Waspada Leptospirosis: Penyakit Saat Banjir Tiba

Oleh dr. Frederica Vania Agustina



Di awal tahun ini, negara kita dikejutkan dengan kejadian banjir yang melanda berbagai kota. Selain kerugian material, banjir juga berpotensi menyebabkan berbagai macam penyakit, seperti diare, hepatitis A, flu serta penyakit lainnya yang mungkin kita sudah ketahui sebelumnya. Namun, perlu diketahui bahwa salah satu penyakit yang banyak terjadi pada musim banjir adalah Leptospirosis. Mungkin beberapa dari kita masih asing dengan penyakit ini, tetapi sebenarnya penyakit ini merupakan penyakit serius yang dapat mengakibatkan kematian, dan sering terjadi pada musim banjir karena banyaknya air kotor yang tergenang.


Yuk kenali Leptospirosis lebih lanjut!


Apa itu Leptospirosis?

Leptospirosis adalah sebuah penyakit yang disebabkan oleh bakteri genus Leptospira yang dapat menyerang manusia maupun hewan. Pada manusia, Leptospira dapat menimbulkan gejala yang beragam, yang seringkali dicurigai sebagai penyakit lain. Bahkan pada beberapa orang, penyakit ini dapat tidak menimbulkan gejala apapun (asimtomatik). Tanpa penanganan yang tepat, Leptospirosis dapat menyebabkan gagal ginjal, gagal hati, gangguan pernapasan, bahkan kematian.


Bagaimana cara penularannya?

Leptospirosis ditularkan terutama oleh hewan pengerat, khususnya tikus. Bakteri Leptospira ditularkan melalui air seni, darah, dan jaringan tubuh dari hewan yang tertular, serta melalui lingkungan yang telah terkontaminasi oleh Leptospira. Bakteri Leptospira dapat bertahan selama berbulan-bulan di air. Oleh karena itu, air merupakan sarana penularan Leptospirosis yang sangat baik. Secara insidensi, Leptospirosis biasanya terjadi di negara tropis, terutama yang kondisi kebersihannya masih buruk. Kelompok yang berisiko adalah mereka yang terpapar air serta tanah yang telah terkontaminasi bakteri Leptospira, seperti petani, nelayan, pekerja saluran air, orang yang mandi di danau/sungai, serta korban banjir.


Tanda dan gejala

Gejala Leptospirosis cukup beragam berdasarkan derajat keparahan penyakit. Gejala yang biasanya muncul adalah:

  • Demam tinggi (38-40oC)

  • Badan terasa kaku

  • Nyeri otot terutama pada betis

  • Nyeri kepala

  • Mata merah, mata terasa nyeri, mudah merasa silau jika terpapar cahaya

  • Batuk kering

  • Mual, muntah, nyeri perut, diare

  • Ruam pada kulit yang tidak gatal


Apabila Leptospirosis semakin parah, atau yang disebut dengan Weil’s Disease, maka akan timbul gejala yang lebih berat, seperti:

  • Jaundice (kulit dan selaput mata tampak kekuningan)

  • Gagal ginjal, BAK sangat sedikit

  • Perdarahan

  • Peradangan pada organ-organ dalam seperti jantung, hati, paru, dll.

Diagnosis Leptospirosis dapat ditegakkan dari pemeriksaan penunjang, yaitu dengan memeriksa kadar antibodi tubuh terhadap Leptospira.


Tata laksana

Pengobatan Leptospirosis derajat ringan-sedang dilakukan dengan pemberian antibiotik oral, sedangkan untuk Leptospirosis derajat berat diperlukan perawatan di rumah sakit dan pemberian antibiotik injeksi. Selain pemberian antibiotik injeksi, diperlukan juga terapi suportif untuk organ-organ lain yang mengalami peradangan, misalnya cuci darah apabila terjadi gagal ginjal.


Apabila Leptopspirosis tidak ditangani dengan tepat, maka penyakit ini semakin lama akan menjadi semakin parah. Kerusakan organ-organ dalam dapat mengakibatkan gangguan sirkulasi tubuh, dan bahkan dapat berujung pada kematian.


Lalu, bagaimana cara mencegahnya?

Kunci dari pencegahan Leptospirosis adalah menghindari paparan air kotor yang mungkin telah terkontaminasi urin hewan, serta menghindari kontak dengan hewan yang dapat menularkan Leptospirosis.

Dalam keadaan banjir, paparan terhadap air kotor mungkin sulit dihindari. Namun, ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko Leptospirosis:

Pastikan air yang Anda minum adalah air bersih

  1. Apabila Anda terluka atau lecet, tutup luka Anda dengan plester tahan air

  2. Hindari berenang, mandi, atau meminum air banjir

  3. Gunakan pakaian tahan air dan sepatu bot

  4. Hindari kontaminasi tikus dengan cara menyimpan makanan dan minuman di wadah tertutup, membuang sampah pada tempat sampah tertutup, atau gunakan perangkap tikus

  5. Jaga kebersihan, usahakan bersihkan tubuh Anda dengan sabun dan air mengalir setelah terpapar air banjir

  6. Hindari makan makanan yang terbuka, terutama yang sudah terkontaminasi air banjir

  7. Apabila Anda tinggal di daerah endemis, maka dapat juga dilakukan pemberian antibiotik pencegahan. (Jangan lupa untuk berkonsultasi dahulu kepada dokter Anda, ya!)


Setelah mempelajari tentang Leptopsirosis, kita harus mengingat bahwa air banjir merupakan sesuatu yang berbahaya, bukan hanya sekadar air kotor yang bisa menyebabkan gatal-gatal, melainkan dapat menyebabkan kegagalan organ tubuh bahkan kematian. Oleh karena itu, sebisa mungkin hindari paparan dengan air banjir dengan menggunakan alat pelindung diri dan tetap menjaga kebersihan.


Penulis:

dr. Frederica Vania Agustina

frederica.vania@gmail.com

Dokter Umum


Editor:

Riyo Pungki Irawan, S.Ked.

adesaptr@gmail.com

Dokter Muda RSUP dr. Sardjito




Referensi:

  1. Kasper D, Fauci A. 2010. Harrison’s Principles of Internal Medicine: Infectious Diseases, 17th Edition.

  2. Gompf S, 2018 on emedicine.medscape.com. “Leptospirosis”

  3. CDC.gov, 2018. “Hurricanes, Floods, and Leptospirosis”.

33 tampilan

informasi kesehatan terpercaya

  • White Facebook Icon
  • White Instagram Icon

info@healthierindonesia.org              Healthier Indonesia                healthier.indonesia