Stunting di Indonesia: Mengapa Tak Kunjung Selesai?

Anugerahaning Salsabila (Penulis)

Marsa Harisa D. (Penulis)

Riyo P. Irawan (Penulis)

dr. Arif Handiarsa, M.Sc., Sp.A (Narasumber)





Dari dalam bilik-bilik posyandu di penjuru Indonesia, ke aula-aula besar tempat pertemuan pemangku kebijakan kesehatan di kota, hingga ke panggung debat calon pemimpin negara, masalah stunting tak berhenti didengung-dengungkan; seakan seluruh rakyat Indonesia wajib tahu tentang masalah khusus ini. Stunting, atau kerdil/pendek yang disebabkan gangguan gizi kronis, sangat berdampak negatif bagi anak, anak jadi mudah terkena infeksi serta mengalami gangguan perkembangan kognitif.


Upaya-upaya yang telah dilakukan pemerintah untuk mengurangi angka kejadian stunting tersebut masih belum adekuat. Langkah yang lebih jitu dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah stunting di Indonesia. Sebenarnya apa yang membuat masalah stunting di negeri ini begitu genting dan seperti tak berkesudahan? Dan langkah apa saja yang dapat diambil pemerintah untuk kedepannya? Jawabannya ada di artikel ini.




Dari dalam bilik-bilik posyandu di penjuru Indonesia, ke aula-aula besar tempat pertemuan pemangku kebijakan kesehatan di kota, hingga ke panggung debat calon pemimpin negara, masalah stunting tak berhenti didengung-dengungkan, seakan seluruh rakyat Indonesia wajib tahu tentang masalah khusus ini. Sebenarnya apa yang membuat masalah stunting di negeri ini begitu genting dan seperti tak berkesudahan?



Apa itu stunting?

Menurut Kementerian Kesehatan, stunting, atau dalam padanan Bahasa Indonesianya : kerdil/pendek, merupakan masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya.


Menurunkan kejadian stunting masuk ke dalam target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals) yang ke-2 yaitu menghilangkan kelaparan dan segala bentuk malnutrisi pada tahun 2030 serta mencapai ketahanan pangan. Target yang ditetapkan adalah menurunkan angka stunting hingga 40% pada tahun 2025.



Bagaimana kondisi anak Indonesia saat ini?


Kejadian balita pendek merupakan masalah gizi utama yang dihadapi Indonesia. Berdasarkan data Pemantauan Status Gizi (PSG) selama tiga tahun terakhir, balita pendek memiliki prevalensi tertinggi dibandingkan dengan masalah gizi lainnya seperti gizi kurang, kurus, dan gemuk. Prevalensi balita pendek mengalami peningkatan dari tahun 2016 yaitu 27,5% menjadi 29,6% pada tahun 2017. Menurut data Riskesdas 2018, angka kejadian balita pendek dan sangat pendek sebesar 30,8%. Dengan kata lain, hampir sepertiga anak Indonesia mengalami postur pendek.


Namun, perlu dicatat bahwa angka kejadian balita pendek menurut Riskesdas belum tentu mencerminkan angka stunting yang sesungguhnya. Disebut balita pendek apabila panjang atau tinggi badan kurang dari minus dua standar deviasi median standar pertumbuhan anak dari World Health Organization (WHO). Padahal, tidak semua balita pendek disebabkan oleh keadaan kurang gizi kronis. Tinggi badan seorang anak juga dipengaruhi nutrisi dan genetik. Pada balita pendek akibat dari orang tuanya yang pendek atau dikenal sebagai familial short stature, hal itu merupakan kondisi normal dan perlu dilakukan penapisan awal berupa pengukuran potensi tinggi genetik sebelum mengambil sampel. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa pengkajian lebih lanjut diperlukan untuk menentukan berapa banyak anak yang pendek karena keadaan kekurangan gizi yang kronis.


"...pengkajian lebih lanjut diperlukan untuk menentukan berapa banyak anak yang pendek karena keadaan kekurangan gizi yang kronis."


Mengapa stunting itu berbahaya?


