Puasa Di Tengah Pandemi

Oleh Riyana Rochmawati, S.Gz


Sumber : http://www.yankes.kemkes.go.id/read-pesan-umum-slogan-dan-visual-gizi-seimbang-6455.html

Halo Sobat Sehat! Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 H bagi yang merayakan ya. Setelah menjalani puasa ramadan selama 1 bulan penuh, akhirnya kita memasuki bulan syawal untuk merayakan hari raya. Walaupun hari raya kali ini sedikit berbeda dengan tahun - tahun sebelumnya tetapi ibadah masih bisa terlaksana dengan khidmat. Oh iya Sobat Sehat, ternyata ada ibadah sunah yang dapat dilakukan di bulan syawal loh, yaitu puasa 6 hari syawal. Puasa 6 hari syawal ini dilakukan mulai hari kedua, karena hari pertama merupakan hari raya idul fitri maka hari tersebut diharamkan untuk berpuasa. Puasa ini dapat dilaksanakan 6 hari secara terus menerus atau selang seling selama masih di bulan syawal. Beberapa Sobat Sehat mungkin merasa enggan untuk berpuasa lagi, apalagi di tengah pandemi yang tak kunjung selesai ini.


Puasa di tengah pandemi COVID-19 bagi beberapa orang dirasakan lebih berat dan dianggap sebagai risiko yang dapat menurunkan sistem imun dengan alasan turunnya asupan makan. Namun, sejumlah riset menunjukkan bahwa puasa justru dapat meningkatkan sistem imun dengan mekanisme autofagi. Mekanisme ini memungkinan sel-sel yang rusak mengalami regenerasi menjadi sel baru yang sehat. Menurut Salem (2020), puasa bisa meningkatkan sistem imun dengan mekanisme kontrol stress oksidatif, mengurangi inflamasi atau peradangan, memperbaiki metabolisme, menstabilkan berat badan, dan menyeimbangkan komposisi tubuh.


Seperti halnya puasa ramadan, puasa 6 hari syawal juga masih termasuk dalam intermittent fasting dikarenakan dalam puasa ini terdapat periode puasa dari matahari terbit dan periode makan setelah matahari terbenam. Pada artikel sebelumnya, telah dibahas mengenai jenis puasa ini. Intermittent fasting sendiri, saat ini sedang populer di kalangan masyarakat. Menurut Ganesan (2018) intermittent fasting memberikan manfaat dalam menurunkan berat badan serta menormalkan kadar trigliserida dan Low Density Lipoprotein (LDL).


Fakta-fakta di atas menunjukkan bahwa puasa bukan hanya sekedar ibadah ritual tetapi juga bisa memberikan dampak positif bagi kesehatan. Manfaat puasa ini akan lebih optimal jika kita menerapkan prinsip yang tepat sesuai gizi seimbang. Kementerian Kesehatan memberikan rekomendasi melalui Tumpeng Gizi Seimbang untuk memenuhi kebutuhan harian karbohidrat sebanyak 3-4 porsi, sayuran 3-4 porsi, buah 2-3 porsi, dan sumber protein 3-4 porsi. Selain itu, kita juga dianjurkan untuk membatasi konsumsi harian gula sebanyak 4 sendok, garam 1 sendok teh, dan minyak 5 sendok. Nah, untuk memudahkan penerapannya, Kementerian Kesehatan juga membuat media edukasi porsi makan melalui Piring Makanku seperti berikut.


