Seks Aman dan Bebas Penyakit: Apakah Mungkin?

dr. Rio Restu Priambodo (Penulis)

Marsa Harisa D. (Penyunting)


Infeksi menular seksual (IMS) adalah sekelompok penyakit yang dapat ditularkan melalui kontak seksual dengan segala bentuknya. Setiap harinya, lebih dari satu juta kejadian baru infeksi menular seksual dilaporkan di seluruh dunia. Mengingat bahwa gejala seringkali sulit untuk dikenali, seseorang dapat menyebarkan infeksi menular seksual kepada pasangan seksualnya tanpa disadari.


Dengan segala alat kontrasepsi yang sudah tersedia, apakah mungkin hubungan seksual dapat dilakukan dengan aman tanpa risiko terkena infeksi menular seksual?

Mari kita mencari jawabannya dengan membaca artikel ini!


Setiap harinya, lebih dari satu juta kejadian baru infeksi menular seksual dilaporkan di seluruh dunia. Angka sebenarnya mungkin jauh lebih besar. Hal tersebut disebabkan infeksi menular seksual dapat terjadi tanpa tanda dan gejala klinis yang mencolok. Selain itu, stigma tabu yang menyelimuti penyakit tersebut juga memainkan peran atas rendahnya tingkat pelaporan infeksi menular seksual. Di Indonesia, data yang tersedia masih terbatas pada populasi kunci seperti waria, LSL (lelaki seks dengan lelaki), WPS (wanita penjaja seks), dan penasun (pengguna napza suntik).


Infeksi menular seksual telah menjadi beban kesehatan masyarakat yang nyata. Mengenali adalah langkah awal kita untuk menurunkan beban itu. Tahukah Anda, sifilis dapat meningkatkan risiko tertular HIV hingga 300 kali lipat? Atau kanker leher rahim diawali oleh suatu infeksi menular seksual yang dapat secara efektif dicegah dengan vaksin?


Mengenal Infeksi Menular Seksual secara Sekilas


Infeksi menular seksual adalah (IMS) sekelompok penyakit yang dapat ditularkan melalui kontak seksual dengan segala bentuknya. IMS juga dapat ditularkan melalui produk darah dan transfer jaringan tubuh yang tercemar, kontak cairan tubuh ibu ke bayi selama kehamilan dan persalinan, serta kadang-kadang melalui alat medis. IMS diakibatkan oleh sekitar 30 jenis kuman termasuk bakteri, virus, dan parasit. Di antara yang menimbulkan beban kesehatan masyarakat yang besar adalah gonore, klamidia, sifilis, hepatitis B, dan tentu saja, HIV. Klamidia, misalnya, merupakan salah satu penyebab penyakit radang panggul yang bertanggung jawab terhadap 30-40% kemandulan yang dapat dicegah pada perempuan.

IMS dapat muncul dalam banyak rupa. Seringkali gejala awal tidak dapat dikenali dengan baik karena sifatnya yang ringan atau malah tidak bergejala sama sekali. Namun beberapa gejala dapat menjadi petunjuk adanya infeksi menular seksual yang sedang berlangsung diantaranya kencing nanah, perlukaan area kelamin, benjolan alat kelamin, pembengkakan buah pelir pada pria, dan nyeri perut bawah. Sekali lagi, gejala tersebut tidak selalu muncul pada infeksi menular seksual dan adanya gejala tersebut tidak mutlak menunjukkan seseorang menderita infeksi menular seksual.

Mengenali risiko juga tidak kalah penting!


Menurut WHO, faktor IMS yang terpenting adalah memiliki lebih dari satu pasangan seksual dalam satu bulan terakhir, berhubungan seksual dengan penjaja seks dalam satu bulan terakhir, telah mengalami satu atau lebih episode IMS dalam satu bulan terakhir, dan memiliki pasangan dengan perilaku seksual tinggi. Mengingat bahwa gejala seringkali sulit untuk dikenali, seseorang dapat menyebarkan infeksi menular seksual kepada pasangan seksualnya tanpa disadari. Pada perilaku seksual yang tidak aman, mempercayai pasangan tidak berisiko berarti juga mempercayai mantan pasangannya, beserta mantan pasangan dari pasangannya, dan seterusnya.