Menurut WHO, dampak yang ditimbulkan stunting dapat dibagi menjadi dampak jangka pendek dan jangka panjang.


Dampak jangka pendek stunting berupa : (1) anak jadi lebih mudah sakit sehingga terjadi peningkatan angka kejadian kesakitan dan kematian, (2) terjadi gangguan proses perkembangan otak anak sehingga terjadi ketidakoptimalan perkembangan kognitif, motorik, maupun verbal, dan (3) peningkatan biaya kesehatan. Sedangkan, dampak jangka panjang stunting berupa : (1) postur tubuh yang tidak optimal saat dewasa, (2) peningkatan risiko obesitas dan penyakit tidak menular lainnya (hipertensi, diabetes, dan lain-lain), (3) menurunnya kesehatan reproduksi, (4) karena kemampuan kognitif terganggu, terjadi penurunan kapasitas belajar sehingga performa saat masa sekolah kurang optimal, dan pada akhirnya dapat menyebabkan (5) produktivitas dan kapasitas kerja yang tidak optimal, sehingga dapat kehilangan kesempatan untuk mendapat peluang kerja dengan pendapatan lebih baik.


Apa saja usaha yang telah dilakukan Indonesia untuk menanggulangi stunting?


Pemerintah menetapkan stunting sebagai salah satu program prioritas. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 39 Tahun 2016 tentang Pedoman Penyelenggaraan Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga, upaya yang dilakukan untuk menurunkan prevalensi stunting di antaranya sebagai berikut:


1. Ibu Hamil dan Bersalin

  • Intervensi pada 1.000 hari pertama kehidupan;

  • Mengupayakan jaminan mutu antenatal care (ANC) terpadu;

  • Meningkatkan persalinan di fasilitas kesehatan;

  • Menyelenggarakan program pemberian makanan tinggi kalori, protein, dan mikronutrien (TKPM);

  • Deteksi dini penyakit (menular dan tidak menular);

  • Pemberantasan kecacingan;

  • Meningkatkan transformasi Kartu Menuju Sehat (KMS) ke dalam Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA);

  • Menyelenggarakan konseling Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan ASI eksklusif; dan

  • Penyuluhan dan pelayanan KB.

2. Balita

  • Pemantauan pertumbuhan balita;

  • Menyelenggarakan kegiatan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) untuk balita;

  • Menyelenggarakan stimulasi dini perkembangan anak; dan

  • Memberikan pelayanan kesehatan yang optimal.

3. Anak Usia Sekolah

  • Melakukan revitalisasi Usaha Kesehatan Sekolah (UKS);

  • Menguatkan kelembagaan Tim Pembina UKS;

  • Menyelenggarakan Program Gizi Anak Sekolah (PROGAS); dan

  • Memberlakukan sekolah sebagai kawasan bebas rokok dan narkoba.

Menurut dr. Arif Handiarsa, Sp.A., M.Sc., dokter spesialis anak di Rumah Sakit Umum Pusat dr. Soeradji Tirtonegoro, usaha-usaha yang telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia belum bisa dikatakan bagus. Mengapa begitu? Untuk mendapatkan jawabannya, perlu dipahami terlebih dahulu mengenai penyebab utama stunting.


"Menurut dr. Arif Handiarsa, Sp.A., M.Sc., dokter spesialis anak di Rumah Sakit Umum Pusat dr. Soeradji Tirtonegoro, usaha-usaha yang telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia belum bisa dikatakan bagus."


Apa saja penyebab stunting di Indonesia?

Menurut dr. Arif, ada 5 penyebab utama stunting, yaitu:


1. Nutrisi yang kurang saat dalam kandungan


Dilihat dari asupan makanan, ibu hamil pada umumnya kekurangan energi dan protein. Hasil dari Survei Nasional Konsumsi Makanan Individu (SKMI) tahun 2014 menunjukkan sebagian besar ibu hamil (kota dan desa) maupun menurut sosial ekonomi (kuintil 1-5) bermasalah untuk asupan makanan, baik energi dan protein. Kondisi-kondisi tersebut, disertai dengan ibu hamil yang pada umumnya juga pendek (kurang dari 150 cm), berdampak pada bayi yang dilahirkan mengalami kurang gizi, dengan berat badan lahir rendah (kurang dari 2.500 gram) dan juga panjang badan yang kurang dari 48 cm.


