Premenstrual Syndrome

Oleh Keisha Lyubiana, S.Ked.

Sumber: https://chicagohealthonline.com/unexplained-abdominal-pain-could-be-a-pinched-nerve/


Sudah menjadi persepsi umum bahwa perempuan menjadi lebih moody dan sensitif sebelum menstruasi, ditambah adanya berbagai keluhan seperti sakit perut dan rasa kembung. Oleh karena itu, istilah PMS sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat umum, baik perempuan maupun laki-laki. Namun, apa yang sebenarnya dimaksud dengan PMS? Apakah PMS merupakan kondis medis yang benar-benar ada, bahkan bisa sampai membahayakan? Lalu, bagaimana cara menanganinya?

Apa itu PMS?


Pre-menstrual syndrome (PMS) merupakan perubahan fisik dan mood yang dialami perempuan pada hari-hari sebelum menstruasi dan berulang selama berbulan-bulan serta mengganggu kehidupan sehari-hari. Beberapa gejala emosional yang bisa ditemukan adalah mudah marah dan menangis, depresi, kecemasan, gangguan tidur, menarik diri dari situasi sosial, dan susah konsentrasi. Selain itu, juga ditemukan gejala fisik seperti mengidam makanan tertentu, nyeri payudara, rasa kembung, sakit kepala, tidak enak badan, mudah lelah, dan masalah kulit serta pencernaan.


Hingga saat ini, mekanisme persis munculnya gejala PMS belum bisa dipastikan. Meski begitu, adanya fluktuasi kadar berbagai hormon pada periode pre-menstruasi dapat dipastikan memegang peran utama, salah satunya hormon serotonin. Saat kadarnya menurun, muncul keadaan mood disforik (rasa tidak nyaman dan tidak puas yang mendalam). Konsekuensinya adalah berbagai gejala emosional yang biasa dialami perempuan saat PMS. Mood disforik ini juga bisa meningkatkan sensitivitas terhadap rasa tidak nyaman dan sakit, sehingga muncul gejala-gejala fisik PMS. Gejala fisik juga bisa disebabkan oleh perubahan pada organ-organ yang responsif terhadap perubahan kadar hormon progesteron dan estrogen. Tidak hanya itu, ada juga perubahan waktu sekresi hormon yang menyebabkan gangguan tidur.

Apakah PMS berbahaya?


Hampir semua perempuan pada usia reproduktif mengalami gejala PMS. Di Indonesia, 95% perempuan mengalami paling tidak satu gejala PMS dengan kejadian paling banyak pada usia 20-29 tahun, dan 3,9% mengalami keparahan sedang hingga berat. Bahkan, 1,1% perempuan mengalami bentuk paling parah dari PMS yaitu PMDD (premenstrual dysphoric disorder), di mana perubahan mood yang ekstrem sampai mengganggu pekerjaan dan merusak hubungan.


PMS tidak berbahaya dalam artian tidak akan menyebabkan kematian atau kesakitan yang parah dan kronis. Meski begitu, PMS bisa secara signifikan menurunkan kualitas hidup perempuan, apalagi jika sudah sampai tahap PMDD yang bisa berefek destruktif terhadap kehidupan sosial. Sehingga, penting untuk tahu apa hal-hal yang bisa kita lakukan sendiri untuk mencegah dan menangani PMS.

Modifikasi Gaya Hidup


Tahap pertama dalam menangani PMS adalah modifikasi gaya hidup. Melakukan olahraga aerobik (jalan cepat, jogging, bersepeda, berenang) secara rutin (tidak hanya saat ada gejala) selama paling tidak 30 menit per hari pada hampir setiap hari terbukti bisa memperbaiki gejala PMS. Relaksasi dan menurunkan stress juga merupakan cara yang efektif, bisa dicapai dengan latihan napas, meditasi, yoga, bahkan pijat. Selain itu, tidur dan bangun pada waktu yang selalu sama juga bisa mengurangi fluktuasi mood dan kelelahan.

Tentunya, diet juga merupakan kunci dalam menangani PMS. Beberapa yang disarankan adalah memperbanyak konsumsi karbohidrat kompleks (gandum utuh, nasi merah, kacang-kacangan) dan kalsium (yogurt, sayuran hijau berdaun), dan menurunkan konsumsi lemak, garam, dan gula. Disarankan juga untuk menghindari kafein dan alkohol. Mengubah jadwal makan menjadi enam kali sehari dengan porsi yang lebih kecil juga akan membantu mengurangi gejala.

Terapi Medis


Jika dengan modifikasi gaya hidup gejala masih mengganggu kehidupan sehari-hari, maka disarankan untuk pergi ke dokter. Contohnya, obat anti-inflamasi non-steroid (OAINS) seperti ibuprofen bisa diresepkan untuk mengurangi rasa nyeri. Jika depresi atau kecemasan merupakan gejala yang dominan seperti pada PMDD, maka bisa diberikan obat anti-depresi atau anti-cemas. Selain itu, kontrasepsi hormonal juga bisa digunakan untuk mengurangi gejala fisik dan beberapa gejala emosional. Meski begitu, konsumsi obat bisa memberikan beberapa efek samping dan bisa tidak cocok pada beberapa kondisi, sehingga sangat penting untuk konsultasi dokter terlebih dahulu dan mengonsumsi sesuai petunjuk dokter.

Dapat disimpulkan bahwa PMS merupakan suatu kondisi medis nyata yang dialami hampir semua perempuan usia reproduktif. Meski tidak mengancam jiwa, PMS bisa menurunkan kualitas hidup perempuan secara signifikan, sehingga penting untuk mengetahui cara-cara yang bisa dilakukan mandiri untuk menanganinya, dan mengenali kapan harus pergi ke dokter. Get to know, understand, and take care of your bodies, girls!


Penulis

Keisha Lyubiana, S.Ked.

keishalyubiana@gmail.com


Editor

dr. Riyo P. Irawan

riyopungkiirawan@gmail.com

Referensi:

  1. ACOG: The American College of Obstetricians and Gynecologists. 2020. Premenstrual Syndrome (PMS). [online] Available at: <https://www.acog.org/patient-resources/faqs/gynecologic-problems/premenstrual-syndrome> [Accessed 13 August 2020].

  2. Emilia, O., 2008. Premenstrual syndrome (PMS) and premenstrual dysphoric disorder (PMDD) in Indonesian women. Journal of the Medical Sciences, 40(3).

  3. Yonkers, K., O'Brien, P. and Eriksson, E., 2008. Premenstrual syndrome. The Lancet, 371(9619), pp.1200-1210.

14 tampilan

informasi kesehatan terpercaya

  • White Facebook Icon
  • White Instagram Icon

info@healthierindonesia.org              Healthier Indonesia                healthier.indonesia