"Pada perilaku seksual yang tidak aman, mempercayai pasangan tidak berisiko berarti juga mempercayai mantan pasangannya, beserta mantan pasangan dari pasangannya, dan seterusnya."

Mencegah Infeksi Menular Seksual: Perilaku Seksual Aman


Dalam perspektif luas, kesehatan seksual mengacu kepada pendekatan positif terhadap seksualitas dan hubungan seksual tanpa paksaan, diskriminasi, dan kekerasan termasuk aman dari infeksi menular seksual. Pada lingkup ini, mencegah penularan infeksi menular seksual berarti mencegah pertukaran cairan tubuh dan mencegah kontak yang berisiko. Perilaku seksual yang aman terbagi menjadi perilaku seksual paling aman (safest sex) dan perilaku seksual yang lebih aman (safer sex). Safest sex dapat dicapai dengan abstinens (tidak berhubungan seks), tentu saja. Sementara itu, pendekatan safer sex melibatkan kesadaran bahwa hubungan seks memiliki risiko dan menggunakan pendekatan tertentu untuk menguranginya. Usaha yang dapat dilakukan diantaranya adalah berhubungan seks dengan satu pasangan dengan memastikan status risiko pasangan.


"Safest sex dapat dicapai dengan abstinens (tidak berhubungan seks), tentu saja."

Pada golongan yang aktif secara seksual, sudah ada berbagai pilihan alat kontrasepsi yang dapat digunakan untuk mencegah kehamilan. Namun, tidak semua alat kontrasepsi dapat berperan ganda sebagai pencegah infeksi menular seksual. Berikut ini alat-alat kontrasepsi yang sering digunakan dan hubungannya dengan penularan IMS.


1. Kondom

Gambar 1. Kondom ( aidsmap.com)

Kondom pria merupakan alat yang paling umum. Kondom, jika digunakan secara benar memiliki efektivitas hingga 98% untuk mencegah kehamilan serta menurunkan secara bermakna penyebaran infeksi menular seksual yang ditularkan melalui cairan tubuh seperti gonore, klamidia, trikomoniasis, dan HIV. Sayangnya, penggunaan kondom tidak dapat mencegah infeksi yang ditularkan melalui kontak kulit yang tidak tertutupi oleh kondom seperti sifilis, chancroid, dan human papilloma virus (HPV, virus penyebab kutil kelamin dan kanker leher rahim).


Efektivitas penggunaan kondom dipengaruhi oleh banyak faktor. Beberapa hal yang dapat memaksimalkan efektivitas kondom adalah selalu menggunakan kondom yang baru, menyimpan kondom pada tempat yang sejuk dan tidak terkena cahaya matahari secara langsung, tidak menyimpan di dompet karena gesekan dapat merusak kondom, tidak menggunakan kondom yang telah berubah warna, menggunakan kondom dari awal hubungan seks, dan memasang kondom secara benar sesuai petunjuk pemakaian. Jika cara pemakaian kondom Anda belum sesuai dengan petunjuk pemakaian, maka risiko penularan IMS meningkat.


2. Spermisida

Gambar 2. Spermisida (SCIENCE PHOTO LIBRARY/Getty Images)

Spermisida merupakan alat kontrasepsi yang dimasukkan atau dioleskan ke dalam vagina sebelum berhubungan seksual dengan cara mematikan sperma. Spermisida tersedia dalam berbagai macam bentuk, seperti pesari, krim, salep, spons, dan lain-lain. Penelitian di lab menunjukkan bahwa penggunaan spermisida ini tidak hanya menginaktivasikan sperma, namun juga mampu membunuh berbagai macam bakteri dan virus (seperti HIV). Jika digunakan bersama dengan kondom, kontrasepsi ini dibuktikan dapat mengurangi infeksi gonore, klamidia, dan trikomonas.