Untuk membaca lebih banyak mengenai kebutuhan nutrisi bagi ibu hamil, silakan membaca artikel kami mengenai Bagaimana Seharusnya Ibu Hamil Makan


2. Banyaknya kehamilan pada usia remaja

Kurang siapnya remaja untuk membesarkan anak berakibat pada miskinnya pengetahuan terkait hal pemberian makan kepada bayi. Selain itu, jarak waktu antara kelahiran yang terlalu pendek (kurang dari dua tahun) dapat berdampak negatif pada pola asuh anak; ibu terpaksa harus membagi waktu antara anak yang baru lahir dengan kakaknya sehingga kebutuhan kakaknya menjadi kurang diprioritaskan.


3. Banyaknya kelahiran yang prematur

Kelahiran prematur dikaitkan erat dengan kejadian stunting, biasanya akan tampak pada usia 2 tahun. Bayi-bayi yang lahir prematur dan pertumbuhannya terhambat pada saat kehamilan rentan terkena infeksi. Infeksi inilah yang mengganggu pertumbuhannya sehingga asupan nutrisinya tidak adekuat, dan kemudian karena hal tersebut bayi menjadi lebih rentan lagi terkena infeksi-- akhirnya terbentuklah siklus lingkaran setan antara infeksi dan gizi kurang, yang berujung pada kejadian stunting.


4. Kualitas Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) yang rendah


Menurut rekomendasi Ikatan WHO, 30% atau 45% sumber kalori dalam pemberian MP-ASI sebaiknya berasal dari lemak. Selain itu, pemberian buah tidak disarankan pada anak dibawah usia 1 tahun. Ini bertolak belakang dengan menu 4 Bintang yang kini banyak dipakai oleh ibu-ibu. Menu 4 Bintang kurang tepat memasukkan sayur berserat (wortel, bayam, brokoli, labu) sebagai bahan menu utama dan kurang mengutamakan lemak (. Lebih lanjut, berdasarkan kajian dari SDKI 2012 dan mengikuti ketentuan dari pedoman pemberian makan pada anak yang dikeluarkan oleh WHO, ternyata anak Indonesia yang terkategori dalam minimum acceptable diet (diet yang layak) hanya 36,6%. Data SKMI 2014 juga menunjukkan asupan anak > 6 bulan cenderung mengonsumsi 95% dari kelompok serealia (karbohidrat), sangat kurang dari kelompok protein, buah, dan sayur.


Untuk membaca lebih banyak mengenai kebutuhan nutrisi bagi bayi, silakan membaca artikel kami mengenai Bagaimana Seharusnya Bayi Makan


5. Infeksi berulang


Infeksi yang tidak disembuhkan (seperti infeksi saluran kencing dan flek paru) juga dapat memperlambat pertumbuhan anak walaupun kualitas dan kuantitas makanan sudah cukup.


Untungnya, kondisi stunting sebenarnya masih bisa diputarbalikkan sebelum anak mencapai 2 tahun dengan penanganan yang tepat. Oleh karena itu, harus dipastikan bahwa seluruh program pemerintah terkait stunting sudah tepat pada masa kritis ini.


"Untungnya, kondisi stunting sebenarnya masih bisa diputarbalikkan sebelum anak mencapai 2 tahun dengan penanganan yang tepat."

Bagaimana kebijakan pemerintah bisa diperbaiki untuk menanggulangi masalah stunting?

