Tindihan: Benarkah Ditimpa Setan?

Diperbarui: 9 Feb 2019

Riyo Pungki Irawan, S.Ked.




Pernahkah Anda tidur lalu tiba-tiba terbangun, tidak bisa bicara, tidak bisa bergerak? Takut, cemas, panik, seperti tidak bisa bernapas? Anda pasti akan dikatakan mengalami tindihan atau ditimpa setan. Namun, benarkah demikian?


Dalam dunia medis, tidak ada istilah ditimpa setan. Apa yang Anda alami adalah hal wajar yang disebut dengan sleep paralysis.


Apa itu?


Sleep paralysis adalah ketidakmampuan sementara untuk bergerak maupun berbicara yang terjadi ketika Anda bangun tidur atau bahkan ketika jatuh tidur. Disebut sementara karena hanya berlangsung beberapa detik hingga beberapa menit saja. Hal yang harus diperhatikan adalah hal ini bukanlah sesuatu yang berbahaya walaupun terasa sangat menakutkan.


Mengapa bisa terjadi demikian?


Hal ini terjadi apabila Anda terbangun ketika fase REM. Pada fase ini seluruh otot tubuh Anda mengalami kelumpuhan kecuali otot bola mata dan pernapasan. Mengapa bisa terbangun? Sampai saat ini belum ada penjelasan yang ditemukan namun ada beberapa teori yang mengatakan penyebab bangun seseorang adalah tumpang tindihnya fase REM dan fase bangun seseorang. Selain itu juga, ciri khas fase REM adalah mudah sekali dibangunkan. Orang yang yang mengalami sleep paralysis cenderung memiliki latensi fase REM dan NREM yang pendek sehingga yang seharusnya masih tertidur tetapi sudah masuk siklus bangun.


Gejala yang Anda alami selama sleep paralysis antara lain:


  1. Rasa sadar terhadap sekitar tetapi tidak dapat bergerak ataupun berbicara

  2. Merasa tidak bisa bernapas atau merasa dada seperti tertekan

  3. Dapat menggerakan mata ataupun hanya bisa membuka mata

  4. Mempunyai sensasi seperti mendengar atau melihat sesuatu (halusinasi) - kebanyakan orang akan menganggap hal ini seperti didatangi makhluk halus

  5. Merasa sangat ketakutan

Setelah beberapa detik hingga beberapa menit, gejala itu akan hilang dan Anda dapat berbicara, bergerak dan sebagian besar merasa tidak nyaman dan ragu untuk tidur lagi. Perlu untuk diperhatikan sekali lagi, hal ini bukanlah sesuatu yang berbahaya.


Bagaimana mencegah hal ini berulang kembali ?

  1. Pastikan Anda cukup tidur. Rata-rata orang dewasa membutuhkan 6-8 jam tidur.

  2. Pastikan pola tidur Anda teratur. Penelitian yang dilakukan Walter and Shculz (2004) mendukung observasi kalau pola tidur yang terganggu dapat meningkatkan kejadian sleep paralysis sehingga pastikan pola tidur Anda tidak terganggu. Sleep paralysis sering menyerang orang dengan pola tidur yang ireguler seperti pada kasus perubahan shift kerja atau jet lag.

  3. Jangan tidur dengan posisi terlentang. Pada posisi terlentang, tekanan yang dilakukan gravitasi terhadap paru sangat tinggi sehingga rentan terjadi perangsangan bangun.

  4. Buat keadaan sebelum tidur Anda tenang, kurangi stres dan buat diri Anda senyaman mungkin.

Kapan sleep paralysis perlu diwaspadai ?


Biasanya sleep paralysis hanya berlangsung sekali dua kali. Bukan sesuatu yang berbahaya namun Anda dapat berkonsultasi dengan dokter apabila:

  1. Terus menerus mengalami sleep paralysis

  2. Merasa cemas ketika akan tidur atau berusaha keras untuk tidur cukup

  3. Merasa mengantuk setiap hari atau tiba-tiba jatuh tertidur

Jadi, mitos yang beredar mengenai tindihan berupa ditimpa setan adalah mitos belaka. Dalam dunia medis sudah ada penjelasannya sehingga harapannya Anda tidak perlu takut lagi ada setan di tempat tidur Anda. Semoga artikel ini membantu.



Penulis: Riyo Pungki Irawan, S.Ked.

riyopungkiirawan@gmail.com

Dokter Muda RSUP dr.Sardjito




Referensi:

Tortora,G.,Derrickson,B.2009.Principles of Anatomy and Physiology.New Jersey:John Wiley & Sons,Inc.

Longo, Dan L et al.2012.Harrison’s Principles of Internal Medicine 18th edition.United States:McGraw Hill.

Sharpless, BA (2016). "A clinician's guide to recurrent isolated sleep paralysis". Neuropsychiatric Disease and Treatment. 12: 1761–67. doi:10.2147/NDT.S100307. PMC 4958367

Goldstein, K. (2011). "Parasomnias". Dis Mon. 57 (7): 364–88. doi:10.1016/j.disamonth.2011.04.007. PMID 21807161

Walther, B.; Schulz, H. (2004). "Recurrent isolated sleep paralysis: Polysomnographic and clinical findings". Somnologie – Schlafforschung und Schlafmedizin. 8 (2): 53–60. doi:10.1111/j.1439-054X.2004.00017.x

Cheyne, J. (2002). "Situational factors affecting sleep paralysis and associated hallucinations: position and timing effects". Journal of Sleep Research. 11 (2): 169–177. doi:10.1046/j.1365-2869.2002.00297.x

60 tampilan

informasi kesehatan terpercaya

  • White Facebook Icon
  • White Instagram Icon

info@healthierindonesia.org              Healthier Indonesia                healthier.indonesia