Pengaruh Jenis Tes Terhadap Kurva COVID-19 di Indonesia

Diperbarui: Mei 1

Oleh Keisha Athiyyawara Lyubiana



Konfirmasi kasus positif COVID-19 di Indonesia terjadi pada 2 Maret 2020. Lalu, mulai 24 Maret 2020, pemerintah mulai mendistribusikan tes cepat serologi (rapid test) ke berbagai penjuru negeri untuk memulai tes massal. Sejak memulai tes massal, jumlah kasus yang terkonfirmasi di Indonesia memang naik lebih cepat, menyebabkan kurva jumlah total kasus menjadi naik lebih tajam. Data terbaru menunjukkan bahwa per 21 April 2020, jumlah kasus positif di Indonesia mencapai angka 7.135 dengan total orang yang sudah diperiksa sebanyak 46.173 dengan metode PCR (polymerase chain reaction). Sementara itu, jumlah PDP (pasien dalam pengawasan) sebanyak 16.763 dan ODP (orang dalam pemantauan) sebanyak 186.330.



Meski begitu, apakah ini artinya kurva jumlah kasus di Indonesia sudah mendekati jumlah puncak yang lalu melandai, yang sering disebut sebagai peristiwa “flattening the curve”, atau justru kita masih jauh dari titik itu? Untuk dapat melihat tren ke arah “flattening the curve”, pakar-pakar dari berbagai universitas di Indonesia dan luar negeri yang tergabung dalam SimcovID menjelaskan bahwa Indonesia harus mencapai nilai R<1. R disini merepresentasikan jumlah orang yang akan tertular virus untuk setiap orang yang terinfeksi. Hal ini dapat dicapai melalui tes massal dan kebijakan Kesehatan masyarakat yang sesuai (misal lockdown). Sebagai contoh, di Korea Selatan tes massal dilakukan sejak awal wabah mulai dan berhasil mengetes 1% dari jumlah total populasi, sehingga mereka tidak perlu melakukan lockdown untuk mencapai R<1. Sementara itu, Italia yang merespon cukup telat harus melakukan lockdown total di seluruh negaranya dan melakukan tes massal yang mencapai 1,67% dari total populasi untuk bisa mencapai R<1.


Menurut pakar dari SimcovID, Indonesia harus mengetes paling tidak 1% dari total populasi untuk bisa melihat tren yang lebih jelas, sehingga prediksi kapan puncak wabah akan terjadi bisa lebih akurat. Saat ini, sangat susah untuk melihat apakah Indonesia sudah mendekati titik puncak yang lalu diikuti pelandaian kurva. Jumlah total orang yang telah dites masih <0,01% dari total populasi. Ditambah lagi, tes massal yang dimulai pemerintah pada 24 Maret 2020 itu merupakan tes cepat serologi atau lebih dikenal umum sebagai rapid test, bukan tes PCR yang bisa mengkonfirmasi kasus COVID-19. Perbedaan antar kedua tes dan kenapa pemilihan tes untuk tes massal sangat berpengaruh dalam mencapai “flattening the curve” akan dijelaskan di bawah.


1. Tes PCR


Sampel utama yang digunakan: apusan nasofaring

Hasil diterima dalam: ± 3-5 hari


Seperti yang mungkin sudah banyak diketahui, pemerintah Indonesia sudah memaparkan beberapa jenis tes diagnostik COVID-19 yang tersedia. Pertama adalah polymerase chain reaction atau lebih dikenal sebagai PCR. Tes ini merupakan tes yang hingga saat ini dianggap paling akurat dalam mendiagnosis COVID-19, karena dapat mendeteksi virus secara langsung. Tes ini membutuhkan sampel apusan dari nasofaring atau orofaring (tenggorokan di bagian belakang hidung atau mulut), atau dahak penderita. Secara sederhana, tes ini mendeteksi materi genetik RNA virus. Sehingga, tes ini merupakan tes yang dapat digunakan untuk mendiagnosis secara pasti penyakit ini. Selain itu, jenis pemeriksaan PCR juga merupakan pilihan utama dalam menentukan kesembuhan dan memastikan pasien sudah tidak dapat menularkan penyakit COVID-19 lagi.