Pertama, perlu ada perbaikan teknik pengambilan data atau sampling jumlah kejadian stunting di Indonesia. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, teknik pengambilan data yang digunakan pemerintah saat ini adalah mengkategorikan seluruh anak dengan panjang atau tinggi badan kurang dari minus dua standar deviasi median standar pertumbuhan anak dari WHO sebagai stunting. Padahal, teknik pengkategorian seperti itu belum membedakan anak yang pendek akibat faktor genetis dengan anak yang pendek akibat faktor gizi. Karena definisi stunting sendiri harus ada keterlibatan kurang gizi kronis, bisa dibilang bahwa teknik pengambilan data seperti itu kurang mencerminkan angka stunting yang sesungguhnya. Perlu dilakukan penapisan awal berupa pengukuran potensi tinggi genetik sebelum mengambil sampel. Teknik pengambilan data perlu segera diperbaiki karena merupakan dasar dari seluruh intervensi yang dilakukan pemerintah.

Kedua, perlu dilakukan revisi terhadap buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) supaya sesuai dengan rekomendasi terbaru IDAI. Hal ini sangat penting mengingat bahwa buku KIA dibagi kepada setiap ibu hamil dan puskesmas untuk dijadikan patokan dalam merawat anak. Buku KIA yang sekarang dipakai menyarankan bubur sumsum kacang hijau dan pisang lumat sebagai MP-ASI untuk usia 6-9 bulan dan nasi tim bayam saus pepaya dan nasi tim kacang merah sebagai MP-ASI untuk usia 9 - 12 bulan. Resep-resep tersebut mengandung karbohidrat, buah, serat sayur, dan protein nabati. Padahal, menurut rekomendasi IDAI, protein hewani (seperti daging, ikan, dan ayam) dan lemak (seperti santan) juga harus diutamakan. Justru, serat sayur (seperti wortel, bayam, brokoli) dan buah tidak direkomendasikan untuk anak dibawah 1 tahun.

Ketiga, tatalaksana anak curiga gagal tumbuh di puskesmas, bidan, dan posyandu perlu dipertegas kambali. Gagal tumbuh adalah suatu kondisi pada anak yang ditandai oleh kenaikan berat badan yang tidak sesuai, berat badan yang tidak naik, atau bahkan turun dibandingkan pengukuran sebelumnya berdasarkan grafik pertumbuhan. Selama pengalamannya sebagai spesialis anak, dr. Arif banyak mendapatkan rujukan anak curiga gagal tumbuh yang tatalaksananya masih salah. Hal-hal yang perlu dipertegas kembali adalah sebagai berikut:

  1. Waktu mulai intervensi gizi. Jika ada anak curiga gagal tumbuh (berat atau tinggi badannya tidak naik sejak pengukuran sebelumnya), puskesmas harus langsung mulai memberikan intervensi gizi. Lebih baik lagi jika puskesmas secara aktif datang ke rumah-rumah warga untuk melacak anak curiga gagal tumbuh.

  2. Cara pemberian intervensi gizi yang benar. Memang banyak sumber daya yang dibutuhkan untuk memberikan intervensi nutrisi yang benar. Tenaga medis harus mampu menghitung jumlah kalori yang dibutuhkan dan bekerjasama dengan ahli gizi untuk menentukan penukar makanannya yang sesuai dengan kebutuhan gizi anak. Pada pelaksanaannya, masih banyak bidan dan posyandu yang belum bisa menghitung kebutuhan kalori dengan benar sehingga jumlah kalori yang ditambahkan ke dalam diet anak ketika intervensi gizi masih kurang.

  3. Pengenalan kriteria rujukan. Setelah pemberian intervensi gizi, perlu dilakukan evaluasi dalam 1 - 2 minggu. Apabila tidak ada perbaikan (peningkatan berat badan atau tinggi badan), maka anak harus segera dirujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi dan tidak malah ditahan di puskesmas. Pada pelaksanaannya, masih banyak posyandu yang baru merujuk anak ketika berat badan tidak naik 2 kali pada pengukuran rutin bulanan, atau bahkan saat usianya sudah lebih dari 2 tahun.


"Pada pelaksanaannya, masih banyak bidan dan posyandu yang belum bisa menghitung kebutuhan kalori dengan benar sehingga jumlah kalori yang ditambahkan ke dalam diet anak ketika intervensi gizi masih kurang."

