Suara hilang? Kok Bisa?

Made Satya Nugraha (Penulis)

Riyo P. Irawan, S.Ked. (Penyunting)




Siapa yang tak kenal dengan suara?


“Alat” komunikasi bagi sebagian besar orang tergantung pada suara. Pentingnya suara bagi kesehatan manusia juga memprioritaskan kita untuk selalu menjaga kesehatan suara. Berbicara tentang suara, masalah kesehatan terbesar yang sering dialami masyarakat adalah gangguan suara serak. Suara serak atau bahkan hilang mungkin merupakan momok bagi Anda yang menggunakan suara sebagai ‘nyawa’ dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari penyanyi, penyiar radio, presenter ataupun masyarakat pada umumnya.



Pernahkah terlintas dalam pikiran Anda bagaimana suara bisa berubah menjadi serak atau bahkan menghilang?

Bagaimana mengatasi hal tersebut?



Bagaimana suara dihasilkan?


Suara dihasilkan dari getaran pita suara yang terdapat pada laring. Laring adalah saluran udara yang terletak di antara tenggorokan dan dasar lidah. Jika Anda mengingat kembali pelajaran SD, laring ini disebut juga kotak suara dan memang untuk alasan yang tepat.

Gambar 1. Laring dan pita suara (Johnson dan Rosen,2014)

Ketika diam, posisi kedua pita suara berada pada garis tengah. Suara akan dibentuk ketika kita menghembuskan napas; udara dari dalam paru-paru akan menggetarkan pita suara sehingga keduanya akan terpisah. Getaran ini menghasilkan gelombang suara yang melewati tenggorokan, mulut dan hidung. Ketiga rongga ini berfungsi sebagai ruang resonansi yang mengubah gelombang suara menjadi bunyi. Fungsi resonansi sendiri adalah memberikan warna suara sehingga setiap orang mempunyai suara khas masing-masing. Menarik, kan? Bentuk dan ukuran pita suara juga mempengaruhi suara yang dihasilkan. Pada pria, pita suara biasanya lebih tebal dan panjang akibat pengaruh hormon testosteron sehingga getaran yang dihasilkan lebih lambat, inilah mengapa suara pria lebih berat dan jangkauan nada nya tidak selebar perempuan. Banyaknya organ yang terlibat dalam proses pembentukan suara memberikan konsekuensinya yaitu gangguan salah satu organ tersebut dapat mempengaruhi kualitas suara yang dihasilkan.


Apa penyebab suara hilang?


Kehilangan suara yang dimaksud adalah suara yang dikeluarkan saat berbicara menjadi serak, terasa lebih berat, lemah atau bahkan tidak dapat terdengar sama sekali. Hal ini merupakan kondisi yang sering terjadi, baik yang menimpa kalangan pengguna utama suara (penyanyi, penyiar, presenter) maupun masyarakat lainnya.


Dari beberapa penyebab suara hilang, penyebab yang paling sering terjadi adalah laringitis. Laringitis merupakan peradangan pada laring yang dapat berlangsung akut (<2 minggu) maupun kronis (>2 minggu). Kondisi ini biasanya disebabkan infeksi (virus, bakteri), iritasi (rokok, debu, asap, bahan kimiawi), penggunaan suara yang berlebihan (menyanyi, berteriak), alergi dan tumor. Infeksi, penggunaan suara yang berlebihan dan iritasi asap rokok merupakan penyebab tersering laringitis.


"Laringitis merupakan peradangan pada laring yang dapat berlangsung akut (<2 minggu) maupun kronis (>2 minggu)."

Bagaimana gejala laringitis?

Berikut ini merupakan gejala tersering pada laringitis, antara lain:

  • Suara serak

  • Suara lemah atau kehilangan suara

  • Nyeri dada atau tenggorokan terutama setelah berbicara

  • Sensasi menggelitik dan gatal pada tenggorokan

  • Tenggorokan kering

  • Batuk kering, biasanya memburuk pada malam hari

  • Demam, lemah, tidak nafsu makan (biasanya pada infeksi)

Kondisi ini biasanya hanya bersifat sementara, namun sangat memungkinkan mengalami perburukan jika Anda tidak memperhatikan perilaku yang meningkatkan risiko keparahan. Oleh karena itu, penting bagi Anda untuk mengetahui tindakan untuk mencegah dan mengatasinya.


Bagaimana mengatasi laringitis?


Laringitis merupakan penyakit yang biasanya sembuh sendiri dalam waktu ~ 1 minggu. Jadi, Anda tidak perlu panik dan menyegerakan diri pergi ke dokter. Hal-hal berikut ini adalah perawatan yang dapat Anda lakukan sendiri di rumah:


1. Pertama dan utama adalah istirahatkan suara Anda.

Penggunaan suara dapat menyebabkan penyembuhan yang tertunda.


