Mie Instan Menyebabkan Kanker?

Oleh Asiah Hatta Umar, S.Ked.



Berita:

Seorang pria di Bogor menceritakan pengalamannya telah divonis dokter tidak bisa lagi makan mie instan seumur hidup di laman Facebooknya. Memiliki kebiasaan makan mie instan sejak tahun 2008, pria tersebut mampu menghabiskan setengah kardus mi instan baik goreng maupun kuah hanya dalam sepekan. Saat memutuskan untuk mengurangi konsumsi mie instan, pria ini merasa kerongkongan dan lambungnya panas seperti terbakar disertai muntah darah hingga dua kali. Setelah diperiksa, ditemukan radang di tenggorokan yang mulai parah. Sejak saat itu dokter menyarankan untuk tidak makan mie instan selamanya agar tidak mengalami kanker tenggorokan. Benarkah mie instan bisa menyebabkan kanker?


Kesimpulan: BELUM TERBUKTI

Belum ada penelitian yang menjelaskan bahwa mie instan dapat

menyebabkan kanker secara langsung.



Siapa yang tidak kenal dengan mie instan? Di Indonesia, mie instan bisa dikatakan sebagai salah satu makanan paling digemari semua kalangan terutama Sobat Sehat yang sedang merantau untuk menempuh dunia perkuliahan, nih. Apalagi menjelang akhir bulan, mie instan sering kali menjadi menu pilihan untuk kita. Selain rasanya yang nikmat dan murah, mie instan mudah ditemui dan cara memasaknya juga mudah. Tapi benar nggak sih, mie instan bisa bikin kanker?


Dampak Mie Instan Pada Tubuh

Sejauh ini belum ada penelitian tentang mie instan yang berkaitan langsung dengan kanker. Oleh karena itu, tidak bisa disimpulkan bahwa konsumsi mie instan menyebabkan kanker. Namun, bukan berarti bahwa konsumsi mie tiap hari itu aman. Terdapat penelitian di Korea yang mengatakan bahwa mie instan dapat meningkatkan risiko penyakit kardiometabolik di kalangan mahasiswa berusia 18 – 29 tahun, terutama pada wanita. Penelitian lain yang mendukung mengatakan bahwa mengkonsumsi mie instan menyebabkan asupan kalori, lemak, dan natrium yang berlebihan dan meningkatkan asupan tiamin dan riboflavin.


Apa Saja Komposisi Dari Mie Instan?

Sumber gambar: jurnalanakpangan.blogspot

Dari informasi nilai gizi salah satu merek mie instan terkenal, dapat dilihat bahwa mie tersebut berkalori tinggi, memenuhi 40% dari seluruh kebutuhan lemak jenuh harian, dan memenuhi 43% dari seluruh kebutuhan natrium harian. Mie instan juga memiliki beberapa kandungan mikronutrien (asam folat, zat besi (Fe), vitamin A, B1, B6, dan B12) yang bermanfaat untuk mengurangi risiko anemia dan bahan tambahan pangan (BTP). Berdasarkan Per Ka BPOM No. 37 Tahun 2013 tentang Batas Maksimum Penggunaan Bahan Tambahan Pangan Berwarna, BTP yang diizinkan, yaitu tartrazin (zat pewarna sintetik), TBHQ (pengawet pangan), natrium benzoate (pengawet pangan), dan MSG (penguat rasa).



Bahaya Nggak Sih, Keseringan Makan Mie Instan?

Diet makanan yang mayoritas terdiri dari mie instan tanpa makanan bergizi lain tentu berbahaya bagi tubuh kita. Selain kecukupan gizinya yang rendah karena mie instan memiliki tingkat penyerapan yang rendah, makan lebih dari satu bungkus mie instan setiap hari akan mengakibatkan risiko kesehatan yang sangat beragam mulai dari obesitas, konstipasi, penyakit metabolik seperti jantung dan diabetes mellitus, hipertensi, kerusakan fungsi ginjal, asma, ADHD, alergi, migrain, Chinese Restaurant Syndrome, inflamasi, dan lain - lain.