Terakhir, semua usaha yang dilakukan harus dikembalikan ke kondisi yang lebih luas lagi. Usaha penapisan dan sosialisasi akan menjadi sia-sia apabila masyarakat tidak dapat mengakses makanan dengan kualitas dan kuantitas yang cukup. Oleh karena itu, salah satu “PR” pemerintah adalah menjaga ketersediaan pangan yang berkualitas dan memastikan bahwa seluruh lapisan masyarakat mampu mengaksesnya.


Kesimpulan

Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk menanggulangi dan mengurangi angka kejadian stunting di Indonesia, dari tahun ke tahun angkanya masih naik turun, sehingga langkah-langkah tersebut dirasa masih belum adekuat. Langkah yang lebih jitu dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah stunting di Indonesia. Terdapat beberapa hal yang memerlukan perbaikan dari langkah yang sudah diambil oleh pemerintah, yaitu : (1) perbaikan metode pengambilan data angka kejadian stunting, (2) revisi rekomendasi pemberian nutrisi di buku KIA menjadi sesuai dengan rekomendasi IDAI, (3) mempertegas tatalaksana anak curiga gagal tumbuh di puskesmas, bidan, dan posyandu, dan (4) menjaga ketersediaan pangan yang berkualitas dan memudahkan aksesnya bagi masyarakat. Tidak lupa, kerja sama yang kuat antara pemerintah, dokter kandungan, dokter anak, ahli gizi, bidan dan kader posyandu sangat diperlukan untuk mengatasi stunting secara bersama-sama.



Penulis: Anugerahaning Salsabila, S.Ked.

anugerahanings@gmail.com

Dokter Muda RSUP Dr. Sardjito

Penulis: Marsa Harisa, S.Ked.

marsa.harisa@gmail.com

Dokter Muda RSUP Dr. Sardjito


Penulis: Riyo Pungki Irawan, S.Ked.

riyopungkiirawan@gmail.com

Dokter Muda RSUP Dr. Sardjito


Desainer Grafis: Gede Raditya Wisnu W, S.Ked.

graditya.wisnu@gmail.com

Dokter Muda RSUP Dr. Sardjito


Fotografer: Handhika Pratama Putri

handhikapratama97@gmail.com

Mahasiswi Keperawatan FK-KMK UGM


Referensi

  1. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. (2018). Riset Kesehatan Dasar 2018. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.

  2. Buletin Jendela Data dan Informasi Kesehatan. (2018). Situasi Balita Pendek (Stunting) di Indonesia. Jakarta: Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI.

  3. Danaei, G., Andrews, K. G., Sudfeld, C. R., Fink, G., McCoy, D. C., Peet, E., ... & Fawzi, W. W. (2016). Risk factors for childhood stunting in 137 developing countries: a comparative risk assessment analysis at global, regional, and country levels. PLoS medicine, 13(11), e1002164.

  4. World Health Organization. (2003). Guiding principles for complementary feeding of the breastfed child. Geneva: WHO.

  5. Kementerian Kesehatan RI. (2016). Buku Kesehatan Ibu dan Anak. Jakarta: Kementerian Kesehatan dan JICA (Japan International Cooperation Agency).

  6. Kementerian Kesehatan RI. (2018). Cegah Stunting dengan Perbaikan Pola Makan, Pola Asuh dan Sanitasi (2). [Daring] http://www.depkes.go.id/article/view/18040700002/cegah-stunting-dengan-perbaikan-pola-makan-pola-asuh-dan-sanitasi-2-.html Diakses pada 9 Juni 2019.

  7. Prawirohartono, E., Nurdiati, D., & Hakimi, M. (2016). Prognostic factors at birth for stunting at 24 months of age in rural Indonesia. Paediatrica Indonesiana, 56(1), 48-56.

  8. Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan. (2017). 100 Kabupaten/Kota Prioritas Untuk Intervensi Anak Kerdil (Stunting): Ringkasan. Jakarta: Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan.

  9. Wawancara pribadi dengan dr. Arif Handiarsa, M.Sc., Sp. A. pada tanggal 6 Juni 2019.

162 tampilan

informasi kesehatan terpercaya

  • White Facebook Icon
  • White Instagram Icon

info@healthierindonesia.org              Healthier Indonesia                healthier.indonesia