Meski begitu, tes diagnostik yang paling akurat ini pun tetap dapat memberikan hasil negatif palsu (hasil tes dinyatakan negatif padahal sebenarnya pasien terinfeksi virus SARS-CoV2). Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa hal, seperti kualitas sampel yang diambil tidak baik, perlakuan atau transpor sampel yang tidak sesuai dengan standar, atau pengambilan sampel yang terlambat atau terlalu dini diambil dalam proses perjalanan penyakit. Tes PCR ini memang merupakan pemeriksaan yang paling mahal dan membutuhkan waktu paling lama dibanding tes-tes lainnya. Waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan hasil tes ini bisa mencapai beberapa hari, apalagi di Indonesia hanya beberapa laboratorium saja yang bisa melakukan tes-nya.


2. Tes Serologi/Tes Cepat (Rapid Test)


Sampel yang digunakan: serum darah

Hasil diterima dalam: ± 15 menit

Satu jenis tes lain yang juga sudah digunakan pemerintah Indonesia adalah tes serologi atau lebih dikenal sebagai rapid test di kalangan umum karena hasilnya bisa diterima pasien dalam 15 menit. Berbeda dengan PCR, tes ini tidak mendeteksi virus secara langsung, melainkan mendeteksi antibodi yang dihasilkan orang yang terinfeksi oleh virus ini. Sampel yang digunakan juga berbeda, yaitu serum darah. Ada dua jenis antibodi yang dideteksi menggunakan tes ini, yaitu IgM dan IgG. IgM adalah antibodi yang pertama muncul setelah seseorang terinfeksi. IgM biasanya muncul beberapa hari setelah orang terinfeksi dan bertahan selama 5-6 hari, lalu akan muncul lagi dalam jumlah yang lebih kecil jika orang tersebut terpapar dengan kuman yang sama lagi. Sehingga, jika terdeteksi, ini menunjukkan bahwa orang tersebut sedang dalam fase infeksi aktif. Hal ini berbeda dengan IgG yang biasanya baru muncul setelah 4 minggu terinfeksi, sehingga jika terdeteksi, menunjukkan bahwa orang tersebut pernah terinfeksi tapi sekarang sudah tidak dalam fase aktif.


Namun, tiap orang membutuhkan waktu yang berbeda-beda untuk menghasilkan antibodi. Selain itu, SARS-CoV-2 merupakan virus baru, sehingga belum bisa ditentukan waktu rata-rata IgM dan IgG muncul. Sehingga, tes ini sebenarnya dianggap kurang akurat untuk mendiagnosis infeksi aktif COVID-19, apalagi pada fase sangat awal dimana orang sudah infeksi aktif dan bisa menularkan ke orang lain tapi belum memproduksi IgM. Berdasarkan rekomendasi WHO, tes serologi bisa digunakan untuk mendiagnosis COVID-19 pada pasien yang mendapatkan hasil tes PCR negatif, namun pasien tersebut masih sangat dicurigai menderita COVID-19 (bisa karena riwayat kontak dengan penderita yang terkonfirmasi positif atau gejala-gejala yang memenuhi kriteria COVID-19). Untuk memenuhi kriteria diagnosis, tes serologi ini pun harus dilakukan sebanyak dua kali.



Berbeda dengan materi genetik virus, antibodi dapat bertahan lama di dalam tubuh dan bisa terdeteksi bahkan setelah infeksi selesai atau dinyatakan sembuh. Sehingga, tes serologi ini lebih disarankan untuk mempelajari tentang pola penyebaran virus dan seberapa banyak dari populasi yang sebenarnya terinfeksi karena tidak semua orang menunjukkan gejala. Pola ini penting diketahui untuk lebih baik memprediksi dan menangani wabah-wabah berikutnya.


Beberapa peneliti juga sedang mempelajari peran tes serologi ini dalam menentukan imunitas (ketahanan tubuh dari infeksi) orang-orang yang telah sembuh dari COVID-19. Adanya antibodi terhadap virus Corona tipe 2 menandakan imunitas seseorang, sehingga, bila terdeteksi, orang-orang ini bisa kembali bekerja seperti biasa. Hal ini penting terutama di situasi pelayanan kesehatan yang kekurangan tenaga kesehatan untuk penanganan wabah. Meski begitu, karena virus ini adalah virus baru, maka peneliti belum bisa menentukan seberapa kuat dan lama imunitas ini akan bertahan dan seberapa tinggi risiko seseorang dapat terinfeksi lagi. Tidak hanya itu, penting untuk dipastikan juga bahwa orang-orang yang telah sembuh ini juga sudah tidak bisa menginfeksi orang lain yang hanya bisa dikonfirmasi dengan tes PCR.


