Benarkah Itu: Menstrual Cup Bisa Merusak Keperawanan?

Oleh Ade Saputri, S.Ked





Apakah penggunaan menstrual cup selama menstruasi bisa merusak keperawanan?


Kesimpulan: Salah


Penggunaan menstrual cup dengan jenis dan ukuran yang benar tidak akan merusak keperawanan.


Menstrual cup adalah alat yang digunakan untuk menampung darah melalui vagina selama proses menstruasi yang dapat digunakan berkali–kali dan menampung darah lebih banyak dibandingkan dengan pembalut atau tampon. Menstrual cup merupakan pilihan alternatif untuk menampung darah haid yang ramah lingkungan. Kini, masih banyak mitos yang beredar mengenai penggunaannya seperti menstrual cup dapat merusak keperawanan.


Menurut penelitian dari van Eijk, et. al. (2019) dalam The Lancet, menstrual cup efektif, aman, dan terjangkau untuk semua kalangan wanita. Menstrual cup dapat mengurangi insidensi kebocoran darah menstruasi yang biasa terjadi pada penggunaan pembalut atau tampon, mengurangi risiko infeksi saluran kencing dan reproduksi, bersifat ramah lingkungan, serta dapat mengurangi pengeluaran bulanan yang digunakan untuk membeli pembalut atau tampon.


Penggunaan menstrual cup untuk wanita yang masih perawan sangat mungkin dan aman. Pilihan menstrual cup dengan jenis dan ukuran yang benar tidak akan menimbulkan kelainan struktural berarti pada daerah kewanitaan. Ini karena menstrual cup terbuat dari silikon, karet, lateks atau elastomer yang bersertifikasi medis sehingga bersifat lentur. Sebaiknya memperhatikan usia, jenis kelenturan cup, banyaknya darah selama menstruasi, riwayat melahirkan dan beberapa hal lainnya ketika memilih ukuran menstrual cup. Menstrual cup yang lebih kecil dianjurkan untuk wanita yang berusia dibawah 30 tahun dan belum pernah melahirkan. Wanita berusia 30 tahun keatas, sudah pernah melahirkan secara normal, dan cenderung mengalami perdarahan yang banyak selama menstruasi sebaiknya memilih ukuran yang lebih besar. Walaupun begitu, wanita yang belum pernah melakukan hubungan intim kemungkinan akan merasa kesulitan dalam pemasangan pada awal-awal penggunaan, namun ini akan membaik seiring dengan frekuensi penggunaan.


Selain itu, penting juga untuk dipahami bahwa intak tidaknya selaput dara sebenarnya tidak menunjukkan status keperawanan seorang wanita. Selaput dara memiliki beberapa variasi dan sangat lentur. Hubungan intim dapat menyebabkan robek dan perdarahan pada selaput dara, namun hal tersebut belum tentu terjadi pada semua kasus. Beberapa jenis selaput dara akan teregang selama hubungan intim, sehingga bentuknya akan kembali seperti semula dan tidak terjadi kerusakan. Beberapa selaput dara bahkan bisa robek tanpa melakukan hubungan intim, seperti jika melakukan kegiatan – kegiatan seperti yoga, berkuda, olahraga berat dan jatuh. Hal ini kembali lagi kepada variasi dan elastisitas selaput dara yang ada.



Penulis: Ade Saputri, S.Ked.

adesaptr@gmail.com

Dokter Muda


Editor: dr. Rio Restu Priambodo

riorestup@gmail.com

Dokter Umum


Fotografer: Francisco Gilbert Timothy, S.Ked.

franciscogani@gmail.com

Dokter Muda




Referensi:

  1. van Eijk, A.M., Zulaika, G., Lenchner, M., Mason, L., Sivakami, M., Nyothach, E., Unger, H., Laserson, K. and Phillips-Howard, P.A., 2019. Menstrual cup use, leakage, acceptability, safety, and availability: a systematic review and meta-analysis. The Lancet Public Health, 4(8), pp.e376-e393. https://www.thelancet.com/journals/lanpub/article/PIIS2468-2667(19)30111-2/fulltext

  2. Rogers, D.J. and Stark, M., 1998. The hymen is not necessarily torn after sexual intercourse. Bmj, 317(7155), p.414.





91 tampilan

informasi kesehatan terpercaya

  • White Facebook Icon
  • White Instagram Icon

info@healthierindonesia.org              Healthier Indonesia                healthier.indonesia