3. Obat Kontrasepsi Oral dan Suntik


Gambar 3. Alat Kontrasepsi Oral (pexels.com)

Obat kontrasepsi oral dan suntik merupakan jenis kontrasepsi yang mengubah pengaturan hormon dari siklus menstruasi supaya tidak bisa hamil. Obat kontrasepsi oral berbentuk pil yang diminum setiap hari, sedangkan kontrasepsi suntik disuntikkan setiap bulan atau 3 bulan. Penggunaan obat kontrasepsi oral dan suntikan justru ditemukan dapat meningkatkan risiko infeksi gonore dan klamidia. Obat kontrasepsi oral dan suntik tidak memberi perlindungan terhadap virus HIV.


4. Intrauterine Device (IUD atau Spiral)


Gambar 4. The Liletta hormonal IUD (Medicines360 )

IUD merupakan alat kontrasepsi yang dimasukkan ke dalam rahim ibu untuk mencegah kehamilan. Alat ini dapat bertahan di rahim selama beberapa tahun dan juga dapat dikeluarkan sewaktu-waktu Penggunaan IUD tidak memberi perlindungan terhadap penularan IMS dan virus HIV.










Menangani Infeksi Menular Seksual: Pelayanan di Fasilitas Kesehatan


Program penanganan infeksi menular seksual merupakan salah satu prioritas pelayanan kesehatan. Oleh karena itu, pelayanan ini telah dimulai sejak fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama seperti puskesmas dan dokter keluarga. Pelayanan yang disediakan meliputi penelusuran riwayat infeksi dan perjalanan penyakit, pemeriksaan fisik dan pengambilan bahan pemeriksaan, diagnosis, pengobatan yang efektif, nasehat yang berkaitan dengan perilaku seksual, penyediaan kondom dan anjuran pemakaiannya, penatalaksanaan mitra seksual, pencatatan dan pelaporan kasus, dan tindak lanjut klinis secara tepat. Sebagian besar pelayanan tersebut telah ditanggung oleh Jaminan Kesehatan Nasional dengan harapan seluruh lapisan masyarakat dapat mengaksesnya.


Penulis: dr. Rio Restu Priambodo

riorestup@gmail.com


Penyunting: Marsa Harisa, S.Ked.

marsa.harisa@gmail.com@gmail.com

Dokter Muda RSUP Dr. Sardjito


Desainer Grafis: Gede Raditya Wisnu W, S.Ked.

graditya.wisnu@gmail.com

Dokter Muda RSUP Dr. Sardjito


Referensi

  1. Aral, S. 2004. Sexual risk behaviour and infection: epidemiological considerations. Sexually Transmitted Infections, 80(suppl_2), pp.ii8-ii12.

  2. Carlin, E.M. and Boag, F.C., 1995. Women, contraception and STDs including HIV. https://journals.sagepub.com/doi/pdf/10.1177/095646249500600601 [Diakses 29 April 2019]

  3. Kemenkes RI. 2016. Pedoman Nasional Penanggulangan Infeksi Menular Seksual. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia

  4. Kemenkes RI. 2017. Kajian Epidemiologi HIV Indonesia 2016. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia

  5. World Health Organization. 2019. Defining sexual health. [Daring] https://www.who.int/reproductivehealth/topics/sexual_health/sh_definitions/en/ [Diakses 30 Apr. 2019]

  6. World Health Organization. (2019). Why talking about sex is good for your health. [Daring] https://www.who.int/reproductivehealth/safe-sex-and-stis/en/ [Diakses 30 Apr. 2019].

91 tampilan

informasi kesehatan terpercaya

  • White Facebook Icon
  • White Instagram Icon

info@healthierindonesia.org              Healthier Indonesia                healthier.indonesia