Mengenal adalah cara kita melawan

Diperbarui: 26 Mar 2019

Rio Restu Priambodo, S.Ked




Memperingati World Tuberculosis Day 2019!


Tuberkulosis Dalam Sejarah

Tuberkulosis terus mengiringi jaya dan jatuhnya kehidupan manusia dari masa lalu hingga sekarang. Bukti yang cukup meyakinkan tercetak dalam pola kelainan tulang mumi-mumi Mesir kuno tertahun 2400 sebelum masehi yang menyingkapkan fakta bahwa tuberkulosis telah menjadi beban penyakit pada masa itu. Diperkirakan, mycobacterium --golongan bakteri yang menyebabkan spektrum penyakit ini-- telah muncul sejak 150 juta tahun yang lalu.


Perbincangan mengenai tuberkulosis tak pelak membawa kita ke Berlin pada musim semi tahun 1882, dimana Robert Heinrich Herman Koch yang saat itu berusia 38 tahun mempresentasikan temuannya mengenai agen spesifik penyebab tuberkulosis di hadapan Society of Physiology. Temuan itulah yang meletakkan fondasi bakteriologi sebagai ilmu, merintis konsep eksperimental untuk penyakit menular, dan mematahkan mitos bahwa tuberkulosis adalah penyakit kutukan. Temuan tersebut juga membawanya memperoleh penghargaan Nobel Kedokteran 23 tahun berselang.


Kini, lebih dari seratus tiga puluh tahun sejak temuan Koch, penyakit ini masih menjadi beban kesehatan masyarakat yang besar. Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization) mencatat sekitar 10 juta penduduk global menderita tuberkulosis. Di Indonesia, hampir setengah juta penduduk menderita tuberkulosis pada tahun 2017.


"Di Indonesia, hampir setengah juta penduduk menderita tuberkulosis pada tahun 2017."

Mengenal Gejala Tuberkulosis: Diagnosis Dini adalah Kunci


Batuk lama (> 2 minggu) seringkali menjadi gejala utama tuberkulosis. Gejala lain yang dapat muncul adalah dahak bercampur darah, batuk darah, berat badan turun tanpa sebab yang jelas, demam tidak tinggi, berkeringat malam, lemas, dan nafsu makan turun. Gejala tersebut seringkali muncul pada pasien yang memiliki riwayat paparan dengan kerabat/orang lain yang menunjukkan gejala serupa. Meskipun riwayat paparan seringkali tidak jelas, penelusuran riwayat paparan sangat penting dalam penemuan kasus tuberkulosis. Mengapa penting? Karena penyakit ini dapat ditularkan melalui partikel yang disebarkan ke udara ketika penderita batuk. Diharapkan dengan lebih mengenali gejala utama tuberkulosis, sumber penularan dapat ditangani dan penularan lebih lanjut dapat dicegah.


Namun, gambaran gejala tuberkulosis pada anak sedikit berbeda. Pada bayi dan anak, dapat muncul gejala khas seperti pada orang dewasa (batuk dan demam lama) hingga gejala yang sama sekali tidak khas seperti pembengkakan tulang dan sendi serta kegagalan untuk tumbuh. Sebaiknya anak dengan gejala tersebut segera dibawa ke fasilitas kesehatan(*).


Kesadaran dan pengetahuan mengenai gejala tuberkulosis menjadi amat penting sebagai tahap awal untuk mengenali orang dengan penyakit tuberkulosis. Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal menunjukkan satu atau lebih gejala tuberkulosis, sebaiknya Anda segera membawanya ke fasilitas kesehatan. Pada kebanyakan kasus, penegakan diagnosis tuberkulosis dapat dilakukan di fasilitas kesehatan primer karena tidak membutuhkan pemeriksaan yang rumit. Penemuan kasus dan diagnosis dini dapat meningkatkan peluang keberhasilan pengobatan dan menurunkan peluang penularan penyakit ini.



(*) Fasilitas kesehatan yang dimaksud adalah pusat kesehatan masyarakat, dokter keluarga, klinik, atau rumah sakit.



Pengobatan Tuberkulosis: Kepatuhan, Kepatuhan, dan Kepatuhan


Penemuan kasus dan diagnosis tuberkulosis adalah satu lompatan besar, tapi pengobatan tuberkulosis adalah tantangan yang berbeda. Paket pengobatan standar tuberkulosis melibatkan beberapa obat antibiotik yang harus diminum setiap hari dalam setidaknya enam bulan. Selain durasinya yang panjang, obat-obatan tersebut juga dapat menimbulkan efek samping seperti kencing berwarna merah, mual muntah, kesemutan, dan beberapa efek samping lain yang lebih jarang. Namun, ada satu hal yang diyakini oleh praktisi kedokteran di seluruh dunia: ribetnya pengobatan sangat sepadan dengan manfaatnya. Hingga saat ini, paket pengobatan dengan kombinasi antibiotik tersebut masih menjadi tatalaksana pengobatan yang paling efektif untuk penyakit tuberkulosis. Tingkat kesembuhan penderita yang menjalani pengobatan mencapai lebih dari 80% dan bahkan beberapa laporan menyebutkan angka yang lebih tinggi.