3. Tes Cepat Molekuler (TCM)


Sampel yang digunakan: apusan nasofaring

Lama pemeriksaan: ± 45 menit

Saat ini, pemerintah Indonesia sedang mengusahakan pengadaan jenis tes baru, yaitu Tes Cepat Molekuler (TCM). Tes ini dianggap merupakan pilihan terbaik untuk melakukan tes COVID-19 massal di Indonesia karena beberapa alasan berikut:

  • Pertama, alat tes yang digunakan adalah alat tes untuk diagnosis tuberkulosis yang sejak 2014 sudah ditempatkan oleh Kementerian Kesehatan di fasilitas kesehatan terpilih di berbagai provinsi. Hal ini dapat mengurangi waktu dan biaya yang dibutuhkan untuk mengirim sampel seperti pada tes PCR.

  • Kedua, tes ini menggunakan metode yang sama dengan PCR sehingga memiliki akurasi terbaik dan hasil bisa didapatkan jauh lebih cepat (sekitar 45 menit).



Penggunaan massal tes TCM ini di Indonesia diusulkan oleh Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) atas rekomendasi The International Union Against Tuberculosis and Lung Disease. TCM ini juga sudah disetujui penggunaannya di Amerika Serikat oleh the United States Food and Drug Administration (FDA). Saat ini, pemerintah sedang mengusahakan impor dan produksi massal cartridge khusus COVID-19 untuk pemeriksaan melalui alat ini. Namun, untuk menjalankannya, tenaga medis harus diberikan pelatihan khusus karena adanya perubahan fungsi dan cara pengoperasian alat tes ini. Di sisi lain, perlu diperhatikan juga bahwa alih fungsi alat tes ini jangan sampai dapat mengabaikan penyakit tuberkulosis yang masih merupakan permasalahan besar di Indonesia.


Kapan kita di tes?

Hingga saat ini, pemerintah Indonesia menerapkan kebijakan bahwa tes serologi massal dilakukan pada kelompok-kelompok yang paling rentan, yaitu pada ODP (Orang Dalam Pemantauan), PDP (Pasien Dalam Pengawasan), tenaga medis, dan mereka yang berada dalam lingkaran keluarga, pertemanan, dan tetangga pasien. Jika tes serologi seseorang menunjukkan hasil negatif dan menunjukkan gejala infeksi saluran nafas (batuk, nyeri telan, demam, atau sesak nafas), maka orang tersebut diinstruksikan untuk karantina mandiri sebelum mengulang tes setelah minimal 7 hari. Namun, jika tes serologinya positif, maka orang tersebut diarahkan untuk melakukan tes PCR untuk mengonfirmasi diagnosis. Hal ini dikarenakan jenis tes serologi bersifat skrining dan tidak ditujukan untuk mendiagnosis secara pasti selayaknya tes PCR atau TCM.


Tes untuk diagnosis COVID-19 ini memang sangat beragam dengan tingkat kemampuan mendeteksi yang bermacam-macam juga, Sobat Sehat. Sehingga, kegunaannya memang harus disesuaikan dengan kondisi wilayah tempat wabah tersebut terjadi.

Kunci utama untuk melandaikan kurva adalah dengan deteksi kasus dan pencegahan penyebaran virus.

Deteksi kasus COVID-19 sudah diusahakan pemerintah melalui tes massal dan tes lainnya. Sedangkan, pencegahan penyebaran virus ini dipengaruhi secara besar oleh kita sebagai masyarakat. Karena masyarakat merupakan garda terdepan dalam melawan COVID-19, kita pun dapat membantu melandaikan kurva dengan perilaku kita yang setia menerapkan physical distancing, tidak keluar rumah kecuali benar-benar perlu dan selalu menggunakan masker saat keluar, tidak melakukan perjalanan luar wilayah, sering mencuci tangan, menghindari menyentuh wajah, dan prinsip-prinsip hidup sehat lainnya adalah senjata paling ampuh dalam mengalahkan wabah COVID-19 ini. Jadi jangan lupa untuk saling jaga, ya, Sobat Sehat!



Penulis:

Keisha A. Lyubiana

keishalyubiana@gmail.com

Dokter muda RSUP Dr. Sardjito


Editor:

dr. Stephen Valentino

stephenvalentinomd@gmail.com

Dokter umum


Referensi:


  1. Adjie, M., 2020. Indonesia to start using TB testing kits for COVID-19 this week. The Jakarta Post, [online] Available at: <https://www.thejakartapost.com/news/2020/04/01/indonesia-to-start-using-tb-testing-kits-for-covid-19-this-week.html> [Accessed 5 April 2020].

