Tes HIV, Siapa Takut?

Lintang Sagoro P., S.Ked. (Penulis)

Marsa Harisa, S.Ked. (Penyunting)



Voluntary Counseling and Testing (VCT), atau Konseling dan Tes Sukarela, adalah uji deteksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang dilakukan oleh seseorang secara sukarela (tanpa menunggu saran dari dokter). Tes ini disarankan untuk siapa saja yang pernah melakukan hubungan seksual tidak aman, menggunakan jarum suntik narkoba beramai-ramai, atau mendapatkan tato dengan jarum suntik yang tidak steril. Ingin tahu lebih lanjut mengenai prosedur melakukan tes ini? Dimana bisa melakukannya? Harganya berapa?

Mari membaca artikel ini!


Ingat: Semakin dini mengetahui status HIV Anda, semakin cepat bisa mendapatkan pengobatan!



HIV tetap menjadi epidemi besar di Indonesia. Sampai dengan tahun 2014, penyakit ini dapat ditemukan pada 0,4% populasi dewasa. Untungnya, strategi dan pengobatan HIV yang tepat sangat memungkinkan orang yang terinfeksi untuk hidup seperti biasa dan tetap menjalankan kegiatan sehari-hari. Namun, keberhasilan terapi sangat bergantung pada kecepatan pengobatan dimulai. Akan tetapi, seseorang yang terinfeksi HIV belum tentu langsung merasakan gejala-gejala terinfeksi, sehingga sangat penting bagi masyarakat untuk mengetahui mengecek status HIV. Semakin dini mengetahui status HIV Anda, semakin cepat bisa mendapatkan pengobatan HIV sehingga luaran pengobatan akan jauh lebih baik.


Semakin dini mengetahui status HIV Anda, semakin cepat bisa mendapatkan pengobatan HIV sehingga luaran pengobatan akan jauh lebih baik.

Voluntary Counseling and Testing (VCT), atau Konseling dan Tes Sukarela, adalah uji deteksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang dilakukan oleh seseorang secara sukarela (tanpa menunggu saran dari dokter). Prinsip utama dari VCT adalah kerahasiaan, yang berarti uji ini hanya akan dilaksanakan dan diketahui oleh konselor dan individu yang akan melakukan VCT dan hasilnya tidak akan diberikan ke orang lain. Selain untuk mengetahui status infeksi HIV, tes ini juga merupakan sarana untuk mencari tahu lebih lanjut megenai virus HIV, termasuk cara penularan, pencegahan dan perawatannya. Tes ini juga merupakan gerbang untuk mendapatkan pelayanan perawatan HIV yang lebih lanjut (Test to Treat).


Artikel ini bertujuan untuk memberikan gambaran di lapangan mengenai apa yang terjadi selama proses VCT kepada para pembaca.


Prinsip utama dari VCT adalah kerahasiaan, dan merupakan gerbang untuk mendapatkan pelayanan perawatan HIV lebih lanjut (Test to Treat).

Siapa yang perlu melakukan VCT?


Setiap orang dengan faktor risiko terkena HIV sebaiknya melakukan VCT. Hasil epidemieologi di Indonesia menunjukkan bahwa epidemi HIV di Indonesia terkonsentrasi di antara populasi kunci, yaitu diantara wanita pekerja seks (WPS), laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL), waria, dan pengguna napza suntik (Penasun). Namun, virus HIV juga sangat mungkin ditemukan diluar populasi kunci tersebut. Oleh karena itu, VCT juga disarankan untuk siapa saja yang pernah melakukan hubungan seksual tidak aman atau pernah mendapatkan tato dengan jarum suntik yang tidak steril.


Untuk Anda yang memiliki faktor risiko tertularnya HIV,

disarankan untuk melakukan VCT 3 sampai 6 bulan sekali.



Bagaimana prosedur VCT?


Saat anda melakukan VCT, terdapat tiga tahapan yang akan anda lalui yaitu konseling sebelum pengujian, pengambilan sampel darah, dan konseling setelah pengujian.