Walaupun strategi pengobatan tuberkulosis dengan antibiotik telah ditemukan sejak sekitar tahun 1940, jumlah penderita tuberkulosis tetap tinggi. Galur bakteri yang kebal antibiotik sering menjadi kambing hitam. Hal tersebut benar, namun ada fenomena yang mungkin lebih besar dibaliknya: ketidakpatuhan terhadap pengobatan. Masalah ini menjadi besar karena ketidakpatuhan terhadap pengobatan meningkatkan risiko terjadinya tuberkulosis kebal obat sebesar 5,6 kali lipat, memperlama durasi pengobatan, dan pada akhirnya, memperbesar peluang terjadinya penularan, komplikasi, dan kematian.


Penyebab tersering ketidakpatuhan terhadap pengobatan tuberkulosis adalah penderita tuberkulosis yang memutuskan untuk menghentikan pengobatannya karena merasa gejalanya sudah membaik setelah beberapa minggu pengobatan. Perlu diingat bahwa walaupun gejala telah membaik, pengobatan harus terus dilanjutkan dalam setidaknya 6 bulan untuk memastikan tidak ada bakteri tuberkulosis yang masih bersarang dalam tubuh. Selain perbaikan gejala, penderita sering memutuskan pengobatan oleh karena efek samping yang dialaminya. Jika Anda adalah penderita tuberkulosis yang sedang menjalani pengobatan, segera komunikasikan dengan dokter Anda jika ada efek samping obat yang muncul.


"... ketidakpatuhan terhadap pengobatan meningkatkan risiko terjadinya tuberkulosis kebal obat sebesar 5,6 kali lipat, memperlama durasi pengobatan, dan pada akhirnya, memperbesar peluang terjadinya penularan, komplikasi, dan kematian."


Stigma Terhadap Tuberkulosis adalah Tantangan Kita Bersama


Perang kita melawan tuberkulosis tidak hanya menghadapinya sebagai entitas penyakit namun juga stigma yang menyelubunginya. Pada kultur kita yang sangat beragam, masih banyak kelompok masyarakat yang meyakini bahwa pengobatan lama hanya akan merusak tubuh, tuberkulosis akan cepat menular dengan bersentuhan, dan penyakit tuberkulosis adalah kutukan. Tugas kita adalah mengenalkan bahwa tuberkulosis merupakan penyakit menular namun dapat dicegah, penyakit berbahaya namun dapat diobati. Penyakit, bukan kutukan. Prasangka buruk tidak memiliki tempat dalam perang kita melawan tuberkulosis.


Jika Anda selesai membaca tulisan ini dalam 5 menit, ada sekitar 15 orang di seluruh dunia yang meninggal karena tuberkulosis. Kita dapat mengurangi angka ini mulai dengan mengenali penyakit tuberkulosis. Jika Anda mengenal seseorang dengan gejala tuberkulosis, segera sarankan untuk pemeriksaan pada fasilitas kesehatan. Jika Anda mengenal seseorang yang sedang dalam pengobatan tuberkulosis, dukung terus untuk menjalani pengobatan dengan patuh. Jika Anda adalah penderita tuberkulosis, yakinkan diri Anda untuk bisa sembuh. Terima kasih untuk terus berjuang.




Bebas Tuberkulosis:

Kepatuhan, Kepatuhan, dan Kepatuhan!





Penulis: Rio Restu Priambodo, S.Ked.

riorestup@gmail.com

Dokter Muda RSUP Dr. Sardjito


Desainer Grafis: Stephen Valentino, S.Ked.

orudoschools@gmail.com

Dokter Muda RSUP Dr. Sardjito




Referensi

  1. Barberis I, Bragazzi NL, Galluzzo L, Martini M. 2017. The history of tuberculosis: from the first historical records to the isolation of Koch's bacillus. J Prev Med Hyg. 58(1):E9-E12.

  2. World Health Organization. 2019. WHO | Barriers to successful tuberculosis treatment in Tomsk, Russian Federation: non-adherence, default and the acquisition of multidrug resistance. [daring] Dapat diakses melalui: https://www.who.int/bulletin/volumes/85/9/06-038331/en/ [Diakses pada 9 Maret 2019]

  3. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin/infodatin_tb.pdf

  4. World Health Organization. 2016. Global Tuberculosis Report. [daring] Dapat diakses melalui: https://data.worldbank.org/indicator/SH.TBS.CURE.ZS?view=chart [Diakses pada 9 Maret 2019]


Bacaan lanjut:




65 tampilan

informasi kesehatan terpercaya

  • White Facebook Icon
  • White Instagram Icon

info@healthierindonesia.org              Healthier Indonesia                healthier.indonesia