2. Hindari membersihkan tenggorokan Anda.

Banyak masyarakat yang mencoba mengeluarkan lendir tenggorokan dengan dipaksakan. Hal ini akan menyebabkan getaran pita suara yang tidak normal dan dapat meningkatkan risiko pembengkakan. Membersihkan tenggorokan juga menyebabkan tenggorokan mengeluarkan lebih banyak lendir dan justru membuat Anda ingin membersihkan tenggorokan lagi.


3. Minum air yang cukup.

Minum air yang cukup (8 gelas sehari) akan membantu menjaga produksi lendir di tenggorokan Anda tetap normal. Selain itu, bahan iritan dan infeksi yang ada dalam saluran napas dapat dibersihkan. Jadi, Anda dapat membantu tenggorokan Anda dengan banyak minum air, bukan dengan mengeluarkan lendir yang ada.


4. Jangan merokok dan hindari asap rokok.

Asap dapat memperkeruh mukosa atau lendir pada tenggorokan dan memicu iritasi berlebih.


5. Batasi alkohol dan kafein.

Kedua zat tersebut menyebabkan Anda kehilangan cairan tubuh karena sifatnya yang diuretik (membuat Anda sering buang air kecil) sehingga cairan tubuh akan berkurang.


6. Hindari makan makanan pedas.

Makanan pedas dapat menyebabkan asam lambung naik ke tenggorokan sehingga mengiritasi laring Anda, terutama jika Anda mempunyai penyakit asam lambung kronis.


7. Sertakan biji-bijian, buah-buahan dan sayuran dalam diet Anda.

Makanan ini mengandung vitamin A, E dan C, dan membantu menjaga selaput lendir yang melapisi tenggorokan tetap sehat.


Kapan Anda harus pergi ke dokter?


Meskipun laringitis dapat sembuh sendiri dengan perawatan yang tepat, ada kalanya Anda harus meminta bantuan seorang dokter. Kapankah itu?

  • Jika dalam 1 minggu perawatan Anda gejalanya belum membaik, kemungkinan dapat terjadi infeksi bakteri sehingga memerlukan antibiotik.

  • Jika Anda merasa semakin sulit/berat dalam bernapas, sering terbangun saat tidur akibat sesak napas atau batuk hebat.

  • Perhatikan batuk Anda! Jika batuk Anda berdarah, segeralah pergi ke dokter.

  • Bagi Anda yang merokok, jika dalam 2 minggu suara serak/hilang, segeralah ke dokter untuk menyingkirkan kemungkinan keganasan.

  • Suara serak/hilang berulang, terutama bagi Anda yang berusia lebih dari 50 tahun.

  • Demam, tidak nafsu makan > 7 hari serta terdapat penurunan berat badan

Suara serak bahkan hilang memang hal yang biasa terjadi pada setiap orang. Namun, sekali lagi, Anda tidak perlu khawatir. Penanganannya dapat dikatakan mudah dan dapat dilakukan di rumah. Cermati kapan Anda perlu ke dokter. Menjaga kesehatan organ suara berarti peduli dengan suara menawan Anda.


"Menjaga kesehatan organ suara berarti peduli dengan suara menawan Anda."

Penulis: Made Satya Nugraha

satyanugraha.g@gmail.com

Mahasiswa Ilmu Keperawatan Universitas Gadjah Mada


Penyunting: Riyo Pungki Irawan, S.Ked.

riyopungkiirawan@gmail.com

Dokter Muda RSUP Dr. Sardjito


Desainer Grafis: M. C. Tito Hudoyo, S.Kep.

mctitohudoyo@gmail.com

Ners Muda RSUP Dr. Sardjito




Referensi :

  1. Dhingra, P.L., Dhingra, Shruti.2014. Diseases of Ear, Nose and Throat & Head and Neck Surgery, 6/e. India: Elsevier.

  2. Johnson, Jonas T., Rosen, Clark A.2014. Bailey’s Head and Neck surgery-Otolaryngology 5th edition. Philadelphia: Lippincot Williams & Wilkins.

  3. Tortora,G.,Derrickson,B.2009.Principles of Anatomy and Physiology.New Jersey:John Wiley & Sons,Inc.

  4. National Institute on Deafness and Other Communication Disorders.2017. Taking Care of Your Voice: https://www.nidcd.nih.gov/health/taking-care-your-voice Diakses pada 12 April 2019

  5. Mayo Clinic.2018. Laryngitis-Symptoms and Causes: https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/laryngitis/symptoms-causes/syc-20374262 Diakses pada 12 April 2019

38 tampilan

informasi kesehatan terpercaya

  • White Facebook Icon
  • White Instagram Icon

info@healthierindonesia.org              Healthier Indonesia                healthier.indonesia