Gambar 1. Contoh Ruang Konseling VCT

Pada tahap konseling sebelum pengujian, Anda akan diberikan edukasi mengenai HIV dan Acquired Immune Defficiency Syndrome (AIDS). Yang dimaksud dengan AIDS adalah penyakit-penyakit yang muncul pada tubuh dengan sistem imun yang lemah karena infeksi HIV. Pada tahapan ini, Anda akan mendapatkan informasi tentang cara penularan HIV, cara pencegahan HIV, dan anda akan diberikan kesempatan untuk bertanya seputar HIV kepada konselor yang terpercaya oleh institusi kesehatan terkait dimana anda melakukan V


Gambar 2. Pengambilan Sampel Darah

Pada tahapan pengambilan sampel darah, anda akan diminta untuk menandatangani lembar Informed Consent untuk menyatakan bahwa anda telah paham mengenai prosedur VCT dan bersedia untuk melakukannya. Setelah anda menandatangani lembar Informed consent anda akan diminta untuk diambil sampel darah. Pengambilan darah ini dilakukan oleh tenaga kesehatan yang sudah terlatih menggunakan jarum suntik.


Mengapa harus ambil darah?

Karena antigen dan antibodi HIV yang akan dicari berada di darah. Setelah diambil darahnya, Anda akan diminta menunggu hasil uji selama 30 hingga 90 menit. Setelah hasil keluar, konselor akan mengambil hasil uji dalam bentuk amplop yang masih tertutup.


Pada tahap konseling setelah pengujian, Anda akan diminta untuk masuk kembali ke ruangan konseling untuk diberikan edukasi tentang hasil dari VCT. Hasil VCT ada dua, yaitu reaktif atau non-reaktif. Hasil uji reaktif berarti ada kemungkinan Anda terinfeksi oleh HIV sehingga perlu dilakukan tes lebih lanjut. Anda akan ditemani oleh konselor untuk mencari teman dari kelompok dukungan sebaya. Kelompok dukungan sebaya yang dimaksud adalah orang dengan HIV/AIDS yang akan memberikan anda pendampingan dan dukungan terutama dalam masa-masa jika anda baru saja mengetahui terinfeksi oleh HIV. Pada hasil non-reaktif, alat uji tidak mendeteksi adanya antigen maupun antibodi pada darah yang diuji yang berarti tidak ada infeksi HIV yang berlangsung.


Kelompok dukungan sebaya adalah orang dengan HIV/AIDS yang akan memberikan anda pendampingan dan dukungan moral terutama dalam masa-masa jika anda baru saja mengetahui terinfeksi oleh HIV.

Sering terdapat beberapa kekhawatiran yang membuat orang enggan untuk melakukan VCT. Artikel ini akan membahas kekhawatiran-kekhawatiran tersebut di bagian berikut ini.


1. Apakah hasil uji VCT ini bisa dijaga kerahasiaannya?


Jawabannya, tentu saja. Prinsip utama VCT adalah kerahasiaan, sehingga hasil VCT anda tidak akan diberikan ke pihak yang tidak berkepentingan. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa kerahasiaan anda tetap akan terjamin.


2. Apakah uji cepat VCT ini dapat dipercaya tentang keakuratan hasilnya?


Hasil VCT memiliki sensitivitas dan spesifitas yang tinggi sehingga hasil VCT dapat dikatakan sudah sahih jika dilakukan sekurang-kurangnya 3 bulan setelah terjadi paparan risiko tertularnya HIV. Kesahihan hasil VCT membutuhkan waktu 3 bulan karena adanya “masa jendela” dimana virus HIV sudah menginfeksi tubuh namun belum bisa terdeteksi. Dalam kurun waktu 3 bulan, antigen dan antibodi HIV sudah mulai terbentuk sehingga sudah dapat terdeteksi oleh alat uji.

Kesahihan hasil VCT membutuhkan waktu 3 bulan karena adanya masa jendela bagi HIV saat menginfeksi tubuh.

3. Berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk melakukan VCT?


Biaya yang harus dikeluarkan untuk VCT variatif, untuk wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta sendiri kisaran biaya yang harus dikeluarkan bervariasi mulai dari gratis hingga sampai 150.000 rupiah, tergantung di pusat pelayanan kesehatan mana anda melakukan VCT dan apakah anda memiliki faktor risiko tertularnya HIV sebelum melakukan VCT. Untuk pusat pelayanan kesehatan primer, bila anda memiliki faktor risiko tertularnya HIV maka anda tidak akan dipungut biaya untuk melakukan VCT.