  2. BBC Indonesia, 2020. Virus corona: Metode, efektivitas, dan pelaksanaan 'rapid test' Covid-19 oleh pemerintah. [online] Available at: <https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-52031790> [Accessed 5 April 2020].

  3. BBC Indonesia, 2020. Virus corona: Rencana gunakan alat deteksi TBC untuk Covid-19, pemerintah diminta tidak abaikan penyakit yang lebih mematikan. [online] Available at: <https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-52142678> [Accessed 5 April 2020].

  4. Damarjati, D., 2020. Agar Bisa Tekan Penularan Corona, PSBB Perlu Berlaku Sebulan. detikNews, [online] Available at: <https://news.detik.com/berita/d-4980252/agar-bisa-tekan-penularan-corona-psbb-perlu-berlaku-sebulan/2> [Accessed 22 April 2020].

  5. Indonesia.go.id, R., 2020. Kasus Covid-19 Pertama, Masyarakat Jangan Panik | Indonesia.Go.Id. [online] Indonesia.go.id. Available at: <https://indonesia.go.id/narasi/indonesia-dalam-angka/ekonomi/kasus-covid-19-pertama-masyarakat-jangan-panik> [Accessed 22 April 2020].

  6. Irfan, U., 2020. How Covid-19 Immunity Testing Can Help People Get Back To Work. [online] Vox. Available at: <https://www.vox.com/2020/3/30/21186822/immunity-to-covid-19-test-coronavirus-rt-pcr-antibody> [Accessed 5 April 2020].

  7. Lowe, D., 2020. Antibody Tests For The Coronavirus. [online] Science Translational Medicine. Available at: <https://blogs.sciencemag.org/pipeline/archives/2020/04/02/antibody-tests-for-the-coronavirus> [Accessed 22 April 2020].

  8. Mukaromah, V., 2020. 2.956 Orang Terinfeksi Covid-19, Berikut 3 Jenis Tes Virus Corona di Indonesia. Kompas, [online] Available at: <https://www.kompas.com/tren/read/2020/04/09/065200565/2.956-orang-terinfeksi-covid-19-berikut-3-jenis-tes-virus-corona-di?page=all> [Accessed 22 April 2020].

  9. Pappas, S., 2020. Coronavirus Testing Is Ramping Up. Here Are The New Tests And How They Work.. [online] Live Science. Available at: <https://www.livescience.com/coronavirus-tests-available.html> [Accessed 5 April 2020].

  10. Permana, A., 2020. Dr. Nuning Nuraini Bersama Tim Simcovid Sampaikan Kajian Ilmiah Terbaru Pandemi COVID-19 Di Indonesia -. [online] Institut Teknologi Bandung. Available at: <https://www.itb.ac.id/news/read/57461/home/dr-nuning-nuraini-bersama-tim-simcovid-sampaikan-kajian-ilmiah-terbaru-pandemi-covid-19-di-indonesia> [Accessed 22 April 2020].

  11. Sumartiningtyas, H., 2020. Indonesia Mulai Tes Massal Covid-19, Ini Rekomendasi Ilmuwan. Kompas, [online] Available at: <https://www.kompas.com/sains/read/2020/03/20/193100723/indonesia-mulai-tes-massal-covid-19-ini-rekomendasi-forum-ilmuwan> [Accessed 22 April 2020].

  12. U.S. Food and Drug Administration. 2020. Faqs On Diagnostic Testing For SARS-Cov-2. [online] Available at: <https://www.fda.gov/medical-devices/emergency-situations-medical-devices/faqs-diagnostic-testing-sars-cov-2> [Accessed 22 April 2020].

  13. World Health Organization, 2020. Laboratory Testing For Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) In Suspected Human Cases: Interim Guidance. [online] World Health Organization, pp.3-4. Available at: <https://apps.who.int/iris/bitstream/handle/10665/331329/WHO-COVID-19-laboratory-2020.4-eng.pdf?sequence=1&isAllowed=y> [Accessed 5 April 2020].


168 tampilan

informasi kesehatan terpercaya

  • White Facebook Icon
  • White Instagram Icon

info@healthierindonesia.org              Healthier Indonesia                healthier.indonesia