Risiko - risiko mengonsumsi mie instan tersebut di dapat dari bahan tambahan pangan yang ada pada mie instan, yaitu : MSG, natrium benzoat, tartrazin, dan TBHQ. Sebenarnya, MSG merupakan penguat rasa yang aman untuk dikonsumsi tanpa batasan normal harian. Namun, Badan POM (Pengawas Obat dan Makanan) dan FDA (Food and Drug Administration) menyarankan untuk tetap mengkonsumsi MSG dalam jumlah yang sangat kecil. Tidak hanya MSG, untuk bahan tambahan pangan yang lain pun oleh Badan POM tetap disarankan dikonsumsi dalam jumlah kecil atau tidak melebihi batas asupan harian.


Selain itu, asupan natrium juga perlu diperhatikan. Pada satu bungkus mie instan ditemukan kadar natrium sebanyak 1.040 mg. Menurut AHA (American Heart Association), asupan natrium idealnya 1.500 mg/hari dan tidak boleh melebihi 2.300 mg/hari. Jika dalam sehari mengkonsumsi lebih dari satu bungkus mie instan, tubuh kita telah mengonsumsi natrium lebih dari 2.300 mg/hari. Apabila terus menerus dikonsumsi secara berlebihan, akan mengganggu keseimbangan cairan. Masuknya cairan ke dalam sel akan mengecilkan diameter pembuluh darah sehingga jantung harus memompa darah lebih kuat dan berakibat meningkatnya tekanan darah sehingga meningkatkan risiko hipertensi hingga penyakit jantung dan stroke.


Apakah Boleh Mengkonsumsi Mie Instan?

Sobat Sehat tentu boleh mengkonsumsi mie instan. Namun, karena mie instan tidak mengandung semua gizi yang dibutuhkan tubuh, pastikan bahwa Sobat Sehat juga memakan makanan bergizi lain, seperti buah dan sayur. Untuk menambah nilai gizi dari mie instan, Sobat Sehat bisa menambahkan sayuran dan beberapa sumber protein sebagai pelengkap.


Tapi ingat, jangan makan mie instan lebih dari 1x per hari, ya! Lebih bagus lagi jika 1x per minggu.


Penulis:

Asiah Hatta Umar, S.Ked

ais.hattaumar@gmail.com

Dokter Muda


Editor:

dr. Marsa Harisa Daniswara

marsa.harisa@gmail.com

Dokter Umum


Fotografer:

dr. Francisco Gilbert Timothy

franciscogani@gmail.com

Dokter Umum

Sumber: cgtn.com

Referensi:

  1. Badan POM. Bahaya BTP (Bahan Tambahan Pangan) pada Mi Instan. http://ik.pom.go.id/v2016/artikel/Bahaya%20BPT_Bahan%20Tambahan%20Pangan_%20pada%20Mi%20Instan%20.pdf. Diakses 27 Juni 2020.

  2. Link, R. Healthline (2017). Are Instant Noodles Bad for You? https://www.healthline.com/nutrition/instant-noodles#section4. Diakses 27 Juni 2020

  3. Park, Juyeon, et all. 2011. A comparison of food and nutrient intake between instant noodle consumers and non-instant noodle consumers in Korean adults. Nutrition Research and Practice (Nutr Res Pract) 2011;5(5):443-449. http://dx.doi.org/10.4162/nrp.2011.5.5.443

  4. Shin, Hyun Joon, et al. 2014. Instant Noodle Intake and Dietary Patterns Are Associated with Distinct Cardiometabolic Risk Factors in Korea. The Journal of Nutrition and Disease. doi:10.3945/jn.113.188441

  5. American Heart Association (AHA). 2012. Sodium, Blood Pressure, and Cardiovascular Disease : Further Evidence Supporting the American Heart Association Sodium Reduction Recommendations. (Circulation. 2012;126:2880-2889.). https://doi.org/10.1161/CIR.0b013e318279acbf

  6. Kementerian Kesehatan RI. 2018. Apa Pengaruh Konsumsi Garam Berlebih Terhadap Penyakit Tidak Menular? http://p2ptm.kemkes.go.id/infographic-p2ptm/hipertensi-penyakit-jantung-dan-pembuluh-darah/page/28/apa-pengaruh-konsumsi-garam-berlebih-terhadap-penyakit-tidak-menular. Diakses 30 Juni 2020.

63 tampilan

informasi kesehatan terpercaya

  • White Facebook Icon
  • White Instagram Icon

info@healthierindonesia.org              Healthier Indonesia                healthier.indonesia