4. Siapakah yang menjadi konselor VCT HIV?


Tenaga kesehatan yang bertugas menjadi konselor VCT HIV di Indonesia berperan dalam memberikan layanan konseling HIV dan bermitra dengan kementrian kesehatan, dinas kesehatan atau pusat pelayanan kesehatan yang terkait. Konselor VCT HIV di Indonesia sudah mengikuti dan lulus pelatihan serta mendapatkan sertifikat oleh Kementrian kesehatan Republik Indonesia serta mendapatkan rekomendasi dan teregistrasi di Perhimpunan Konselor VCT HIV (PKVHI).


5. Dimana sajakah anda bisa mendapatkan pelayanan VCT?


Untuk wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, Anda bisa mendapatkan pelayanan VCT di tempat-tempat berikut ini.


Kota Yogyakarta

  1. Puskesmas Gedongtengen

  2. Puskesmas Tegalrejo

  3. Puskesmas Umbulharjo I

  4. Puskesmas Mantrijeron

  5. Puskesmas Mergangsan

  6. Klinik Gempita RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta

  7. Rumah Sakit Panti Rapih

  8. Klinik Philia RS Bethesda Yogyakarta

  9. Perkumpulan Keluarga Berencana (PKBI) DIY

  10. RSUD Wirosaban Kota Yogyakarta

Bantul

  1. Puskesmas Kretek

  2. Puskesmas Sedayu I

  3. Puskesmas Kasihan II

  4. Puskesmas Pajangan

  5. Puskesmas Imogiri I

  6. Puskesmas Sewon

  7. Puskesmas Banguntapan III

Sleman

  1. Puskesmas Depok I

  2. Puskesmas Depok II

  3. Puskesmas Depok III

  4. Puskesmas Melati I

  5. Puskesmas Tempel I

  6. Puskesmas Prambanan

  7. Poliklinik Edelweis, RSUP Dr. Sardjito

  8. RSUD Morangan Sleman


Dengan tersedianya banyak pusat pelayanan kesehatan dengan pelayanan VCT, maka Anda dapat mendapatkan akses pelayanan tersebut dengan mudah. Mengetahui status infeksi HIV Anda secara dini dapat mempercepat proses untuk memulai terapi pada HIV sehingga luaran juga akan semakin baik. Jika Anda memiliki risiko terkena virus HIV, jangan lupa periksa VCT setelah 3 bulan.



Penulis: Lintang Sagoro P., S.Ked.

lintangsagoro@gmail.com

Dokter Muda RSUP Dr. Sardjito


Penyunting: Marsa Harisa D, S.Ked.

marsa.harisa@gmail.com

Dokter Muda RSUP Dr. Sardjito


Desainer Grafis: Kevin Darmawan, S.Ked.

kevindarma15@gmail.com

Dokter Muda RSUP Dr. Sardjito

Referensi

  1. PKVHI (2018). Tentang Perhimpunan Konselor VCT HIV Indonesia PKVHI, Dikutip 9 April 2019 dari PKVHI: http://www.pkvhi.org/about Diakses 12 April 2019.

  2. PKBI-DIY (2018). Voluntary Counseling and Testing (VCT), dikutip 9 April 2019 dari PKBI-DIY: http://pkbi-diy.info/voluntary-counseling-and-testing-vct/ Diakses 12 April 2019.

  3. Indonesia National AIDS Commission. 2014. Indonesia Country Profile Report 2014. http://www.unaids.org/sites/default/files/country/documents/IDN_narrative_report_2014.pdf Diakses 12 April 2019

  4. RSUD Sukoharjo. 2014. Pelayanan VCT/CST RSUD Kab. Sukoharjo. http://rsud.sukoharjokab.go.id/v2/2564-pelayanan-vctcst-rsud-kab-sukoharjo.html Diakses 12 April 2019.

123 tampilan

informasi kesehatan terpercaya

  • White Facebook Icon
  • White Instagram Icon

info@healthierindonesia.org              Healthier Indonesia                healthier.indonesia