihat bahwa masih banyak ruang yang bisa diperbaiki dari penanganan lansia. Di satu sisi, sistem kesehatan Indonesia sudah sangat mendukung perawatan lansia dengan menyediakan berbagai macam fasilitas untuk memenuhi berbagai kebutuhan penyakit. Namun, disisi lain, masih banyak area untuk membuat sistem kesehatan lebih bagus lagi.


Menurut dr. I Dewa Putu, dokter spesialis Geriatri di RSUP Dr. Sardjito, lansia sebenarnya memerlukan penanganan khusus karena kondisi kesehatannya tidak semata-mata berhubungan dengan penyakit, namun juga berhubungan dengan proses penuaan dimana fungsi tubuh perlahan-lahan mulai menurun. Dengan demikian, sistem kesehatan harus mampu memberikan penangan yang khusus di seluruh tingkat pelayanan kesehatan, baik pelayanan primer maupun lanjutan.


Tujuan dari pelayanan kesehatan lansia di tingkat primer (puskesmas) adalah membuat lansia mandiri selama mungkin sebelum terpaksa harus dirujuk ke pelayanan kesehatan lanjutan. Untuk memenuhi tujuan itu, ada beberapa hal yang bisa dilakukan.

  1. Pertama, cara pandang pelayanan kesehatan di tingkat primer harus diubah supaya penanganan lansia bisa dimulai justru sebelum muncul penyakit. Dengan mendukung lansia dalam hal-hal seperti mengikuti paguyuban dan mengajaknya untuk mengisi waktu kosongnya dengan berbagai aktivitas, maka proses penuaan yang terjadi pada lansia dapat diperlambat. Disini, puskesmas memiliki peran penting dalam mengimplementasikan program-program seperti pemantauan gizi dan kesehatan, mengadakan program imunisasi, penyuluhan, dan lain-lain.

  2. Kedua, perlu diciptakan lingkungan fisik dan sosial yang mendukung kemandirian lansia. Puskesmas harus bisa mengurangi kesenjangan abilitas dengan lansia (disabilitas) dengan menyediakan fasilitas-fasilitas seperti loket pendaftaran khusus lansia, rel tangan untuk berpegangan, toilet duduk, dan seterusnya. Dengan adanya fasilitas-fasilitas ramah lansia, maka diharapkan lansia tidak lagi ogah-ogahan berkunjung ke puskesmas.

Menurut dr. I Dewa Putu, banyak pula perbaikan-perbaikan yang bisa dilakukan di pelayanan kesehatan tingkat lanjut. “Semakin masuk ke pelayanan kesehatan lanjutan, semakin terkotak-kotak pelayanan [ke dalam divisi-divisi yang berbasis organ atau penyakit.] Misalnya, penyakit sinusitis sudah masuk ke divisi Telinga-Hidung-Tenggorokan, sedangkan osteoartritis masuk divisi Rematologi,” ujarnya. Sistem rujukan seperti itu membawa beban bagi usia lanjut karena mereka sering memiliki kelainan kesehatan multipel, sehingga harus datang berkali-kali ke layanan lanjutan. Selain itu, ketika banyak divisi yang dilibatkan, timbul risiko terjadi yang namanya ‘polifarmasi,’ atau peresepan lebih banyak obat dari yang dibutuhkan.


Sebenarnya, dokter spesialis geriatri sudah mewadahi masalah-masalah yang ditemukan di pelayanan kesehatan lanjut. Ketika semua interaksi antara lansia dengan pelayanan kesehatan diwadahi oleh pintu dokter spesialis geriatri, lansia tidak perlu lagi bersusah-payah mendatangi berbagai divisi-divisi kesehatan yang lain. Selain itu, dokter spesialis geriatri juga dapat memantau obat-obat yang diresepkan kepada pasien untuk mengurangi terjadinya polifarmasi. Ibaratnya, geriatri adalah one stop shopping pengobatan lansia.


Namun sayangnya, belum semua rumah sakit mengenali rujukan ke spesialis geriatri. Ini karena dasar rujukan dari sistem BPJS berbasis penyakit/organ, bukan berbasis populasi. Sebagai contoh, pasien lansia dengan gagal jantung berat, diabetes, dan penyakit radang sendi tetap akan dirujuk ke spesialis jantung. Oleh karena itu, perlu dilakukan edukasi pelan-pelan kepada layanan primer dan sekunder bahwa pasien lansia dengan penyakit multipel harus dirujuk ke geriatri dulu.

Seperti halnya penduduk lain, lansia berhak mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak. Berhubung lansia merupakan kelompok penduduk yang memiliki kebutuhan khusus, pelayanan medis perlu juga memberikan penanganan yang khusus. Dengan pelan-pelan mengimplementasikan perubahan-perubahan seperti yang tertera diatas, mungkin kita bisa membantu lansia-lansia seperti Eyang Suci mendapatkan pengalaman yang lebih nyaman pada saat berobat ke rumah sakit.


Penulis: Marsa Harisa Daniswara, S.Ked.

marsa.harisa@gmail.com

Dokter Muda RSUP dr. Sardjito Yogyakarta



Sumber: dr. I Dewa Putu Pramantara S, Sp. P.D (KGer)

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Geriartri

RSUP dr. Sardjito Yogyakarta

Wawancara 10 Januari 2019


63 tampilan

informasi kesehatan terpercaya

  • White Facebook Icon
  • White Instagram Icon

info@healthierindonesia.org              Healthier Indonesia                healthier.indonesia