Sumber : http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/eat-food-forum/20171026/4423501/sehat-berawal-piring-makanku/

WHO melalui media edukasinya yaitu Nutrition Advice for Adults during COVID-19 juga memaparkan jenis makanan yang harus dipenuhi kebutuhannya selama masa pandemi ini seperti protein hewani dari telur, susu, ikan, daging dan protein nabati dari tempe, tahu, kacang-kacangan.Sumber vitamin dan mineral. Konsumsi jenis makanan- makanan tersebut yang secara mudah didapatkan dari sayuran dan buah - buahan akan mengoptimalkan sistem imun, yang mana sangat kita butuhkan untuk melawan COVID-19. Kita juga dianjurkan untuk memenuhi kebutuhan cairan 8-10 gelas sehari dengan pembagian 1 gelas setelah bangun sahur, 1 gelas setelah bangun sahur, 1 gelas setelah azan magrib, 1 gelas setelah buka puasa, 1 gelas sebelum salat isya, 1 gelas setelah salat isya, dan 1 gelas sebelum tidur. Konsumsi gula terutama dari minuman kemasan harus dibatasi karena dapat menimbulkan inflamasi atau peradangan dan melemahkan kerja sel imun. Selain itu, jenis lemak tidak jenuh dapat dipenuhi dari ikan, alpukat, kacang-kacangan, olive oil, dan canola. Sedangkan untuk makanan dengan kandungan lemak jenuh seperti daging yang berlemak, mentega, krim, keju, dan minyak kelapa sawit yang digunakan berulang harus dibatasi.


Selain memberikan panduan dalam konsumsi makanan, WHO juga mendorong warga dunia untuk lebih memperhatikan kebersihan saat pengolahan dan penyimpanan bahan makanan. Beberapa hal yang direkomendasikan antara lain :

  1. Mencuci bersih tangan dan bahan makanan yang akan diolah.

  2. Memisahkan bahan makanan serta bedakan pisau dan telenan untuk makanan mentah dan matang.

  3. Menyimpan makanan matang pada suhu dan kelembaban yang tepat. Jangan mengkonsumsi makanan yang terlalu lama di ruang terbuka.

  4. Memasak makanan dengan matang terutama lauk hewani.

  5. Memilih air bersih untuk mengolah makanan dan bahan baku yang segar.

  6. Menghindari makan di luar selain menghindari makanan yang tidak higienis juga menghindari kerumunan.


Jadi, dapat disimpulkan bahwa kondisi pandemi bukan merupakan halangan untuk menjalankan ibadah puasa, apapun jenisnya. Apalagi puasa 6 hari syawal ini merupakan sunah yang dianjurkan sehingga memiliki beberapa keutamaan. Salah satu keutamaannya yaitu jika seorang muslim menyelesaikan puasa ramadan dan diikuti dengan puasa 6 hari syawal maka dinilai seperti menjalankan puasa selama 1 tahun lamanya. Berpuasa disaat pandemi bukanlah hal yang merugikan tetapi justru menguntungkan karena tubuh terbantu untuk meningkatkan sistem imunitas. Jika kita tilik dari komponen sehat secara mental dan sosial, puasa juga bisa mendukung kedua komponen tersebut karena selama puasa aspek spiritualitas juga diasah agar diri kita dapat mencapai ketenangan. Puasa akan menjadi optimal sebagai faktor pendukung untuk meningkatkan imunitas, jika kita berhasil mengatur jenis makanan dan porsinya sesuai dengan kebutuhan saat ini sesuai anjuran Kementerian Kesehatan dan WHO.


Penulis:

Riyana Rochmawati, S.Gz

Dietisien


Editor:

dr. Ade Saputri

Dokter Umum


Referensi :

  1. Ganesan, Kavitha & Habboush, Yacob & Sultan, Senan. 2018. Intermittent Fasting: The Choice for a Healthier Lifestyle. Cureus. 10. 10.7759/cureus.2947

  2. Salem, Mohamed & Jahrami, Haitham & Madkour, Mohamed & Bahammam, Ahmed & Faris, Moezalislam. 2020. Ramadan intermittent fasting and immunity: An important topic in the era of COVID-19. Annals of Thoracic Medicine. 10.4103/atm.ATM_151_20.

  3. WHO.2020.Nutrition Advice for Adults during COVID-19




16 tampilan

informasi kesehatan terpercaya

  • White Facebook Icon
  • White Instagram Icon

info@healthierindonesia.org              Healthier Indonesia                healthier.indonesia